Perjalanan Ziya

Perjalanan Ziya
23. Perjalanan Ziya


__ADS_3

Hari ini mereka berangkat menuju Indonesia.. Kemarin, mamah mertuanya Ziya sudah belanja oleh oleh untuk keluarga di Indonesia, mulai dari makanan, aksesories sampai pakaian.. Tak lupa juga membelikan munkena untuk ibu dan adiknya Ziya, munkena yamg terbuat dari sutra asli yang sangat lembut dan nyaman di pakai..


Mereka sampai di bandara Soekarno Hatta.. Lalu mereka menunggu keberangkatan menuju Surabaya.. Jam keberangkatan masih 2 jam lagi.. Mereka ke kedai kopi di bandara sembari menunggu keberangakatan.. Nisrine yang sedari tadi lemas karena perjalanan jauh pun ia hanya bisa memejamkan matanya saja sembari menyender di bahu sang papah..


"Kamu mau minum apa?" tanya Ziya


"Air mineral saja ka, badanku lemas sekali" kata Nisrine


"Kamu kuat untuk menuju pesawat nanti? mau kakak sewakan kursi roda?" tanya Shaijiee


"Tak perlu, masih kuat kalau berjalan" jawab Nisrine


Ziya kembali membawa air mineral untuk Nisrine, ia bersyukur memiliki kakak ipar yang baik..


Jadwal keberangkatan hampir tiba, mereka telah memasuki pesawat untuk melanjutkan penerbangannya..


Ziya sangat senang sekali, ia bisa pulang lagi ke kampung halamannya..


Sesampainya di Surabaya, mereka telah ditunggu oleh beberapa santri putra yang bertugas menjemput mereka..


"Assalamualaikum ning" kata santri


"Wa'alaikumussalam" jawab mereka


"Mari ning saya bantu" kata santri A


"Tolong bantu yang di bawa mertua saya yaa sama yang dibawa adik ipar saya" kata Ziya


Para santri akhirnya membantu Ziya dan yang lainnya..


"Bagaimana keadaan pesantren?" tanya Ziya pada santri


"Alhamdulillah baik ning, ning sehat kan?" tanya santri


"Alhamdulillah sehat" jawab Ziya


"Mah pah, ini adalah siswa di pesantren milik yayah Ziya.. Mereka adalah anak pengabdian yang mengabdikan dirinya untuk pesantren, mereka mengajar disana" kata Ziya kepada mertuanya


"Ohh, baik sekali yaa" kata papah


"Iya pah, mereka anak anak yang rajin dan pandai" kata Ziya


"Mamah ingin meminta pendapat dari ayah kamu tentang Nisrine, apa yang harus kami lakukan" kata mamah


"Nanti kita bicarakan dengan keluarga Ziya ya mah" kata Ziya


Sesampainya di pesantren, mereka di sambut dengan alunan musik marawis.. Mereka serasa di hargai dan di hormati.. Penyambutan yang luar biasa bagi orang tuanya Shaijiee..

__ADS_1


"Assalamualaikum, selamat datang di rumah kecil kami" kata yayah Afnan


"Wa'alaikumussalam, Masya Allah.. Ini rumah besar bukan rumah kecil.. Ini istana" kata papah


Mereka bicara dengan bahasa arab yaa..


Mereka masuk kedalam rumah, dan barang barang mereka dibawa santri putri untuk dibawa ke kamar yang akan mereka tempati..


"Alhamdulillah akhirnya bisa berkunjung juga kerumah kami pak" kata Afnan


"Alhamdulillah, senang rasanya saya dan keluarga bisa bertemu dengan keluarga besar besan" kata papah


Di ruang tamu ada gus Afnan, Shahia, Gus Arkan, Nida dan para anak anak mereka, kecuali gus Munawir karena sedang berada diluar pesantren..


Gus Munawir dan putri sudah kuliah yaa, mereka seumuran dengan Nisrine..


Putri sebelumnya Aliyah disini, tetapi Munawir memilih sekolah SMK negeri..


Setelah mereka berbincang bincang, barulah ke pembicaraan inti, yaitu papah meminta pendapat dari gus Afnan mengenai Nisrine yang hamil diluar nikah..


