
Rina hidup bagaikan seorang yang baru mendapatkan kebebasan, selama ini dia selalu terbelenggu oleh cinta yang mematikannya.
Saat dia sadar bahwa selama ini suaminya tidak mencintainya, dia baru berpikir untuk mengakhirinya.
Saat Rina bekerja ada telpon masuk, dia tidak menyangka Tyo akan selalu menghubungi, padahal dia tidak ingin menemuinya lagi, dia takut tidak bisa lepas dari keluarga itu.
"Halo" sambut Rina.
"Assalamualaikum, Rina kamu lagi apa?"tanya Tyo basa basi.
" Saya lagi kerja Mas" jawab Rina apa adanya.
" Rina pulang jam berapa?" tanya Tyo lagi.
" Saya pulang jam 5 Mas" jawab Rina lagi.
" Ada waktu gak , kita ketemu ya bisa ya Rina, ada yang mau saya sampaikan" ucap Tyo.
" Iya, Mas nanti saya usahakan, nanti kalau saya sudah beres kerjaannya, saya telpon Mas" ucap Rina.
" Baiklah, makasih Rina kamu sudah mau menerima ajakanku" ucap Tyo lagi sebelum mengakhiri ucapannya.
Sementara ditempat lain Reza sedang gelisah dia masih kepikiran tentang Tyo, dia merasa berdosa sudah menghancurkan hidup orang lain.
Sementara Arya tidak sama pemikirannya sama dengan Reza, Arya berpikir kalau Tyo hancur karena anak dan adiknya.
Arya berusaha menghibur Reza supaya tidak merasa bersalah terus, dan Arya mengajak ke Bandung untuk ketemu Rangga dan cucunya.
Reza menyetujui, akhirnya merekapun pergi ke kota Bandung, kebetulan Rangga dan Astri ada dirumah Aisyah.
" Assalamualaikum " ucap Arya.
" Walaikumsalam" jawab orang yang berada didalam.
Aisyah gegas membuka pintunya, ternyata yang datang adalah besannya.
" Hai, apa kabar, silahkan masuk pak, nak Reza" ucap Aisyah.
" Iya bu kangen sama cucu, ternyata mereka lagi disini ya" ucap Arya.
" Betul Pak, saya kangen banget udah beberapa minggu ini jarang sekali mereka kesini" ucap Aisyah.
" Ayo Pak, kebetulan kami mau makan siang, kita makan bersama yu" ajak Aisyah.
"Mah, ada siapa" tanya Aulia.
" Ini Pak Arya dan Nak Reza" jawab Aisyah.
Aulia menghampiri mereka dan mencium tangan Pak Arya. Reza menatap tidak berkedip menatap Aulia.
" Ngedip nanti kelilipan" ucap Aulia.
" Eh, oh iya, eh ko aku jadi grogi gina lihat orang cantik" seloroh Reza.
" Emang dari dulu udah cantik, kemana aja Mas, kok baru tau aku cantik" ucap Aulia lagi.
" Iya, iya emang adek yang satu ini sangat cantik dong" ucap Arya menimpali.
" Udah yu, kita makan bareng" ucap Aisyah, menghentikan candaan mereka berdua.
__ADS_1
" Ayo kebetulan aku udah lapar banget" ucap Reza sambil melirik Aulia.
" Kamu lapar tapi kenapa kamu melirik saya" u
ucap Aulia lagi.
" Soalnya kalau lapar lihat orang cantik bisa langsung kenyang" jawab Reza.
Aulia tersenyum malu, dia melengos dan segera meninggalkan mereka, Aulia berlalu mendahului untuk ke meja makan.
Reja dan Arya mengikuti, begitupun Aisyah hanya bisa menggelengkan kepala saja.
Astri melihat mertua dan adik iparnya cepat cepat bangun, dia langsung menyalami mereka berdua.
Begitupun Rangga, dengan cepat menyambut mereka.
" Tadi kerumah dulu, apa langsung kesini?" tanya Rangga.
" Tadi kerumah, tapi gak ada orang" Reza yabg menjawab.
" Iya kami baru saja kesini, udah lama gak ketemu mamah" ucap Astri tidak enak.
" Lagian kenapa gak ngasih kabar?" tanya Rangga.
" Papah ingin buat kejutan buat kalian" ucap Arya.
Akhirnya mereka makan dengan hidmat, Aisyah merasa bahagia sebab keluarganya menjadi banyak.
