Perjalanan Ziya

Perjalanan Ziya
55. Perjalanan Ziya


__ADS_3

Malam harinya Ziya sedang ditemani oleh Shaijiee dan orang tua Shaijiee.. Ziya sudah mulai belajar tidur miring dan duduk.. Karena itu biasa dilakukan oleh seseorang yang habis melakukan operasi cesar..


Tak lama perawat datang membawa sang baby ke kamar Ziya.. Ziya dengan senang hati menerima anaknya.. Ia kecup pipi sang anak.. Ia begitu bahagia.. Bersyukur anaknya terselamatkan..


"Sayang, kenapa kakiku belum juga bisa digerakkan? rasanya sakit sekali.. Apa obat biusnya belum hilang ya?" tanya Ziya kepada Shaijiee


"Hmm, sayang.. Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu" kata Shaijiee


"Apa sayang?" tanya Ziya


"Tapi kamu janji yaa jangan marah, jangan sedih, jangan kecewa.. Semua sudah diatur oleh Allah" kata Shaijiee


Ia melihat ke arah kedua orang tuanya pun menganggukkan kepalanya..


"Sayang, sejujurnya kaki kamu.." ucap Shaijiee menggantung


"Kaki aku lumpuh?" tanya Ziya dengan air mata mulai menggenang


"Hanya sementara sayang.. Kata dokter ada beberapa keretakan di tulang kaki kamu.. Kamu bisa sembuh asal rajin terapi" kata Shaijiee


"Aku tidak bisa berjalan? aku tak dapat mengurus anakku? aku tak dapat mengajaknya bermain?" lirih Ziya dengan air mata yang sudah menetes


"Bisa sayang, sangat bisa.. Kamu bisa berjalan, kamu bisa mengurus anak kita kamu bisa bermain dengannya.. Kamu masih bisa melakukan aktivitas kamu" kata Shaijiee mengasih semangat


"Kaki aku lumpuh.. Bagaimana bisa aku beraktivitas?" tanya Ziya yang masih menangis


Ikatan batin antara anak dan ibu sangatlah kuat, baby pun ikut menangis langsung diambil oleh mamah Shaijiee


Shaijiee dan papah berusaha menenangkan Ziya.. Ia tau betapa terpukulnya Ziya.. Shaijiee berjanji akan melakukan pengobatan terbaik untuk Ziya


Sejam Ziya menangis di dalam pelukan Shaijiee.. Sedikit demi sedikit ia sudah menerima keadaanya.. Ia berfikir, seharusnya ia bersyukur masih bisa hidup dan melihat anaknya.. Bisa merawatnya walau tak sepenuhnya karena keterbatasan fisik yang cacat..


Tidakk! Ziya tidak cacat.. Kata itulah yang selalu Shaijiee bilang.. Istrinya tidak cacat, hanya sedang sakit..


"Kamu mau menamainya apa sayang?" tanya Shaijiee


"Iyaa nak, kamu ingin menamai apa cucuku ini?" tanya mamah Shaijiee

__ADS_1


"Aku ingin menamainya Zanna Kirania Mubarok.. Boleh kah?" tanya Ziya


"Tentu saja boleh, kamu pinter banget cari nama dan namaku tertera di namanya" kata Shaijiee mencubit pipi Ziya


"Tentu.. Bagus kan namanya? Zanna Kirania Mubarok.. Anak perempuan hadiah dari Tuhan yang memiliki wajah cantik bercahaya.. Mubarok yaa nama kamu sebagai ayahnya.. Hihi" kata Ziya


"Bagus banget sayang" kata Shaijiee


Sudah 5 hari Ziya di rawat, dan hari ini ia di perbolehkan pulang.. Keluar rumah sakit menuju parkiran Ziya menggunakan kursi roda.. Ia dia harus memakai itu untuk waktu yang tak bisa ditentukan.. Karena sampai saat ini pun kakinya masih sakit dan sulit di gerakkan..


Pihak berwajib juga sudah memanggil Shaijiee meminta keterangan mengenai mobil yang menabrak Ziya.. Shaijiee seperti mengetahui mobil itu, tetapi ia lupa milik siapa.. Maka dari itu polisi dan anak buah suruhan Shaijiee masih terus mencari..


Sesampainya dirumah Ziya langsung memasuki kamarnya.. Kamarnya sekarang berada di bawah karena tidak memungkinkan Ziya naik turun dalam keadaan seperti ini..


"Kamu istirahat yaa" kata Shaijiee sambil menggendong Ziya menuju kasur


"Iya sayang, baby Zanna masih sama mamah?" tanya Ziya


"Iyaa, mamah sama papah senang sekali dengan kehadiran Zanna.. Makanya tidak mau lepas.. Ya mungkin karena baby Dilara juga di Indonesia makanya mamah selama ini kesepian" jawab Shaijiee


Ia merasa lelah, padahal hanya duduk saja dari tadi di mobil.


Shaijiee keluar kamar menuju dapur, ia meminta kepada mbok Nah dan mbok Yem untuk menyiapkan makan siang untuk keluarganya..


Shaijiee masuk kembali untuk melaksanakan shalat Zuhur dan setelah itu ia menuju sofa kamar sambil mengecek email laporan yang dikirim oleh sekretarisnya..


Tak lama mereka menuju ruang makan


Di kediaman Nawir, hari ini ia sedang menemani istrinya sedang memasak untuk makan malam.. Ia ingin memakan sop daging..


"Haii anak abii, kangen gak sama abi? pasti kangen doong kalau tidak lihat wajah abi yang gantengnya seperti zain malik ini" kata Nawir


"Hahahaha mimpi kamu mas, zain malik mah ganteng banget.. Lah kamu?" sindir Nisrine


"Lah aku lebih banget banget gantengnya.. Zain malik maah lewaaaat" kata Nawir sombong


"Abi mu ini kepedean ya dek" kata Nisrine

__ADS_1


"Apa hari ini baby rewel? pasti kamu lelah yaa? dia sudah mulai aktif bisa tengkurap dll" tanya Nawir


"Yaa begitulah, namanya seorang istri.. Harus pinter pinter bagaimana ngurus anak" jawab Nisrine


"Semoga pahala untukmu.. Aamiin" kata Nawir


"Aamiin ya Allah.. Cobain mas, udah mateng nih.. Apa masih ada yang kurang?" tanya Nisrine menyuapi Nawir kuah sop


"Hmmm pas sayang.. Enak.. Kaya sop janda" kata Nawir


"Apaah? kamu makan sop janda dimana? janda yang mana? awas yaa berani macem macem.. Aku sunatin nanti.. Aku cincang cincang burung kamu itu" ancam Nisrine


"Ihhh bukan janda yang mana.. Tapi namanya emang sop janda.. Sop jawa sunda sayang" kata Nawir


"Ohh kirian janda yang mana" lirih Nisrine


"Makanya kalo orang ngomong itu dengerin dulu jangan maen ngegas aja.. Ihhh gemes deh pen aku tabokk" kata Nawir


"Hoooo pergi sana.. Ganggu lagi masak aja" teriak Nisrine


Nawir tertawa dan pergi dari dapur bersama Dilara di gendongannya..


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2