"Ada 2 pendapata, ada yang bilang membolehkan wanita itu menikah saat keadaan hamil, dan ada yang membolehkanya saat wanita itu telah melahirkan.. Tinggal gimana kitanya saja.. Tapi saran saya lebih baik setelah melahirkan.. Karena anda tau sendiri di era zaman sekarang apalagi kita sebagai muslim jika hamil diluar nikah, omongan masyarakat sangatlah buruk.. Bahkan ada yang sampai mencap anak itu adalah anak haram.. Tak ada anak yang haram, mereka semua suci sekalipun mereka keluar dari hasil tanpa pernikahan.. Yang haram itu perbuatan orang tuanya, bukan anaknya.. Anaknya tak ada dosanya" kata Afnan


"Masalahnya juga sekarang belum diketahui siapa ayah dari anak ini, maksud saya kita belum bertemu.. Ia seolah hilang ditelan bumi" kata papah


"Shaijiee sudah mencari tau, tapi tidak ada hasilnya yah" kata Shaijiee ke Afnan


"Kasihan sekali kalau anak ini lahir tidak ada orang tua lengkapnya" kata Afnan


"Tidak boleh, aku ingin tetap bersama anakku" kata Nisrine


"Tapi kan kesian anak ini tidak memiliki ayah, dia akan tetap memanggil kamu ibu walau nanti dia tinggal bersama kami" kata Ziya


"Nak, jangan ampil keputusan sendiri" kata Shahia lembut


Disaat mereka mencari jalan keluar untuk masalah ini, tiba tiba ada seseorang yang masuk dan membuka suaranya..


"Nawir siap menjadi ayah untuk bayi itu" kata Munawir tiba tiba


"Nawir" saut Nida dan Arkan


"Nak jangan main main, ini masalah besar" kata Nida


"Tapi Nawir ikhlas mi lakuin ini" kata Nawir


"Nak, dengerim abi" kata Arkan


"Nawir sudah dengar semuanya, kesian anak itu.. Dia butuh sosok orang tua yang lengkap" kata Nawir

__ADS_1


"Bukan hanya masalah kamu menjadi seorang ayah, tetapi apa kamu sudah mampu dalam hal materi?" tanya Afnan


"Yayah, abi.. Nawir mampu, walau dengan penghasilan seadanya.. Nawir rela berhenti kuliah dan fokus bekerja demi anak dan wanita ini" kata Nawir


Nawir sudah memiliki bengkel motor, karena ia suka sekali dengan sepeda motor.. Makanya ia mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit akhirnya jadilah sebuah bengkel walau pun tidam besar..


Setelah pembicaraan yang amat serius dan Nawir kekeh, akhirnya keluarga menyetujuinya.. Dan mereka sepakat untuk menikah setelah Nisrine melahirkan..


"Nisrine mau kan tinggal disini?" tanya Nida


"Nisrine akan ikut kemanapun suami Nisrine nantinya" jawab Nisrine


"Alhamdulillah" jawab mereka serentak


Mamah dan papah Nisrine menangis berterimakasih kepada keluarga Ziya yang mau menerima Nisrine dengan tangan terbuka..


Mulai saat itu, Nisrine diajarkan berbahasa Indonesia, karena Nawir pusing jika harus berbicara bahasa arab terus.. Baginya kalau sudah berbicara bahasa arab, sama saja memutar otaknya untuk berfikir dan membuat dia menjadi lemot.. Tapi walaupun begitu, Nawir tetap berusaha berbicara bahasa arab sampai nanti Nisrine pandai berbahasa Indonesia..


Nawir dan Nisrine sedang berada di halaman rumah, mereka berbincang bincang ringan.. Mulai dari makanan kesukaan, warna dll..


"Apa kamu bersedia tinggal di Indonesia? aku hanya tukang bengkel motor yang pendapatannya tak seberapa.. Aku hanya takut nanti kamu tidak terbiasa.. Kamu selalu hidup berkecukupan" kata Nawir


"Justru aku yang seharusnya bertanya, apa kamu bersedia menerima aku yang hina ini?" tanya Nisrine


Nawir hanya tersenyum


"Kalau aku tak mau bersedia, buat apa aku mengajukan diri.. Aku sudah melihatmu dari awal kamu datang.. Aku merasa kalau kamulah takdirku.. Sempat kaget saat tau kamu sedang hamil.. Ya mungkin memang Allah memberikan aku jodoh seperti itu.. Beli 1 dpt 2 hahahah" kata Nawir


"Terimakasih banyak" kata Nisrine malu


"Aku lelaki tak sempurna.. Aku hanya lelaki miskin yang penuh dosa.. Terimalah hati dan cintaku dengan ikhlas dan mari menua bersama" kata Nawir


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2