
Shaijiee masih setia disamping istrinya yang belum membuka matanya sedari tadi.. Ia begitu khawatir.. Setiap 15 menit sekali ia selalu bertanya pada suster yang berjaga kenapa istrinya belum juga bangun..
"Duduklah, kita tunggu saja istrimu.. Pasti dia sadar sebentar lagi" kata Shahia
"Tapi bu, aku begitu khawatir dengannya" kata Shaijiee
"Kami semua juga sama.. Berdoalah agar Ziya cepat sadar" kata gus Afnan
Di rumah sakit yang menunggu Ziya tinggallah gus Afnan, Shahia dan Shaijiee.. Yang lainnya sudah balik ke pesantren karena jika terlalu banyak orang diruang rawat Ziya, nanti malah mengganggu istirahatnya..
Malam hari, sehabis shalat isya, gus Afnan dan Shahia pamit pulang karena sudah malam.. Esok pagi mereka akan kembali lagi membawa sarapan dan pakaian ganti untuk Shaijiee..
Setelah Shaijiee mengantar mertuanya ke parkiran, ia kembali lagi ke kamar rawat Ziya.. Dilihat Ziya sudah membuka matanya..
"Alhamdulillah sayang.. Kamu sadar.. Apa ada yang sakit?" tanya Shaijiee
"Haa uus" kata Ziya terbata
Buru buru Shaijiee memberikan air minum kepada Ziya.. Ia tuntun Ziya untuk minum menggunakan sedotan..
"Aku panggilkan dokter dulu yaa" kata Shaijiee dibalas kedipan mata oleh Ziya
"Alhamdulillah bu Ziya.. Kondisinya sudah stabil.. Perbanyak makan dan minum yaa.. Istirahat, jangan terlalu banyak fikiran dan kerja berat" kata dokter
"Bagaimana dok?" tanya Shaijiee
"Alhamdulillah, kondisinya sudah stabil.. Mohon perhatikan makannya ya pak, jangan lupa untuk bu Ziya minum obat" kata Dokter
"Baik dok, terimakasih" kata Shaijiee
__ADS_1
Setelah itu dokter dan perawat yang tadi memeriksa akhirnya keluar dari kamar rawat Ziya..
"Sayang, ingat yaa pesan dokter tadi.. Aku tidak mau baby kita kenapa kenapa" lirih Shaijiee
"Bayi? apa aku hamil?" tanya Ziya
"Iyaa, kamu hamil.. Kamu sedang mengandung buah hati kita sayang.. Terimakasih sayang.. Ini akan jadi kado annive kita yang paling berharga.. Aku bahagia" kata Shaijiee
"Aku pun juga bahagia.. Alhamdulillah, penantian kita hampir setahun ini akhirnya terwujud.. Oh iya, berapa usia kandunganku?" tanya Ziya
"7 minggu sayang.. Kita jaga anak kita ini yaa.. Kita akan jadi orang tua yang saling bekerja sama dalam mendidik, merawat dan membesarkan anak kita" kata Shaijiee
"Pasti sayang.. Pasti" kata Ziya berkaca kaca
"Apa kamu lapar? ini makan malam. sudah ada.. Dimakan yaa, agar bayi kita sehat dan ibunya pun juga sehat" kata Shaijiee
Ziya mengangguk.. Lalu Ziya makan dengan disuapi oleh sang suami.. Shaijiee begitu telaten memberi makan Ziya..
"Nanti yaa, setelah kamu pulih" kata Shaijiee
"Aku ingin pulang ke Turki" rengek Ziya
"Sayang, kamu belum sehat.. Tunggu sampai sehat dulu, oke" kata Shaijiee
Ziya tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya saja..
Dua hari berlalu, hari ini Ziya diperbolehkan pulang dengan syarat tidak boleh terlalu cape.. Jangan bekerja terlalu berat..
Shaijiee yang seolah mendapat ultimatum dari dokter pun langsung mengiyakan dan menuruti ucapan dokter..
__ADS_1
Dia tak membiarkan Ziya bekerja lagi, ia juga tidak ingin Ziya beberes rumah lagi.. Ia sudah berencana, pulang ke Turki langsung tinggal dirumah yang mereka beli beberapa hari yang lalu.. Ia juga sudah menyiapkan asisten rumah tangga untuk membantu Ziya..
Mereka pulang ke pesantren, sesampainya disana Ziya langsung disuruh beristirahat dan jangan melakukan apapun..
"Aku ingin berkumpul sama keluarga yang lain bu" kata Ziya
"Mereka dirumah abi Arkan, kamu disini saja.. Istirahat.. Kesian anak kamu nanti" kata Shahia
"Iyaa deh, tapi bubu temenin yaa" kata Ziya memeluk Shahia
"Iya sayang, bubu disini.. Suami kamu soalnya lagi disana sama yang lainnya" kata Shahia
Setelah mengantar Ziya, Shaijiee langsung menuju rumah gus Arkan.. Karena ia ingin membantu orang tuanya dan Nisrine yang akan pulang lebih dulu ke Turki.. Ziya dan Shaijiee mungkin akan beberapa hari lagi disini, karena dokter belum memberi izin untuk Ziya berpergian jauh..
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung