Perjalanan Seorang Gadis Miskin

Perjalanan Seorang Gadis Miskin
Hati yang rapuh


__ADS_3

Aisyah sungguh bimbang, apa yang harus dijawab, sementara Dwi sangat menunggu jawabannya, Aisyah akhirnya memutuskan untuk sholat istikharah minta jawaban sama Yang Maha Kuasa, yang maha membolak balikan hati manusia.


Pada malam tiba, Aisyah mulai melaksanakan sholat istikharah, dia bener bener berdoa meminta padanya supaya dikasih jawaban yang terbaik, bukan tanpa sebab Aisyah bimbang, sikap keluarganya Dwi lah yang membuat Aisyah tidak sanggup membuka hatinya, dan tidak mau ber andai andai, Aisyah sangat paham dengan segala situasi, karena Aisyah gadis yang sangat cerdas, juga gadis yang bersahaja.


Saat pagi tiba Aisyah melakukan semua rutinitasnya, dari mulai menyiapkan makanan, beres beres rumah, dan pada akhirnya Aisyah berangkat kerja, namun diperjalanan Aisyah diberhentikan orang yang naik vespa. Aisyah tau siapa orang yang memberhentikannya, lalu dia diam menunggu apa yang akan diperbuat sama si pemotor tersebut.


" Syah, ayo aku antar, kebetulan aku ada kerjaan ke arah sana " ajak Dwi, ya tadi itu Dwi siapa lagi yang memang sengaja menunggu Aisyah pergi kerja, Dwi terus berusaha mendekati Aisyah.


" G usah, deket ini saya mau jalan kaki aja" jawab Aisyah karena emang tempat kerja Aisyah itu dekat dengan rumah Aisyah. Namun bukan Dwi namanya kalau tidak bisa memaksa Aisyah untuk ikut, dan akhirnya ikut juga.


Sampailah ditempat kerja Aisyah, Aisyah turun dari motornya Dwi, " makasih ya Kak untuk tumpangan nya " ujar Aisyah.


"Sama sama, pulang saya jemput ya, biar kamu g cape harus jalan kaki " jawab Dwi.


" G usah Kak saya mau langsung kursus, nanti malah merepotkan," sahut Aisyah lagi.


"G ko tenang aja nanti pulang jam 4 kan, saya udah disini ya " sahut Dwi lagi, Aisyah tidak menjawab tapi dia hanya meng anggukan kepalanya saja, karena Aisyah pikir menolak pun percuma, " ya suda Syah aku berangkat dulu ya, sampai nanti sore ya " seru Dwi sambil tersenyum dan berlalu dari hadapan Aisyah.


Aisyah tidak mau dipusingkan dengan kejadian tadi. Aisyah berusaha bekerja dengan baik. Agar dia mampu mendapatkan uang yang cukup supaya dia bisa kuliah.


Saat Aisyah lagi konsentrasi kerja tiba tiba Aisyah dipanggil sama atasannya.


" Aisyah, kamu dipanggil tuh sama Ci Yeni " seru temannya.


" Oh iya sebentar saya matiin dulu mesinnya " jawab Aisyah, lalu Aisyah bergegas menghadap atasannya, " bu, apa ibu manggil saya " tanya Aisyah.


" Sini Aisyah, duduk disini " ujar atasannya.


" Ya bu, apa saya buat kesalahan " tanya Aisyah lagi sambil sedikit khawatir, sebab Aisyah selama bekerja selalu hati hati, dia berusaha tidak melakukan kesalahan.


" Aisyah, saya dengar kamu kursus ya, emang kursus apa? " tanya atasan Aisyah lagi.


" Oh saya kursus akuntansi bu " Aisyah menjawab sambil menunduk karena bener bener merasa sangat khawatir.


" Kapan lulusnya " tanya atasannya lagi.


"Minggu depan kebetulan ujian bu, mungkin kelulusan bisa bulan depan " jawab Aisyah.


"Ya sudah kamu mulai besok jangan jadi operator lagi, saya pindahkan kamu di bagian adminstrasi saja " ucap atasannya.


Aisyah tidak bisa menjawab, namun hatinya sangat tidak percaya. Dia orang baru merasa bahagia iya, namun ada ganjalan sedikit. Aisyah merasa kurang pede karena dia belum ada pengalaman. Namun Aisyah gadis yang tangguh dan pekerja keras jadi dia menjawab dengan semangat " baik bu, terimakasih.


" Besok kamu langsung ke lantai dua saja ya "


" Baik bu " akhirnya sedikit demi sedikit apa yang di cita citakan nya bisa tercapai.


Keesokan harinya Aisyah dengan semangat yang membara, untuk bekerja karena Aisyah akan menduduki meja staf bukan lagi operator. Dia belum memberitahukan kepada siapapun. Dia khawatir dengan kemampuannya, Karena ini adalah pengalaman pertamanya untuk jadi seorang staf kantor sekalipun hanya baru bagian administrasi.

__ADS_1


Tapi bagi Aisyah itu sudah menjadi satu pencapaian yang membanggakan dirinya, Aisyah datang pagi pagi sekali karena dia kesiangan. Dan alhasil bener bener dia paling pagi datang, dia langsung ke lantai dua menemui atasannya, " pagi bu " " pagi Aisyah.


"Masuk sini, ini meja kamu ya. Kamu mencatat semua barang keluar masuk gudang, coba kamu pelajari dulu. Nanti kalau ada yang kurang faham boleh tanya saya " kata atasan Aisyah.


"Baik bu " jawab Aisyah, Aisyah pun mencoba mempelajari kerjaan barunya, karena kecerdasannya semua bisa dikerjakan dengan mudah tanpa ada kendala yang ber arti.


Singkat cerita tibalah waktu pulang, Aisyah membereskan semuanya, dia pulang dengan cepat, namun diluar kantor sudah ada yang menunggunya, siapa lagi kalau bukan Dwi,


Aisyah mau tidak mau harus mengikuti kemauan Dwi.


" Ayo syah, pake helmnya," Aisyah hanya menurut saja, selama diperjalanan Aisyah tidak bicara. Aisyah heran kenapa ko jalannya bukan ke jalan yang arah ke rumah, ini malah berbeda arah.


"Mau kemana kak " tanya Aisyah sambil sedikit dongkol, sebab tanpa meminta persetujuan dia, Dwi langsung saja membawa Aisyah, padahal Aisyah sudah cukup lelah dengan kerjaan baru yang juga cukup banyak. Dia ingin cepat istirahat.


" Kita ke rumah kakakku dulu ya sebentar " ujar Dwi, Aisyah pasrah mau bagaimana lagi Dwi orang g bisa dibantah.


sampailah mereka dirumah kakaknya Dwi, dirumah teh Wiwin.


"Assalamualaikum teh" Dwi mengucapkan salam,.


"Walaikumsalam " jawab yang ada dirumah


tersebut, " eh mari masuk, sama siapa Wi?" tanya teh Wiwin.


Aisyah sangat gugup, sebab Aisyah sangat takut dengan keluarga Dwi,


"Makasih kak, kebetulan saya tadi baru makan " bohong Aisyah, padahal dirinya g berani makan dengan keluarga Dwi.


" Oh ya udah tunggu ya kita beresin dulu makannya " sahut kakaknya Dwi.


Akhirnya mereka duduk diruang tamu ngobrol ringan awalnya.


Namun tiba tiba Dwi ngomong ke Kakaknya, " teh boleh g aku mau ngomong serius ke teteh " kata Dwi.


" Emang mau ngomong apa " tanya kakaknya Dwi.


" Teh aku seandainya aku ngelamar Aisyah menurut teteh gimana ? " ujar Dwi lagi. Kakaknya Dwi kaget, begitu pun Aisyah,l. Dia bener bener tidak menyangka Dwi akan nekad seperti itu.


" Emang kamu sudah yakin sama Aisyah " tanya Kakaknya Dwi.


"Ya udahlah makanya ngomong sama teteh " ucap Dwi lagi.


Aisyah hanya menunduk tidak berani mengangkat kepala, kekhawatiran dirinya sungguh akan terjadi.


" Yakin lah teh, kan teteh atau siapa yang selalu dicintai aku".


"Ya kalau kamu yakin silahkan saja cuma kamu berani g bicara sama ibu dan bapak, " ujar kakaknya Dwi lagi.

