Perjalanan Ziya

Perjalanan Ziya
52. Perjalanan Ziya


__ADS_3

Nawir dilema, antara menjual bengkel tersebut atau diteruskan.. Karena penghasilan makin lama makin menurun.. Ia juga sudah memberhentikan karyawannya dan ia tinggal sendiri di bengkel itu menunggu pelanggan datang..


Dari pagi jam 8 ia buka sampai sore jam 4 baru 2 pelanggan saja yang datang.. Itupun juga cuma mengganti oli dan isi angin.. Ia sedih, disaat sudah berkeluarga justru usahanya malah menurun drastis..


Sekarang ia bertekad untuk menjual bengkel tersebut.. Ia menjual ruko beserta peralatan bengkelnya itu..


Masalah usaha selanjutnya akan ia fikirkan nanti.. Ia bisa saja menjadi guru di pesantren.. Ia akan meminta ngajar kepada gus Afnan..


Sore itu Nawir pulang kerumah hanya dengan membawa uang 50rb saja.. Uang itu langsung diberikan kepada Nisrine untuk makan mereka..


Saat sampai rumah dilihat Nisrine tengah mengoleskan minyak telon ke tubuh Dilara.. Hati Nawir sakit, sedih melihatnya.. Ia berharap senyuman manis anak dan istrinya tetap seperti itu walau nanti bengkelnya ia jual.. Memulai hidup dari nol kembali..


"Assalamualaikum" salam Nawir


"Wa'alaikumussalam.. Abii pulaang" kata Nisrine ngomong dengan anaknya


"Anak abi sudah wangi yaa.. Sudah mandi ini" kata Nawir kepada Dilara


"Mas sudah shalat?" tanya Nisrine


"Sudah" jawab Nawir sambil memainkan tangan anaknya


"Sudah makan? ko tidak pulang kerumah tadi siang?" tanya lagi


"Sudah, aku sudah makan ko" jawab Nawir berbohong


"Oh iya, ini pendapatan hari ini" kata Nawir memberikan uang kepada Nisrine


"Alhamdulillah.. Semoga terus lancar usahanya yaa mas" kata Nisrine


"Aamiin.. Doain saja yaa" kata Nawir sedih


Keesokkan harinya, Nawir memasang plang di ruko tersebut.. Ia menjual ruko beserta isinya..

__ADS_1


Pihak keluarga bahkan Nisrine pun tidak tau..


Nawir pergi kerumah temennya untuk menanyakan pekerjaan, apakah temennya ada lowongan atau tidak ditempat kerjanya tersebut..


Sore harinya Nawir kembali pulang kerumah..


Di Turki, Shaijiee mendapat kabar bahwa adik iparnya memasang plang dirukonya.. Shaijiee kaget, ada apa dengan keluarga adiknya? kenapa harus menjual ruko segala?


Shaijiee pulang kerumah dengan perasaan bertanya tanya.. Ingin menanyakan langsung ke Nawir tapi tidak enak.. Nanya langsung ke Nisrine juga takutnya Nawir tersinggung, kenapa tidak bicara langsung dengan Nawir.. Bagaimanapun juga itu ruko punya Nawir..


"Sayang, aku mau tanya sama kamu" kata Shaijiee kepada Ziya yang tengah duduk di meja makan sembari makan apel


"Pulang kerja tuh mandi dulu ganti baju, malah langsung ke dapur" kata Ziya


"Apa Nawir ingin menjual rukonya?" tanya Shaijie


"Apaaa? enggak, gak ada bilangan apa apa ko.. Kamu tau dari mana?" tanya Ziya


Dari rekan bisnis aku.. Aku pernah cerita dengan dia kalau adik ipar ku punya bengkel dan dia tau bengkel itu.. Tadi katanya dia melewati bengkel Nawir dan bengkel itu tutup terus diberi plang untuk dijual" jelas Shaijiee


"Coba. tanya keluarga disana.. Aku tidak mau adikku terjadi masalah disana" kata Shaijiee


"Apa maksud kamu terjadi masalah? tidak akan terjadi apa apa.. Kamu fikir adik aku tidak bisa bahagiain adik kamu? kamu fikir adik aku tidak bisa jaga adik kamu? jangan mentang mentang kamu orang kaya seenak kamu berucap! seharusnya kamu bantu adik kamu.. Bukan bicara seperti itu!" kata Ziya emosi lalu meninggalkan Shaijiee


"Sayaang, bukan gitu.. Aku cuma gak mau mereka kekurangan apa apa disana" kata Shaijie lembut


"Mereka tidak akan kekurangan apa apa.. Sekalipun Nawir pengangguran, mereka masih bisa makan.. Keponakan dan adik kamu masih bisa dapat makan.. Kamu fikir keluarga ku dan Nawir akan biarin aja gitu buat adik kamu kelaparan? GAK!!" kata Ziya kali ini benar benar emosi


Tak selang berapa detik perut Ziya keram, Ia merasakan sakit di bagian perutnya.. Ia pegangin perut itu dan meringis..


"Sayang, kamu tidak apa apa?" tanya Shaijiee khawatir


"Sana ahh pergi.. Mbokk Nah, mbok Yeem" panggil Ziya

__ADS_1


Mbok Mah dan Mbok Yem langsung berlari menghampiri Ziya


"Ya Allah non kenapa? non perutnya sakit? pak tolong angkat nona pak, kesian perutnya sakit" kata mbok Yem khawatir


Shaijiee tak peduli penolakan Ziya, ia langsung membawa Ziya ke dalam mobil dan menuju rumah sakit..


Sesampainya dirumah sakit, Ziya langsung di tangani.. Setengah jam di periksa, tidak ada hal yang perlu di khawatirkan.. Asal tidak membuat emosi Ziya naik, karena itu tidak baik untuk kesehatan janinnya..


Shaijiee menghampiri Ziya yang masih terpasang selang infus, ia mendekati Ziya dan memegang tangan sang istri..


"Maafkan aku" lirih Shaijiee


"Maafkan aku sayang.. Bukan aku tak percaya dengan Nawir" lirih Shaijiee


"Sudahlah.. Memang susah kalau orang yang sudah hidup mewah sejak lahir terus masuk kedalam keluarga miskin" ketus Ziya


"Tidak sayang, bukan begitu.. Tidak begitu sayang" lirih Shaijiee


Setelah air infus habis, Ziya diperbolehkan pulang.. Selama perjalanan Ziya masih saja diam.. Ia tak ingin berbicara kepada Shaijiee..


Ia berfikir ternyata begini sifat asli Shaijiee.. Mungkin wajar atas kekhawatirannya Shaijiee kepada adiknya.. Tetapi bicaranya lah yang salah, makanya Ziya marah kepada Shaijiee..


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2