
Setelah di rasa cukup menyusuri menyusuri kamar tersebut vanya masuk kedalam kamar mandi untuk mencuci mukanya.
Keluar dari dalam kamar mandi vanya dengan keadaan muka segar. sedikit memoleskan lipblam ke bibirnya serta sedikit cream bedak yang sering ia pakai agar wajahnya tidak terlihat kusam.
Penasaran akan di luar tempat ia sekarang vanya mulai membuka pintu, saat pintu terbuka mata nya disuguhkan dengan pemandangan serta arsitektur bangunan di depannya.
Menoleh kiri kanan vanya seakan di buat takjub akan keindahan rumah mewah yang bergaya kalsik itu sungguh membuat mata vanya berbinar.
Rumah yang berbau klasik serta tidak meninggalkan kemewahan di dalamnya adalah rumah impian vanya jika suatu saat ini mempunyai banyak uang nantinya.
Melihat ada lif di samping kirinya vanya pun tanpa ragu menuju lift tersebut.
Turun dalam lift yang menuju lantai dasar vanya berjalan dengan santai sambil melihat lihat suasana serta perabotan di dalam rumah tersebut.
Sibuk akan kegagumannya ternyata seorang pelayan yang tengah berjalan menuju ke arahnya dan vanya tidak menyadari hal itu.
"nona ada yang bisa saya bantu"tanya pembantu itu dengan ramah. melihat sang tuannya menggendong sang gadis patilah wanita ini adalah bukan orang biasa dan tentunya mereka harus menghormati setiap tamu tuannya.
"ah ya, dapur nya dimana ya?"tanya vanya dengan sopan karna ia belum mengetahui seluk beluk rumah tersebut.
Bukan tanpa alasan vanya menanyakan dapur di rumah itu karna ia merasa haus dan tentunya ia masih sungkan untuk menyuruh nyuruh pelayan yang bekerja di rumah tersebut.
"mari nona saya antarkan"ucap pelayan wanita itu dengan sopan.
"akh tidak perlu tunjukkan saja"pinta vanya tidak enak hati karna sepertinya ia meresa bahwa dirinya mengganggu pekerjaan pelayan tersebut.
Mendengar ucapan vanya pelayan wanita itu memberitahukan dimana letak dapur setelah mendengar arahan pelayan tersebut vanya langsung menuju dapur untuk mengambil minum.
Melihat nona itu pergi sesuai dengan arahannya pelayan itu masih menatap punggung vanya.
"aduhh kenapa gak tanya nama tadi ya"gumam pelayan itu yang merutuki kebodohannya.
"lebih baik lanjutkan pekerjaan saja kalau gitu, kagak usah ngurusi urusan majikan"gerutu pelayan itu kepada dirinya sendiri.
"ingat kamu ini hanya pelayan, pelayan"sambungnya lagi sambil berjalan untuk melanjutkan langkahnya untuk mengerjakan pekerjaannnya yang sempat tertunda karna menghampiri nona yang tidak tau namanya tadi pikir pelayan wanita itu.
............
Vanya yang sudah melangkah di dapur nan luas melihat suasana dapur sepi dan tak terlihat satupun pelayan di dapur tersebut.
__ADS_1
Pelayan yang belum berada di dapur karna mereka pikir belum watunya untuk membuat makan malam. hal itulah yang membuat para pelayan belum mengerjakan pekerjaannya.
vanya berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil minuman dingin.
Membuka pintu kulkas vanya melihat beberapa botol air yang sudah berjejer rapi di bagian daun pintu.
Mengambil botol air yang terbuat dari kaca yang di lengkapi dengan beberapa ukiran bunga di luarnya. vanya membawa botol itu dekat dengan tempat gelas kaca yang tersusun rapi di atas kepalanya.
Mendapatkan gelas itu vanya mulai menuangkan airnya ke dalam gelas yang ia pegang. kedua benda tersebut vanya pegang dengan gelas berada di tangan kirinya serta botol berada di tangannya kanannya.
Menuangkan air ke dalam gelas vanya di kejutkan oleh suara yang ada di belakangnya dan itu membuat vanya kaget secara reflek vanya melepaskan benda keduanya di tangnnya alhasil benda itu jatuh dan pecah tepat di depan kaki vanya.
"Nona"panggil kepala pelayan itu saat melihat vanya berdiri membelakanginya.
terkejut tentu saja vanya terkejut karana awalnya dapur menjadi sepi tiba tiba ada suara yang mengagetkannya dati belakang.
dan botol beserta gelas itu terjatuh dan untungnya tidakenimpa kaki vanya.
Prankkkkk
Suara pecahan itu menggema di dapaur tersebut sehingga mengundang para pelayan serta para penjaga mendekat ke arah asal suara.
"A-ah tidak papa saya juga mintak maaf karna tidak sengaja menjatuhkannya"ucap dengan tak kalah sesalnya dengan ketua pelayan itu.
Beberapa pelayan yang melihat pecahan kaca di sekitar kaki vanya mulai instruksikan untuk vanya tidak bergerak.
"Nona jangan bergerak kami akan membersihkannya terlebih dahulu"pinta salah satu pelayan wanita itu kepada vanya.
mengalihakan pandangan kebawah vanya melihat pecahan kaca yang berserakkan de sekita kakinya.
"Sebentar nona kami bersihkan"ucap kepalay pelayan itu.
Mereka mulai membersihkan pecahan kaca itu dengan memungut nya dan ada juga yang membawa pengepel serta sapu untuk membersihkan apa yang di sebabkan oleh vanya.
"Nona tidak usah biar kami saja yang membersihkannya"mohon ketua pelayan itu tidak enak hati saat melihat vanya membantu memungut pecahan kaca yang berserakan.
"tidak apa apa aku bantu"ucap vanya sambil memungut pecahan itu menggunakan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menampung pecahan kaca yang ia pungut.
Saat membersihkan pecahan kaca mereka di kagetkan oleh suara barington yang sangat keras dan ternyata itu juga membuat vanya kaget.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan"teriak Alex dengan diringi oleh tatapan tajam andalannya untuk melumpuhkan mangsa.
"Tuan"ucap para pelayan yang menolaeh ke arah Alex.
"Haisss"gerutu vanya saat ia memngut pecahan kaca dengan hati hati malah suara alex mengakibatkan ia kaget dan itu membuat jari vanya kegores pecahan kaca yang ia sentuh saat akan mengangkatnya.
Bersamaan sahutan pelayannya dan melihat raut vanya sedikit meringis Alex berjalan mendekati mereka.
"Jelaskan" pinta Alex menatap kepala pelayannya.
Saat kepala pelayan itu menjelaskan Alex mendengarkan dengan baik tapi pandangnnya ke arah vanya menilitinya melihat vanya menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya.
Alex mengernyit heran melihat vanya menundukkan kepalaanya, karna baik vanya maupun pelayan yang sedang membersihkan dapur tersebut kompak langsung berdiri dan hormat kepada majikannya.
Berjalan menuju vanya, Alex berdiri tepat di depan vanya yang tengah menundukkan kepalanya.
"Maaf"lirih vanya.
"Kenapa hmm"tanya Alex dengan lembut dan tentunya pelayan yang berdiri tidak jauh dari keduanya mendengar dengan jelas ucapan Alex yang langkah menurut mereka.
"Maaf membuat dapurmua berantakan serta memecahkan barang barang mu"ucap vanya dengan sesal.
"Hmm tidak apa apa"sahut Alex.
"Apq kamu terluka"tanya Alex sambil meneliti vanya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Ma-maf tuan"ucap salah satu pelayan itu dengan sedikit takut akan tatapan tajam sang tuannya.
Mendengar suara pelayan itu Alex mengalihkan pandangnnya ke arah pelayan itu tentunya tatapan dingin itu yang dapat mereka lihat berbeda jika tuannya menatap nona yang ada di dekat mereka ini.
"Hmmm"sahut Alex yang menantikan ucapan lanjutan pelayannya.
"Maaf sebelumnya tuan, lebih baik tangan nona itu di obati terlebih dahulu takutnya nanti terkena infeksi"ucap pelayan itu dengan satu tarikan nafas sambil memandang ke arah Alex tapi tak berani menatap matanya.
Mata pelayan itu tidak sengaja melihat tangannya vanya yang ia sebunyikan di balik punggungnnya melihat itu pelayan itu memberanikan diri untuk memberitahu tuannya walaupun resiko besar menantinya.
Mendengar ucapan pelayan itu alex mulai mengerti kenapa vanya menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.
"Baby"ucap Alex yang penuh penekanan.
__ADS_1
"i ini ha-hanya luka kecil"ucap vanya dengan sedikit takut karna Alex mulai mengintimidasinya dengan tatapan tajam.