
Resmilah Aisyah menjadi seorang janda beranak dua. Anak Aisyah jatuh hak asuhnya kepadanya. Aisyah tidak menutut sepeserpun kepada Revan. Namun hakim sendiri yang memutuskan tentang harta gono gini. Disebabkan Rumah yang ditempati dulu atas bama Aisyah. Namun Revan mengajukannya menjadi harta gono gini. Padahal kalau menurut Ajaran agama yang di anut Aisyah itu sudah mutlak hak milik Aisyah sebab rumah itu diberikan Revan sebagai mahar buat istrinya.
Namun dengan kebaikan Aisyah rumah tersebut akhirnya dijual dan uangnya dibagi 2. Rumah yang tidak terlalu besar dijual dengan harga 250 jt. Aisyah mendapat setengahnya. Aisyah memanfaatkan uang itu untuk membeli rumah kembali ditambah tabungan Aisyah dari usaha Aisyah.
Aisyah tidak sedikitpun kesulitan dengan keuangan. Sebab dari hidup dengan Revan pun sering Aisyah yang menanggung kebutuhan rumah dan anaknya. Sebab uang Revan seringnya dikasih ke Ibunya dan keluarga yang lainnya. Aisyah hanya mendapat sisanya jauh dari kata cukup.
Namun Aisyah tidak mempermasalahkan itu semua. Asal Revan selalu jujur dan selalu tidak berbuat maksiat di luar sana. Sering juga waktu Revan habis dengan keluarganya, Aisyah sering ditinggal dengan alasan menjenguk Ibunya. Revan berlama lama disana tanpa membekali Aisyah dengan nafkah.
Aisyah tetap diam, jarang protes. Namun Aisyah tidak tinggal diam setelah mengetahui Suaminya menikah lagi. Aisyah cepat bertindak tanpa banyak keributan. Namun Ibunya Revan lah dan istri mudanya yang mengusik Aisyah dan terjadilah talak buat Aisyah.
Yah sudah Aisyah menyadari, semua itu atas ijin Allah. Aisyah tidak berlama lama meratapi nasib. Aisyah malah bersyukur akhirnya terlepas dari keluarga itu. Dari awal menikah saja sudah tidak bener. Menikah dengan pengganti. Awalnya bisa mengikuti lama lama banyak pihak lain ikut campur dalam pernikahannya. Penyesalan sudah terlambat.
Dilain tempat seorang pria sedang menyesali semuanya. Dia menangis tersedu. Ya dialah Revan. Revan belum pernah dalam hidup nya menyentuh minuman haram itu. Namun apa yang terjadi pada hari itu. Dia minum minuman haram itu. Dia pergi ke rumah Aisyah. Revan menggedor pintu Aisyah sambil berteriak teriak.
" Aisyah tolong buka pintunya, kamu tidak boleh meninggalkan aku, aku masih suamimu. Aku tidak pernah ingin bercerai Aisyah. Dengarkan penjelasanku, Aku dijebak Ibuku, Aku ditipu Ibuku Aisyah, tolong kembali padaku" teriak Revan tanpa tau malu.
Aisyah sungguh malau dengan kejadian itu. Aisyah mencoba telpon keamanan setempat. Aisyah tidak ingin ada keributan. Disaat Revan masih meracau bicara yang tidak jelas. Datanglah Ratiman yang memang sudah waktunya bekerja. Ratiman mendekati Revan digandengnya tangan Revan dan dibawa ketempat produksi. Kebetulan belum pada datang karyawannya. Didudukan nya Revan di sebuah kursi. " Kenapa ada apa lagi, Anda datang kesini " tanya Ratiman. " Seandainya anda ada perlu sama Ibu Aisyah jangan seperti ini, kenap Anda melakukan ini. Saya seolah tidak mengenal Anda lagi. Dulu Anda itu pria yang baik. Saya rasa anda tidak pernah menyentuh barang haram tersebut" ujar Ratiman panjang lebar.
" Mas saya menyesal, saya ingin balik lagi sama Aisyah, tolong bawa saya bertemu Aisyah " rengek Revan seperti anak kecil yang kehilangan Ibunya.
" Seharusnya Anda sadar dan berfikir sebelum melakukan pernikahan itu, Anda bicarakan apa yang menjadi masalah anda dulu sebelum pernikahan ini hancur " ucap Ratiman lagi. Walaupun usianya masih sangat muda namun Ratiman berfikir sangat dewasa. Jarang sekali dia menanggapi masalah dengan emosi.
" Mas terus saya harus apa, saya masih mencintai Aisyah " ucap Revan lagi.
" Sebaiknya untuk saat ini biarkan Ibu Aisyah untuk tenang dulu, kejadian yang tempo lalu saja masih membekas, jadi tolong Anda jangan ganggu dulu Ibu Aisyah " jawab Ratiman lagi.
" Mas saya g mau pulang sebelum ketemu Aisyah.." Revan tetap keukeuh ingin ketemu Aisyah. Dia bertahan disitu sambil masih dalam pengaruh alkohol.
Memang kalau Alkohol sudah menguasai akal sehat menjadi hilang, apapun visa dilakukannya. Kenapa agama melarang kita meminumnya. Ya itu tadi karena bisa terjadi berbagai kejahatan. Seperti pernah mendengar kisah tentang Sahabat nabi yang gemar berjudi dan berzina bertanya kepada nabi " Wahai Rasulallah, bolehkah saya berjudi, dan berzina " kata orang itu.
Nabi menjawab " Silahkan kamu lakukan itu, tapi ingat kamu jangan minum khamar"
Lalu orang itupun pergi ke tempat perjudian.
__ADS_1
Lalu dia berfikir kenapa saya harus berjudi, kan Nabi bilang judi itu haram. lalu orang tersebut tidak jadi berjudi. Lalu dia berniat berzina maka pergilah ia ketempat berzina. Diapun mengurungkan niatnya karena akal dan pikirannya bekerja, bahwa sanya zina itu dilarang. Pulanglah kembali kepada Nabi,
" Wahai kekasih Allah aku tidak bisa melakukan judi dan berzina" kata orang tersebut. " Kenapa demikian " Tanya Nabi.
" Sesungguhnya akal dan pikiranku melarang melakukan itu karena aku sudah mengetahuinya kalau judi dan zina itu dilarang" jawab orang tersebut. Nabi pun tersenyum sambil berkata " Itulah sebabnya aku melarang meminum khamar. Karena sesungguhnya khamar akan menghilangkan akal dan pikiranmu l, dan kamu tidak akan mampu mengontrol diri kamu dari perbuatan maksiat lainnya, dan semua itu dosa besar"
Itu sebuah riwayat, bila riwayat itu benar maka itu semua dari Allah Subhana Wata'ala. Namun jika adanya kesalahan dan tidak tepat dengan riwayat yang pembaca ketahui. Semua kesalahan mutlak dari diri penulis sendiri mohon dimaafkan.
Kembali lagi kepada kisah Aisyah. Revan masih tetap memaksa untuk ketemu. Namun Ratiman dengan sangat hati hati untuk mengusir Revan sebab sebentar lagi pegawai akan segera datang. Dan Ratiman tidak ingin ngambil resiko untuk mempertemukan Revan dan Aisyah.
Dengan bantuan pemerintah setempat akhirnya Revan pulang juga. Ratiman bisa melanjutkan aktivitasnya kembali. Ratiman sebelum pergi untuk mengirim barang mengecek dulu keadaan Aisyah dan anak anaknya. Dia khawatir Aisyah ketakutan akan kedatangan Revan tadi.
" Assalamualaikum" Salam Ratiman.
" Walaikumsalam " jawab Aisyah sambil cepat membuka pintunya.
" Mas sudah pulang Mas Revan Nya " tanya Aisyah lagi sambil wajahnya penuh kekhawatiran.
" Ibu dan anak anak perlu apa biar saya belikan ? sebelum saya pergi kirim barang " tanya Ratiman lagi.
" Mas beli kan saja makanan siap saji buat hasan dan saya, kalau buat Astri tolong beli Pampers ya, kebetulan habis. Saya belum sempat ke supermarket " jawab Aisyah. Aisyah sungguh merasa tertolong sekali dengan adanya Ratiman. Semua yang dia butuhkan dengan mudah di dapatkan sebab Ratiman selalu siap siaga.
Kalau mau pulang kerja Ratiman akan selalu bertanya kebutuhan apa yang Aisyah saat ini butuhkan. Sungguh karyawan yang sangat baik juga perhatian dan penuh kasih sayang
Ratiman kelahiran asli Cilacap, saat dia datang bekerja ditempat Aisyah dia berumur 18 tahun. Ratiman bekerja saat Aisyah mengandung anak pertama. Sifat Ratiman sangat baik dan sopan. Tidak pernah dia urang ajar sedikitpun sama Aisyah. Padahal selama bekerja Ratiman lah yang selalu mendampingi Aisyah kemanapun Aisyah pergi. Selain supir Ratiman dipercaya pengiriman dan pengadaan barang. Penyediaan bahan baku. Itu semua tanggung jawab Ratiman. Namun tidak pernah sekalipun Ratiman memanfaatkan kekuasaannya.
Dia selalu ada buat Aisyah, kasih sayangnya melebihi suaminya. Umur Aisyah san Ratiman berbeda 5 tahun, saat ini Aisyah berumur 26 tahun. Ratiman berumur 21 tahun. Namun kedewasaan tidak bisa diukur dengan umur. Terbukti dengan Revan yang umurnya sudah hampir mencapai 40 tahun. Revan tidak mampu mengambil keputusan yang bijak. Yang ada dia malah kehilangan istri tercintanya.
Ratiman tidak pernah meninggalkan kewajibannya. Dwia selalu menjaga dirinya dengan baik, sekalipun dia perantau namun dia mampu membawa dirinya dengan baik. Aisyah sangat suka dengan kejujurannya. Makanya Aisyah tidak sayang untuk memberi bonus pada Ratiman.
Sepulangnya dari rumah Aisyah Revan masuk kekamarnya taunya Suneri masih tidur. Makanan belum ada, rumah acak acakan. Suneri yang nota bene anak manja dan masih sangat muda. Dan Revan lah yang selalu memanjakan nya. Maka sekarang Revan sendirilah yang menuai hasil didikannya .
Revan ingin berteriak. Dia tidak mampu, dia sangat menyayangi Suneri, namun dia harus mengeluarkan emosinya pada siapa. Sejak Revan menyentuh Suneri waktu itu, tidak pernah lagi Revan menyentuhnya rasa sayang pada adik yang ia rasakan bukan pada pasangan. Menyesali tiada guna. Revan hanya bisa terduduk dan menangis seorang diri. Revan sungguh kacau, Usahanya banyak dia abaikan. Semua berdampak buruk.
__ADS_1
Konveksi yang dia rintis bersama Aisyah lama lama ditinggalkan oleh pelanggannya. Semua kesalahan yang dibuat Revan, para karyawan pun banyak yang angkat kaki dari sana.
Tinggal beberapa orang saja yang bertahan. Itu juga nanggung karena menyelesaikan order yang sudah lama terbengkalai.
Waktu pengupahan tiba, Revan bingung sebab uangnya sudah habis, uang hasil penjualan rumah diambil Ibunya. Biasanya kalau masa pengupahan kalau Revan uangnya belum ada Aisyah lah yang menghandle dulu, dengan uang Aisyah sendiri. Tapi sekarang sama siapa dia harus meminjam. Belum cicilan bank datang.
Revan sungguh kesusahan. Karyawan semua pada pergi karena Revan sudah 2 bulan tidak membayar upahnya. Akhirnya kepala karyawan memutuskan menjual aset aset yang ada di konveksi, Uangnya ia tidak kasih ke Revan, tapi untuk menutup upah kepada karyawan, dan membayar utang utang Revan.
Akhirnya bisnis Revan hancur. Suneri marah besar. Sudah rumah ngontrak, Revan dikejar kejar bank. Dan dia pengangguran. Ibunya tidak mau tau, setelah menyerahkan Suneri dan mengambil uang hasil penjualan rumah, ibunya pulang kembali ke tempat asalnya. Dan dia menggunakan uangnya untuk foya foya sama berondong.
Uang segitu tidak sampai sebulan habis tak tersisa. Ibunya Revan kebingungan akhirnya dia memutuskan untuk jadi tukang pijat. Sekalipun udah berumur Ibunya Revan masih kuat untuk memijat. Malah dia masih suka daun muda. Sudah tua bukan bertaubat malah tambah parah.
Akhirnya Ibunya Revan jadi mucikari, dia menjual anak gadis yang dia ambil dari kampung. Hidupnya Ibunya Revan sudah melenceng jauh. Anak yang diambil dari kampung rata rata berumur 18 tahun.
Ibunya Revan sekarang menetap di Kalimantan. Dia punya tempat hiburan karaoke, dan panti pijat plus plus.
Kita tinggalkan dulu Ibunya Revan.
Revan sekarang sangat kesulitan, untuk makan pun dia bekerja ikut Alan adiknya. Membantu bila Alan ada job. kalau Alan tidak ada job, ya sudah akhirnya Revan tidak punya uang.
Begitulah kisah Revan sebaliknya dengan kisah Aisyah yang semakin bersinar usahanya. Dia mengekspor hasil produksinya. Tadinya hanya satu negara berkembang menjadi dua negara. Sekarang Aisyah semakin sibuk dan karyawan pun bertambah.
Aisyah sudah membeli rumah sekalipun sederhana, namun sangat Nyaman Dan Aisyah sudah punya kendaraan pribadi selain kendaraan untuk operasional. Usaha Aisyah sudah maju pesat. Hidupnya sekarang makmur. Para sahabatnya Alea, Yuli tidak pernah meninggalkannya. Apa lagi Alea selalu ada buat Aisyah baik saat suka ataupun duka.
Alea sudah dikaruniai anak 2, Suami Alea masih teman bisnis nya Aisyah. Jadi meraka cukup akrab dan semakin solid. Anak Aisyah tumbuh dengan baik. Namun setiap kehidupan tidak ada yang sempurna. Hasan tumbuh menjadi anak yang temperamen, dia selalu berbuat masalah, baik dirumah , ataupun di sekolah nya. Hasan sudah masuk Tk. Dia selalu bikin teman temannya menangis. Sering Aisyah didatangi orang karena ulahnya Hasan. Ratiman lah yang suka membantu Aisyah membereskan masalahnya.
Nah para pembaca sekian dulu bab ini. Nanti kita lanjutkan kisah Aisyah. Dan di bab yang akan datang akan diceritakan kisah Dwi juga yang kembali mengejar Aisyah.
Yo nantikan kisah selanjutnya konflik semakin
komplek .....Selamat membaca.
Bersambung
__ADS_1