
keluarga pihak Nawir sudah tiba dirumah sakit.. Tak berselang lama, terdengar suara bayi menangis menandakan bahwa Nisrine telah melahirkan..
Nawir begitu senang, ia melihat secara langsung bayi yang baru saja lahir ke dunia..
Dokter yang berada disana membersihkan tubuh bayi, tak lama kemudian membawa bayi itu kepada Nawir.. Nawir memberikannya kepada Nisrine yang masih terbaring karena sedang dijahit kembali oleh dokter..
"Lihatlah, dia cantik seperti dirimu" kata Nawir lembut
"Terimakasih" kata Nisrine
"Tidak, justru aku yang berterimakasih, karena kamu telah memberikan aku seorang anak yang sangat cantik" kata Nawir
Nawir memberikan bayi itu kepada dokter lagi.. Nawir keluar menemui keluarganya..
Pertanyaan langsung ditodongkan kepada Nawir..
Nawir menjawab satu persatu pertanyaan dari keluarga..
Mereka mengucap syukur karena bayi dan ibunya selamat dan sehat..
Mamah Nisrine meneteskan air matanya, ia bahagia sekarang ia telah memiliki cucu begitupun papahnya Nisrine..
"Sekarang kamu sudah mempunyai anak, sayangi anak itu, rawatlah dengan penuh kasih sayang, kasihlah pendidikan yang terbaik" nasihat gus Afnan
"Iya yaaah" jawab Nawir
Suster memberi tahu Nawir untuk segera keruangan administrasi untuk pembayaran..
Nawir berjalan mengikuti suster tersebut..
Saat tiba di ruangan administrasi, Nawir melotot melihat angka yang tertera..
Harga lahiran normal memang terbilang cukup murah, walau tak semurah di Indonesia, tetapi ini benar benar diluar dugaannya..
"Maaf sus, apa ini tidak salah?" tanya Nawir
"Tidak tuan, pihak keluarga meminta kamar kelas VVIP untuk nyonya Nisrine dan bayinya agar bisa satu ruangan" jawab suster
__ADS_1
Nawir langsung lemas, ia duduk di dekat ruangan administrasi sambil memegang kertas tersebut..
"Uang dari mana ya Allah? Nawir gak punya uang sebanyak itu." lirih Nawir
"Lagian kenapa gak bilang dulu sih kalau mau di ruangan VVIP.. Masa iya, Nawir gadain anak Nawir" pikir Nawir
Ya kali anak mau di gadai 😅
Ziya dan Shaijiee menyusul Nawir ke ruangan administrasi karena Nawir tak kunjung kembali sedangkan Nisrine juga sudah dibawa keruang rawat..
"Nawir.. Ada apa?" tanya Ziya dan Shaijiee
"Tu Ziya, ane gak punya uang sebanyak ini" kata Nawir dengan bahasa Indonesia
Ziya mengambil kertas tersebut.. Ia tersenyum melihatnya..
"Sayang, bisakah aku meminta uang?" tanya Ziya
"Kenapa? apa biayanya kurang?" tanay Shaijiee
"Tidak sayang, uang Nawir cukup ko.. Hanya saja, Nawir kan butuh banyak uang buat keperluan dia, Nisrine dan baby kedepannya.. Jadi aku minta tolong untuk kamu bayarin biaya rumah sakit ini" kata Ziya
"Owhh tak masalah.. Berapa totalnya?" tanya Shaijiee
"Ty ane gak enak kalau gini.. Seharusnya ini tanggung jawab ane" kata Nawir
"Sudahlah, tenang ajaaa" kata Ziya
Shaijiee membayar seluruh biaya persalinan Nisrine..
Lalu mereka ke kamar rawat Nisrine bersama..
Di buka pintu kamar itu, terlihat para orang tua sedang memuji kecantikan anaknya Nisrine..
"Apa sudah di adzankan?" tanya Nawir
"Sudah, tadi yayah Afnan yang mengadzankan" jawab Nida
__ADS_1
"Syukurlah untungnya bukan abi Arkan" ceplos Nawir
Ingin rasanya gus Arkan berkata kasar, namun banyak orang akhirnya ia tahan rasa kesal itu..
Nawir yang melihat abi nya menahan amarah, hanya tersenyum meledek..
Bisa bisanya punya anak begini modelnya batin gus Arkan
"Oh iya, namanya siapa wir?" tanya Shahia
"Nawir terserah Nisrine saja buu" jawab Nawir
"Siapa nama anak kamu ini sayang?" tanya mamah
"Dilara, yang artinya kekasih." jawab Nisrine
"Iyaa setuju, Dilara.. Kekasih.. Nawir ingin ia menjadi kekasih Nawir, malaikat kecilnya Nawir.. Nawir lah cinta pertamanya" kata Nawir sembari mengusap pipi lembut sang baby
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1