__ADS_1


"Justru itu aku g berani, belum apa apa ibu sudah menentangnya, tapi aku mau teteh aja sebagai saksi seandainya aku nanti nikah sama Aisyah " sahut Dwi lagi, dia mengaggap semuanya mudah. Dia tidak berpikir resikonya ke depan, nikah dianggap gampang.


"Ya sudah nanti teteh pikirin mau ngobrol dulu sama masmu Wi " jawab kakaknya Dwi. Pusing punya adik satu satunya suka memaksakan kehendak, susah untuk ditolak kalau sudah ada kemauan. Akhirnya Aisyah pun pulang.


Diperjalanan pulang Aisyah bicara, " Kak ko jadi gini, orang saya aja belum jawab, main nikah nikah saja" seru Aisyah sambil menampakkan wajah juteknya. Dia g suka terburu buru, cita citanya masih panjang. Baru saja diangkat dikantornya, eh sudah diajak nikah saja.


"Syah percaya sama aku, kalau nikah itu baik, daripada pacaran kan dilarang dalam agama juga".


"Iya tapi g secepat ini umurku aja masih 18 tahun kak" Aisyah bener bener merasa sangat putus asa, menghadapi orang kaya Dwi.


" Terus mau kamu apa" tukas Dwi, " emang kamu g suka ya sama aku, g cinta, mungkin cuma aku yang cinta sama kamu, gitu kan " seru Dwi sambil sedikit emosi.


" Loh ko Kakak marah, bukan begitu saya bukan ka suka sama Kakak, tapi saya takut sama ibu bapaknya Kakak" akhirnya Aisyah jujur juga sama Dwi.


" Emang apa yang sudah ibu aku katakan sama kamu Syah " tanya Dwi


Flash back on


Pada saat Aisyah ke rumahnya Dwi, mau pamit tidak bisa kerja lagi di rumahnya Dwi, Aisyah sempet kena maki ibunya. Dikatakan Aisyah gadis miskin yang sombong, padahal Aisyah hanya mengatakan mau bekerja di sebuah perusahaan. Aisyah dihina habis habisan. Disebut gadis yang tidak tau diri. Terus pernah juga dihina sama pamannya, dan disuruh menjauhi Dwi. Pada saat itu Aisyah tidak terlalu peduli, karena dia pikir Dwi g akan mengejar, jadi Aisyah santai saja.


Kembali ke masa sekarang, Aisyah akhirnya menceritakan semua kepada Dwi daripada jadi ganjalan untuk kedepannya, Aisyah memberi syarat sama Dwi, Aisyah mau menerima seandainya keluarga Dwi merestuinya. Jika tidak Aisyah menolaknya. Dwi hanya bisa menghela nafas, karena kalau boleh jujur itu sangatlah sulit buat dia. Aisyah tidak disukai oleh keluarganya. Namun Dwi sangat mencintainya. Dwi bener bener dibuat bingung.Namun Dwi akan tetap berusaha. Supaya dapat restu keluarganya, Dwi sudah bertekad seandainya dia tidak direstui dia mau ngajak nikah Aisyah tanpa restu keluarganya, yang penting Ibunya Aisyah setuju. Itu tekad seorang Dwi yang sangat susah ditolak setiap keinginannya.


Sesampainya dirumah, Aisyah sudah sangat sumpek hatinya, dia bener bener merasa makan buah simalakama, maju kena mundur kena. Mau bilang ke Ibunya pun tidak berani. Karena Aisyah sangat yakin Ibunya pun akan melarang berhubungan dengan Dwi, sebab Ibunya Aisyah sangat tau sifat keluarganya Dwi. Kalau untuk memilih pasangan harus yang satu level dengan keluarganya. Kalau Aisyah apa, hanya gadis miskin yang tidak punya Ayah. Sudah beruntung Aisyah bisa sekolah juga, dengan segala keterbatasannya.


Aisyah berfikir terus dia harus bisa melakukan sesuatu supaya Dwi tidak mengejarnya. Namun apa bisa dikata setiap mau pergi kerja Dwi sudah menunggunya. Mau tidak mau Aisyah harus mengikutinya. Aisyah susah menolak Dwi, kalau ditolak Dwi marah, Aisyah sangat takut dengan kemarahan Dwi. Emosi Dwi yang kadang susah dibendung, menjadi bumerang buat Aisyah.


Aisyah berfikir terus, namun Aisyah tetap harus konsen dalam pekerjaan, juga kursusnya, akhirnya Aisyah mengambil sikap untuk tidak dulu mikirin masalah Dwi, dia konsen dulu kerjaannya, dan kursus ya, dia bertekad lulus dengan angka yang sangat memuaskan.


Tidak terasa waktu ujian pun tiba ,Aisyah mengikutinya dengan antusias, Aisyah sudah sangat siap dengan ujiannya, hari demi hari dilaluinya dengan berseri, bersemangat untuk mencapai yang terbaik. Maka tibalah pengumuman kelulusan. Aisyah menjadi terbaik ke 3 ,nilainya hampir semua A kecuali pelajaran umum B, Aisyah berbahagia sekali. Dia pulang dengan berseri seri. Aisyah ingin segera menunjukan kepada Ibunya dengan pencapaiannya.


Sesampainya di rumah, Aisyah dengan tidak sabar memanggil ibunya, " bu Aisyah sudah lulus bu" seru Aisyah.


"Alahamdulillah Syah sekarang kamu bisa konsen kerja, tidak usah cape cape lagi" sahut ibunya.


" Iya ibu Aisyah sekarang mau berusaha bekerja dengan giat, dan memberikan hasil yang memuaskan kepada perusahaan" sahut Aisyah lagi, " ya sudah kamu makan dulu gih, ibu udah masak.


" Iya bu, sebentar Aisyah ganti baju dulu" ujar Aisyah, sambil berlalu ke kamar. Setelah itu Aisyah melanjutkan makan sambil tersenyum terus sebab dia merasa bahagia dengan prestasinya.


Pagi harinya, Aisyah dengan bersemangat bekerja, dia membuktikan apa yang diucapkan pada ibunya.


Dan hari cepat berlalu 3 bulan sudah Aisyah sudah bekerja sebagai staf kantor. Aisyah dipanggil lagi Bos besar, bukan lagi atasannya. Dia langsung berhadapan dengan Bos besarnya, Aisyah diangkat menjadi staf akunting. Aisyah sungguh sangat bersyukur dalam waktu singkat dia bisa mencapai apa yang dia cita citakan. Mungkin masih panjang harapan Aisyah untuk lebih maju lagi. Namun dibalik semua kebahagiannya ada satu ganjalan yang sangat menguras pikiran Aisyah.


Sementara ditempat lain Dwi sangat murka, sudah hampir 1 bulan Aisyah menghindarinya. Dia sulit bertemu Aisyah. Dia berusaha kerumahnya, ternyata Aisyah belum pulang, padahal bukan belum pulang. Aisyah saat pulang kerja jarang ke rumahnya dia langsung ke pesantren. Sengaja untuk menghindari Dwi. Aisyah sangat takut sama Dwi, sebab Dwi sulit sekali ditolak, Dwi selalu memaksa Aisyah. Aisyah berusaha tidak pulang ke rumah sore sore. Dia akan pulang jam 10 malam supaya tidak bertemu dengan Dwi. Namun apa dikata kalau takdir harus ketemu pada akhirnya ketauan juga. Dwi menyusul ke pesantren dan menunggu sampai Aisyah pulang.


Disinilah Aisyah dan Dwi, duduk ditempat penjual soto, Dwi sengaja ngajak.makan Aisyah dan ingin meminta kepastian jawaban Aisyah. Aisyah bertanya, apa keluarganya sudah memberi restu. Ternyata jawabnya yang sudah bisa dipastikan oleh Aisyah. Keluarganya menentang habis habisan. Namun Dwi berjanji akan membuat Aisyah bahagia, akan bertanggung jawab pada Aisyah. Aisyah yang hatinya sangat rapuh kalau sudah berhadapan sama Dwi akhirnya menyetujui semua rencana Dwi.


Nantikan kisah selanjutnya, apa yang akan direncanakan Dwi dan Aisyah, tunggu kisah selanjutnya

__ADS_1


__ADS_2