PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Dilema (1)


__ADS_3

" Aku benar, kan?".


Ucap Noah kembali menyadarkan Anna dari lamunannya.


Hati dan pikiran Anna seperti mengkhianatinya. Ia sungguh dilema hingga tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.


" Jawab aku, Anna."


" Tidak, kau salah. Aku tidak ada perasaan padamu sedikitpun yang aku inginkan hanyalah pergi dari sini secepatnya."


Apa yang kau katakan Brianna, kau sangat bodoh.


Ekspresi Noah sedetik kemudian kembali berubah dingin. Terlihat kekecewaan di wajahnya.


" Untuk kesekian kalinya kau mengatakan ingin pergi dariku. Kenapa Anna apa aku sangat tidak pantas untukmu."


" Bukan.." suara Anna terdengar lirih hingga Noah hampir tidak mendengarnya.


" Apa aku terlalu memaksakan perasaanku?."


" Tidak. Bukan itu."


" Lalu apa kurangku sampai kau ingin pergi dariku."


Noah meninggikan suaranya membuat Anna mulai berkaca-kaca.


" Iya kau benar. Aku takut.. aku takut jatuh cinta padamu. Aku takut kau memang hanya ingin balas dendam padaku karena aku sering menolakmu. Aku takut kau yang akan meninggalkanku suatu saat nanti."

__ADS_1


Tanpa terasa airmata Anna berjatuhan. Pertahanan dirinya mulai runtuh tanpa ia sadari sosok Noah mulai hadir dihatinya.


Anna mulai terisak, lalu Noah dengan cepat memeluknya.


" Aku mencintaimu Anna, aku bersumpah hanya kau satu-satunya wanita yang aku inginkan dalam hidupku. Aku tidak akan meninggalkanmu jadi ku mohon untuk terakhir kalinya tetap disini bersamaku. Kau mau kan?".


Kata-kata Noah begitu indah terdengar ditelinga Anna, ia baru menyadari bahwa ia pun memiliki perasaan yang sama dengan Noah.


Butuh waktu lama Anna mengetahui bahwa Noah adalah pria yang baik. Kesan pertama yang ia dapat mungkin sangat bertentangan dengan sifat asli Noah. Ia adalah pria yang lembut namun tegas dan sangat tulus menyayangi orang yang dicintainya meskipun sedikit pemaksa.


Perlakuan Noah pada Anna pun sedikit banyak membuat Anna nyaman dengannya meskipun banyak sekali hal-hal yang tidak ia ketahui tentang Noah.


" Anna, kau belum menjawabku."


Anna tidak berkata apapun namun ia menganggukkan kepalanya tanda ia akan mulai membuka hatinya untuk Noah. Senyum indah Noah mengembang sempurna, sungguh tidak ada kata yang bisa menjelaskan perasaan bahagianya saat ini.


Ceklek. Pintu ruangan itu terbuka dan Noah muncul dari balik pintu.


" Apa aku mengganggumu?".


" Iya".


Jawab Anna jujur namun dengan niat bercanda.


Tanpa menghiraukan jawaban Anna, Noah masuk dan duduk bersebelahan dengannya. Ia terus saja memperhatikan Anna dari samping sambil menopang dagunya dengan tangan.


" Kau masih terus saja mengabaikanku."

__ADS_1


Seru Noah.


Anna tersenyum lalu menoleh padanya. Ia tidak menyangka wajah Noah akan sedekat itu, sungguh ia sangat terpana dengan wajah tampan itu yang pertama kalinya bisa ia nikmati dalam jarak dekat.


Keduanya kini saling menatap kagum diri masing-masing. Anna mulai tersipu ia pun menunduk namun Noah memegangi wajahnya memaksa Anna tetap menatapnya.


" Aku mencintaimu, Anna."


" Kau sudah mengatakan itu sejak tadi."


" Aku akan mengatakannya setiap hari, setiap saat jika bisa."


Anna semakin tersipu dan wajahnya semakin memerah.


" Aku juga ingin mendengarnya darimu." lanjut Noah.


Anna sedikit terkejut, ia menjadi salah tingkah karena pertama kalinya ia memiliki seorang kekasih. Dengan ragu Anna bersuara.


" Aku..."


Belum sempat Anna menyelesaikan ucapannya ponsel Noah lalu berdering. Dengan bahasa isyarat Noah meminta Anna menunggunya untuk menerima panggilan itu.


Deg.. Deg.. Jantung Anna tidak bisa terkontrol ia memegangi dadanya.


" Ya Tuhan mengapa aku seperti ini.."


Senyum simpul terlihat dari bibirnya, namun tidak lama ia kembali murung.

__ADS_1


" Apa ayah akan merestui hubungan kami, apa dia bisa menerima bahwa kekasih putrinya adalah seorang mafia."


__ADS_2