
Sesampainya di apartemen Ziya langsung menuju kamar.. Ia banting pintu kamar sekencang mungkin.. Ia membantingkan badannya ke kasur dan menangis..
Shaijiee dan Nawir menaruh semua belanjaannya ke dapur, lalu Nawir masuk kedalam kamar.. Ia tak ingin ikut campur urusan kaka sepupunya itu..
Shaijiee membuka pintu kamar, ia lihat Ziya sedang menangis.. Ia mendekati Ziya, ia memegang pundak Ziya tetapi Ziya menepisnya.. Ziya tak ingin disentuh dan diganggu oleh Shaijiee.. Shaijiee menghela nafasnya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri..
Setelah mandi, ia melihat Ziya yang sudah tertidur.. Lalu ia keluar kamar dan duduk di sofa ruang keluarga.. Ia memesan makanan untuk makan malam.. Nawir tak terlihat batang hidungnya, mungkin ia melanjutkan tidurnya kembali..
Adzan maghrib berkumandang.. Shaijiee membangunkan Nawir untuk shalat lalu membangunkan Ziya, tetapi sesampainya dikamar, ia tak melihat Ziya.. Ternyata Ziya sedang mandi karena suara air terdengar dari kamar mandi..
Bel apartemen berbunyi.. Shaijie lalu menghampiri dan membuka pintu apartemennya.. Ia membayar pesanan makanannya tersebut lalu masuk kembali menuju dapur..
"Wahh kakak ipar memesan makanan?" tanya Nawir
"Iyaa, pilihlah yang kamu suka.. Tapi shakat dulu.. Setelah itu baru makan bersama" kata Shaijiee
"Siaap, yasudah aku shalat dulu ya" kata Nawir
Shaijiee membuka pintu kamarnya, terlihat Ziya sedang shalat maghrib.. Shaijiee duduk di pinggiran kasur sembari melihat Ziya shalat.. Lalu ia menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu..
Shaijiee bertukar dengan Ziya untuk shalat.. Baru pertama kali ini juga mereka shalat tak berjamaah saat berada dirumah.. Biasanya mereka akan shalat berjamaah..
"Sayang, makan dulu yuk" kata Shaijiee lembut
Ia setelah shalat langsung mengajak Ziya makan..
"Sayang, yuk kita makan.. Aku sudah memesan makanan kesukaan kamu" kata Shaijiee lagi
Ziya yang ditempat tidur tak bergeming..
Shaijiee mendekat ke arah Ziya namun Ziya menghindar..
"Sayang, jangan marah lama lama" kata Shaijiee sedih
__ADS_1
Jujur, ia menyesal, ia sedih, ia merasa bodoh telah membentak Ziya tadi sewaktu di mobil..
"Sayang, jangan marah lagi.. Oke, annive dimana pun kamu mau aku turuti, tapi aku mohon sudah yaa marahnya" kata Shaijiee lembut
"Aku tidak akan marah lagi sama kamu, tapi aku punya permintaan" kata Ziya
"Apapun itu" jawab Shaijiee semangat
"Aku mau rumah" kata Ziya
"Oke, tak masalah" jawab Shaijiee enteng
" Tapi maunya malam ini juga" kata Ziya
"Apaa?? yang benar saja.. Kalau besok aku masih menyanggupi, kalau sekarang bagaimana bisa" kata Shaijiee
"Beli rumah sekarang, atau aku marah" ancam Ziya
"Okee baik"
"Kita makan dulu yaa, aku sudah hubungi sekretarisku.. Nanti ia kirim gambarnya yaa" kata Shaijiee
"Okeehh, yuk makan aku lapar.. Marah butuh tenaga" kata Ziya semangat
Shaijiee hanya tersenyum melihat tingkat istrinya..
Disela makan, handphone Shaijiee berbunyi pertanda ada chat masuk.. Ternyata sekretarisnya yang mengirim foto foto rumah dari agen properti..
Ia memberi tahu istrinya foto foto tersebut.. Ziya meminta pendapat dengan Nawir, rumah mana yang bagus.. Namun bagi Nawir semua bagus..
"Jawaban mu tak berpendirian" ketus Ziya
"Lah, ukhty juga sama dong, buktinya minta pendapat Nawir" sindir Nawir
__ADS_1
Ziya mendengus kesal.. Akhirnya ia memilih rumah yang mewah di perumahan elit.. Ia memilih rumah yang besar..
Jelas pasti harganya juga wahh..
"Sayang, yang ini yaa" kata Ziya
"Serius?" tanya Shaijiee
"Kenapa? tidak punya uang? yaudah aku mogok makan" kata Ziya meninggalkan mereka
"Lah mogok makan sih tapi abis 2 box nasi, kenyang itu woooyy" sindir Nawir
"Sayang, jangan marah dong.. Iya iya beli" kata Shaijiee namun diabaikan Ziya
Shaijiee langsung menghubungi sekretarisnya dan menyuruh ia untuk mendeal kan rumah itu.. Harga tak masalah untuk Shaijiee asal Ziya bahagia..
"Enak, ngambek minta rumah dibeliin.. Lah saya? ngambek minta motor aja sama umi kudu jatohin harga diri dulu didepan santri" batin Nawir
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung