Perjalanan Ziya

Perjalanan Ziya
30. Perjalanan Ziya


__ADS_3

Beberapa hari ini tingkah Ziya begitu aneh.. Hari ini mereka akan berangkat ke Indonesia untuk menggelar acara 7 bulanan Nisrine di Indonesia..


Dibandara, sembari menunggu keberangkatan.. Ziya menarik tangan Shaijiee untuk membeli roti dan minuman karena ia sangat lapar.. Ntah dia juga bingung karena akhir akhir ini sering sekali lapar.. Padahal sebelum berangkat, ia sudah makan..


"Sayang mau beli makanan apa?" tanya Shaijiee


"Mau beli roti itu" jawab Ziya


"Baiklah" saut Shaijiee


Sesampainya di toko roti..


"Sayang, aku mau ini, ini sama ini" kata Ziya mengambil roti


"Ada lagi?" tanya Shaijiee


"Tidak, ini saja.. Nanti kamu bangkrut" jawab Ziya


"Hahaha masa hanya karena beli roti aku bangkrut" kata Shaijiee


"Yaa bisa aja lah, kalau kamu membeli rotinya di seluruh outlet roti yang berada diseluruh penjuru Dunia" jawab Ziya


"Bisa saja" kata Shaijiee tersenyum


Melihat tingkah Ziya yang akhir akhir ini berubah, membuat Shaijiee gemas sendiri.. Ia tak ingin menyakiti hati istrinya.. Jadi apapun yang istrinya mau dan lakukan, ia bebaskan selagi tidak diluar batas..


"Sayang, nanti di kampung halamanku kota beli pecel sayur yaa" kata Ziya


"Tiba saja belum sudah minta sesuatu yaa" ledek Shaijiee mencolek hidung Ziya


"Yaa.. Aku mohon" kata Ziya manja


"Iya sayang nanti kita cari yaa" kata Shaijiee mencium pipi sang istri

__ADS_1


Tibalah waktunya mereka boarding.. Di dalam pesawat, Ziya merasa pusing kepalanya dan ia merasa mual..


Shaijiee kaget karena tak biasanya Ziya begini.. Apa mungkin karena kebanyakan makan, makanya Ziya mual dan ingin muntah..


Pesawat telah mengudara, tetapi rasa mual Ziya masih terus sama.. Ziya ditemani Shaijiee ke toilet pesawat.. Diurut tengkuk Ziya oleh Shaijiee tapi ia masih saja merasa mual.. Akhirnya sang pramugari membantu mereka dengan memberikan obat pereda mual.. Setelah meminum obat pereda mual, akhirnya Ziya sudah mendingan tak separah sebelumnya.. Shaijiee berterimakasih kepada pramugari tersebut dan memberikannya sejumlah uang untuk mengganti obat itu.. Namun pramugari menolak, karena memang itu sudah disediakan oleh pihak maskapai..


Ziya tertidur di kursinya.. Shaijiee menatap Ziya dengan tersenyum.. Ia mengecup pucuk kepala istrinya dan ia ikut tertidur..


Sesampainya di Indonesia, mereka langsung menuju pondok pesantren..


Nisrine sudah mengerti sedikit sedikit bahasa Indonesia.. Jadi ia bisa mengerti apa yang diucapkan oleh orang orang walau terkadang masih bingung..


"Kamu terlihat lemas sekali?" tanya Shahia


"Ziya muntah terus bu di pesawat" kata Ziya


"Ya Allah, masuk angin?" tanya Shahia


"Bisa jadi.. Ziya mau istirahat dulu ya bu" kata Ziya


"Apa kabar Shaijiee?" tanya Gus Afnan


"Alhamdulillah yah, saya baik sekali" jawab Shaijiee tersenyum


"Alhamdulillah.. Kerjaan lancar disana?" tanya gus Afnan


"Alhamdulillah lancar.. Insya Allah mohon doanya, saya akan membangun cabang korea dan jepang" kata Shaijiee


"Alhamdulillah semoga tambah sukses.. Yayah hanya bisa mendoakan" kata gus Afnan


Shaijiee memang sudah terbiasa memanggil gus Afnan dan Shahia dengan sebutan yayah dan bubu.. Karena Ziya memanggil orang tuanya seperti itu, jadi Shaijiee menurut..


"Terimakasih yah, semoga yayah juga diberi kesehatan terus dan umur panjang" kata Shaijie

__ADS_1


"Aamiin ya Allah.. Doa yang baik akan berbalik baik pula kepada yang mendoakan" kata gus Afnan


"Aamiin" jawab Shaijiee


"Shaijiee.. Bubu sudah masak makanan.. Kalau lapar makan saja terlebih dahulu.. Ziya masih tidur" kata Shahia


"Tak apa, saya menunggu Ziya saja" kata Shaijiee sopan


Shahia tak bisa memaksa.. Akhirnya mereka berbincang bincang hingga tak terasa waktu menjelang adzan maghrib..


Mereka semua pergi ke masjid pesantren untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah..


Orang tua Shaijiee terlihat antusias dan senang sekali.. Karena disini mereka merasa dihormati, diterima dengan tangan terbuka.. Orang orang disini sangat sangat ramah dan baik kepada mereka..


Shalat maghrib kali ini di imami oleh Nawir.. Walau saat SMK dia terlihat bandel, tetapi ia tak pernah lupa akan kewajibannya.. Bahkan ia juga seorang penghafal Al-Quran.. Hanya saja ia menutupi itu semua karena ia tak ingin amal ibadah dan jariyahnya dilihat oleh orang lain.. Ia selalu merendahkan dirinya apalagi didepan orang yang ilmunya jauh lebih tinggi..


Merendahkan dirinya bukan berarti yang gimana gimana yaa.. Maksudnya itu dia selalu bilang ia merasa masih bodoh, masih haus akan ilmu dan belum pantes disebut ustadz karena ilmunya masih seujung kuku..


Itulah tawadhunya orang yang berilmu.. Ia tak ingin dianggap sombong akan ilmu yang ia punya.. Ia menutupi itu semua dengan kebandelannya.. Bandel juga bandel sewajarnya.. Tak melebihi batas..


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2