Aulia menyudahi makan duluan, dia ada wawancara disebuah kantor.
Reza menawarkan diri untuk mengantar, awalnya menolak tapi bukan namanya Reza kalau tidak bisa berhasil mengajak Aulia.
Disepanjang jalan Aulia dan Reza terus saja saling olok, tidak bosan bosannya mereka bercanda.
" Mas, kenapa ke Bandung gak bilang bilang?" tanya Aulia penasaran.
" Papah yang maksa aku untuk ikut, dan katanya mau ngelamar seorang gadis buat aku" canda Reza
" Siapa Mas, apa aku kebal orangnya?" tanya Aulia.
" Kenal, kenal banget malah" jawab Reza.
" Serius, siapa Mas?" tanya Aulia lagi.
" Ini yang lagi duduk disebelah aku" jawab Reza.
" Emang boleh" tanya Aulia.
" Bolehlah, kenapa gak boleh" tanya Reza.
" Eh, emang kamu setuju kalau aku lamar?" tanya Reza serius.
" Nanti saya pikir pikir dulu" ucap Aulia.
Reza ada sedikit harapan untuk memiliki gadis pujaannya.
Ditempat yang berbeda Tyo sedang menunggu Rina, dan saat itu waktu sudah menunjukan jam 5 sore.
Sesuai dengan yang disepakati mereka bertemu di sebuah kafe langganan mereka.
__ADS_1
" Mas sudak lama" tanya Rina merasa tidak enak sebab terlambat.
" Gak ko, bari saja datang, santai saja, ayo duduk" jawab Tyo.
" Rin, Mas ingin bicara sama kamu tentang masa depan Mas" ucap Tyo tanpa diminta.
" Bicaralah Mas, Saya siap mendengarkan" jawab Rina.
" Rin seandainya Mas mau bangun usaha lagi, menurut kamu bagaimana?" tanya Tyo.
" Baguslah Mas kalau Mas mau bangkit, saya mendukung semua keputusan Mas" jawab Rina lagi.
" Alhamdulillah Rin, ada tang paling penting lagi" ucap Tyo.
" Apa itu Mas" tanya Rina.
" Tentang amanah Mba mu itu loh" jawab Tyo.
Rina langsung pucat pasi, masalahnya keluarganya semua menentang Rina.
" Mas, sebaiknya Mas cari yang lain, kayanya Mas gak mungkin bisa bersama saya" ucap Rina.
" Memang kenapa Rin?" tanya Tyo.
" Mas, keluargaku melarang berhubungan lagi dengan keluarga Mas" jawab Rina.
" Rina, yang mengerti tentang Mas, hanya kamu untuk saat ini, saya sudah tidak punya siapa siapa lagi" ucap Tyo
" Mas, bukan tidak ada tapi belum, tunggu saja pasti bakal ada yang mau sama Mas Tyo.
" Intinya kamu menolak Mas Rin?" tanya Tyo kecewa.
" Maafkan aku Mas, bukan bermaksud menyakitimu, tapi aku masih trauma dengan pernikahanku itu" jawab Rina.
" Baiklah kalau begitu, saya tidak memaksa, tapi mungkin ini adalah terakhir kita ketemu, Mas mau pindah ke pedesaan.
Mereka pun selesai berbicara, Rina undur diri terlebih dahulu, sebab dia sudah ada yang nunggu.
" Hai Mba gimana lancar" tanya seseorang itu.
" Sudah, semua lancar Alhamdulillah berkat kamu aku bisa ngomong lancar sama Mas Tyo itu.
" Sekarang kita kemana Mba, apa ada tempat yang ingin Mba singgahi" tanya seseorang itu.
" Saya suka pantai, kamu mau kan nganter mba kesana" ucap Rina.
" Aku akan selalu mau, tidak akan perempuan cantik ku biarkan di pantai seorang diri.
" Iya, kamu memang sahabat paling terbaik" ucap Rina tanpa sadar.
" Ko sahabat, aku gak mau dianggap hanya seorang sahabat" ucap Ibra lagi.
" Maunya disebut apa?" tanya Rina lagi.
" Aku ingin dianggap kekasih" ucap mereka.
Sampailah mobil yang dibawa Ibra ke tepi Pantai.
Ibra mencari tempat yang indah, kebetulan malam hari, hanya terang oleh penerangan lampu saja.
__ADS_1
" Mba kalau mau minum, Mba tunggu sini, saya akan cepat kembali ucap Ibra.