
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.. Tepat hari ini Dilara berulang tahun ke 1 tahun.. Nawir membuat acara kecil kecilan saja di rumahnya.. Bukan tidak ingin mengadakan syukuran besar besaran, namun dia memikirkan lagi kalau mau seperti itu harus biaya banyak.. Nawir memang punya bengkel besar.. Tapi sebesar besarnya bengkel juga seberapa sih? syukur bisa menggaji karyawan dan kebutuhan rumah..
Rumah Nawir sudah di dekor dengan berbagai macam balon dan pernak pernik.. Ia memanggil beberapa anak yatim dan anak kecil yang tinggal di dekat lingkungan pesantren.. Kurang lebih 40 anak semuanya..
Ziya sedang berada di mall bersama Shaijiee dan Zanna.. Ia sedang membeli kado untuk Dilara..
Shaijiee menggendong Zanna dan terus mengajak anaknya berbicara..
"Sayang, kita beli apa ya untuk Dilara? aku bingung" kata Ziya
"Yang bisa di pergunakan saja"
"Semua juga bisa"
"Yaudah beli baju saja" jawab Shaijiee
Ziya akhirnya memilih membeli baju.. Mereka datang ke toko baju yang terkenal, bahkan di penjuru dunia juga tau merek baju itu..
Akhirnya Ziya memilih beli baju atasan dan celana panjang untuk anak anak.. Harga baju satuannya saja sudah seharga hp keluaran terbaru.. Belum lagi celananya.. Ia membeli beberapa baju dan celana dengan ukuran yang berbeda beda biar bisa awet dipake lama..
Setelah berbelanja, mereka langsung menuju pesantren kerumah Nawir.. Dilihat ternyata sudah ada beberapa tamu yang hadir dari keluarga Nida maupun gus Arkan..
Orang tua Nisrine juga akan hadir, tetapi tidak hari ini.. Mereka masih ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan, tetapi mereka janji secepatnya akan datang ke Indonesia..
"Assalamualaikum" salam Ziya dan Shaijiee
"Wa'alaikumussalam.. Waahh ada siapa tuh dateng?" kata Nawir
"Dilara.. Ini mama Ziya bawain hadiah buat Dilara" kata Ziya gemas
"Makasih mamah Ziya.. Mudah mudahan banyak yaa kadonya buat aku" kata Nawir dengan bahasa anak kecil
"Yeeee mau bapaknya itu mah" saut Nisrine
"Selamat yaa wir, gak nyangka Dilara udah sebesar ini" kata Shaijiee
"Makasih mas" kata Nawir ramah
"Sayang, selamat yaa.. Anak kamu sudah besar sekarang dan cantik seperi kamu" kata Shaijiee kepada Nisrine
__ADS_1
"Makasih mas.. Aku sayang banget sama mas.. Makasih sudah mau nerima anakku sebegai keponakan" kata Nisrine
Ia, awalnya ia sangat takut Shaijiee tidak bisa menerima kehadiran anaknya itu.. Karena anak itu hasil dari yang tak mereka inginkan..
"Jangan bicara begitu.. Dia tetap keponakan aku" kata Shaijiee
"Yukk masuk masuk.. Kalo mau makan silahkan.. Tunggu acara kelar" kata Nawir
"Hahaaha kirain mau nyuruh makan duluan.. Tetep aja nunggu kelar" kata Putri
"Iyalah.. Tamu undangan itu yang utamaa.. Kalian mah nanti aja belakangan.. Apalagi Maheer, sisaan aja" kata Nawir goda Maheer
"Isshh isshh nakal yaa Nawir ini" kata Maherr sambil menunjuk2kan telunjuknya ke Nawir
Yang lainnya tertawa.. Akhir akhir ini Nawir suka sekali menggoda Maheer.. Usia Maheer yang belum dewasa itu, membuat Nawir demen menggoda..
Acara di mulai.. Di awali dengan sambutan, acara potong kue (tidak ada tiup lilin) lalu game terakhir doa dan penutup..
Setelah itu tamu undangan pulang dengan membawa bingkisan berupa makanan ringan dan nasi kuning..
Dilara sedang main bersama Zanna.. Zanna yang sedang memainkan mainannya tiba tiba nangis karena Dilara merebutnya dengan kasar..
Semua jadi kaget lalu memisahkan Zanna dan Dilara..
Dilara ikut nangis, karena fikir dia Nisrine memarahinya.. Jadi ramailah rumah itu dengan suara tangis mereka..
"Uluh uluh sayang.. Enggak, umi gak marah.. Umi cuma bilang kalau mau minjem minta baik baik jangan kasar" kata Nisrine sambil menggendong dan mengusap punggung anaknya
"Zanna sayang pinjemin Dilara yaa.. Kan ada mainan Zanna yang lain" kata Ziya sambil mengambil mainan Zanna
"Nih nis.. Biar Dilara diem.. Zanna biar aku kasih mainan yang lain aja" kata Ziya
"Gak usah mbak, nanti juga dia diem ko" kata Nisrine
"Udah gak papa"
Akhirnya Nisrine mau mengambil mainan Zanna yang berada di tangan Ziya..
Tanpa di sadari, saat Nisrine mengambil mainan Zanna.. Dilara malah mencengkram tangan Zanna dengan kencang.. Alhasil Zanna nangis lagi dan tambah kencang.. Dilihat tangan Zanna memerah dan ada bekas kuku di tangannya.. Nisrine reflek langsung menjauh dan dilihat tangan Zanna memerah lalu ia melihat tangan Dilara yang ternyata kuku Dilara belum di potong masih panjang panjang kukunya..
__ADS_1
Shaijiee melihat anaknya di sakitin langsung marah..
"Jaga anak kamu.. Jangan kasar!" kata Shaijiee emosi
"Sayang udah" tahan Ziya
"Aku juga gak tau kalau bakalan kaya gini mas" kata Nisrine
"Anak tuh di didik yang baik.. Masih kecil sudah bisa melukai orang, gimana gedenya" kata Shaijiee yang masih emosi lalu mengambil Zanna dari tangan Ziya
"Ayo sayang kita pulang" kata Shaijiee menarik tangan Ziya
Nisrine merasa bersalah, tapi dia juga tak bisa di hina seperti itu.. Dia bisa mengurus anak.. Dia bisa mendidik anak.. Tapi kejadian tadi bener bener diluar dugaan..
Nawir yang melihat istrinya di bentak seperti itu pun juga marah.. Ia tak terima, ia ingin balik marah kepada Shaijiee namun ia tak bisa, mengingat Shaijiee telah membantu banyak untuk dia dan keluarganya..
"Sayang sudah dong jangan marah.. Ini tuh masalah sepele.. Namanya juga anak kecil belum tau apa apa" kata Ziya menenangkan Shaijiee
"Anak tuh gak mungkin kasar kalau orang tuanya mendidiknya dengan baik dan benar.. Lihat tangan anakku? merah.. Masih merah tuh bahkan sedikit membiru bekas kuku Dilara.. Kasihan sekali anakku.. Pasti dia kesakitan" kata Shaijiee
Shaijiee memang overprotektif terhadap anaknya.. Ada bintik merah karena nyamuk saja di pipi Ziya, ia langsung mengintrogasi mbak Nina dan juga Ziya..
Kamar Zanna harus steril, harus bersih, harus dingin, jangan ada nyamuk, harus wangi.. Pokoknya ia lalukan yang terbaik dari yang baik ia lakukan untuk anaknya..
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung