
Anna baru saja pulang setelah seharian mencari pekerjaan. Tubuhnya terasa lelah ia pun bergegas membersihkan diri untuk segera tidur.
Anna membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamarnya. Bayangan Noah kemudian terlintas karena ia menghilang begitu saja biasanya ia akan menelpon hingga puluhan kali jika Anna sengaja mengabaikannya, belum lagi hadiah-hadiah yang selalu dikirimkannya bahkan tak jarang Noah menemuinya karena ia selalu tahu keberadaan Anna.
Aku harusnya bersyukur karena dia tidak lagi menggangguku tapi kenapa aku menjadi gelisah. Dia yang bersalah kenapa aku yang merasa tidak enak.
Anna mencoba memejamkan mata namun wajah Noah selalu terlihat olehnya.
Perasaan bersalah muncul dalam hatinya karena perbuatannya beberapa waktu lalu.
Belum ia terlelap, sebuah nomor menghubunginya. Anna tersentak dan segera mengangkat panggilan itu.
" Hallo.."
" Anna.."
Suara itu bukan milik Noah, Anna ingin memastikan ia melihat ponselnya dan ternyata Adrian yang menghubunginya.
" Anna, aku ingin mengatakan sesuatu bisakah kau menemuiku dibawah."
Tanpa menjawab Anna mematikan ponselnya. Ia mengambil jaket lalu turun ke lobby apartemennya.
__ADS_1
Mata Anna melihat kesana kemari mencari sosok Adrian dan ternyata ia berada dibangku taman kecil disana.
" Adrian.. "
Adrian yang membelakanginya menoleh, penampilannya sangat kusut tidak seperti Adrian yang biasanya. Rambutnya dibiarkan berantakan dengan janggut yang tumbuh disekitar wajahnya. Belum lagi bau alkohol tercium sangat menyengat dari tubuhnya.
" Anna.. Maafkan aku atas perkataanku waktu itu. Aku hanya sedang terpuruk karena masalah toko dan berita hubungan kalian, harusnya aku tidak melampiaskan kemarahanku padamu."
" Sudahlah Adrian, aku sudah melupakannya."
" Maka dari itu kumohon beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku akan segera bangkit dan sukses kau mau kan menungguku dan pergi dari sisi Elnathan."
Anna tidak mempercayai perkataan Adrian, ia merasa sedang dipermalukan kembali olehnya.
" Bukan, maksudku aku tidak peduli dengan siapa kau menjalin hubungan, tapi aku ingin kau kembali ke sisiku."
" Adrian, aku tidak tahu bahwa kau sangat egois. Aku minta maaf karena kau harus terlibat dalam masalahku tapi sekarang aku tahu bahwa kau memang tidak pernah percaya padaku."
Adrian lalu memegangi kedua bahu Anna untuk meyakinkannya.
" Tidak Anna, kumohon.. Aku tahu perasaanmu padaku, kau mencintaiku juga."
__ADS_1
" Iya kau benar, tapi aku tidak tahu sejak kapan aku mulai meragukan perasaanku padamu."
Anna dengan hati-hati melepaskan tangan Adrian di bahunya.
" Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan bersama. Aku hanya ingin melindungimu sebagai orang yang berharga bagiku jadi lupakan aku dan hiduplah dengan baik, Adrian."
Adrian menitikkan air matanya menyadari dirinya sudah tidak ada kesempatan lagi ia ingin bertanya maksud perkataan Anna namun melihat Anna yang bahkan enggan menatapnya membuat Adrian menyerah. Ia berbalik dan berjalan sempoyongan meninggalkan Anna yang masih memperhatikannya.
Adrian sudah menjauh dan tidak telihat lagi Anna merasa pandangannya menjadi buram air mata yang susah payah ia tahan akhirnya jatuh.
Ia menangisi kisah cintanya yang menyedihkan, Anna harus melepaskan Adrian karena itu satu-satunya cara agar ia tidak terlibat masalah lagi dengan Noah.
Anna berjalan perlahan menuju apartemennya, ia melihat pintunya sudah terbuka padahal ia yakin meninggalkannya dalam keadaan terkunci.
Anna mendekat untuk memeriksanya namun betapa terkejut ia melihat tempat tinggalnya dalam kondisi berantakan seperti ada yang sengaja merusak semua isinya.
Tubuhnya mendadak lemas, ia kembali teringat beberapa hari lalu bahkan ada yang sengaja meninggalkan bangkai tikus didepan pintunya.
Siapa.. Siapa yang melakukan ini padaku.
Karena ketakutan Anna pergi menemui petugas keamanan apartemennya untuk meminta bantuan.
__ADS_1
Diruang security ia memeriksa rekaman CCTV dan merasa ada kejanggalan karena sejak beberapa saat lalu CCTV apartemen Anna mati.
Anna memutuskan untuk mendatangi unit apartemen Grace untuk sementara tinggal bersama sampai ia bisa menemukan pelaku yang menerornya.