PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Player VS Cheerleader


__ADS_3

Plaakk.. Buag..


Sebuah tamparan dan tendangan mendarat ditubuh Xavier tanpa ia bisa melawan. Ia dikelilingi oleh orang-orang dari kelompoknya yang seperti sedang menertawakannya.


Dipermalukan dihadapan banyak orang bahkan anak buahnya sendiri membuat Xavier hanya tertunduk menerima segala caci maki ayahnya.


" Dasar bodoh harus bagaimana lagi aku membuatmu sadar, hah?."


John yang murka melampiaskan kemarahannya pada putranya sendiri. Ia sendiri pun malu karena terus menerus gagal menjadikan Xavier pemimpin Wild Blood yang dapat diandalkan.


Seseorang lalu mendekat dan itu adalah adik dari John, Lucas paman Xavier sendiri.


" Kau lihat John anakmu memang tidak bisa dipercaya memimpin kelompok kita. Kau terlalu memaksakan diri."


John mendengus mendengar perkataan adiknya yang ada benarnya.


" Kalau seperti ini terus lama-lama Wild Blood akan hancur ditangannya.".


Beberapa orang disana menyetujui perkataan Lucas yang memang sejak awal mengincar posisi Xavier. Ia menatap licik pada Xavier dan berusaha meyakinkan semua anggota disana untuk mengganti pemimpin mereka.


Xavier menatap pada ayahnya berharap ia bisa membelanya namun diluar dugaannya John malah memihak pada Lucas.


Hingga akhirnya diputuskan saat itu juga bahwa kepemimpinan Wild Blood jatuh pada adik John mengingat banyak sekali kegagalan-kegagalan Xavier yang merugikan kelompoknya.


Xavier yang berulang kali diperlakukan tidak hormat oleh keluarga bahkan kelompoknya sendiri hanya bisa menelan kekecewaan dan sakit hatinya. Ia merasa sudah melakukan segalanya namun selalu berakhir dengan kegagalan.


Ia yang sudah muak dengan hal itu memilih untuk pergi menjauh sambil memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya atas penghinaan Wild Blood padanya.


Villa pribadi yang berada diluar kota asalnya adalah pelariannya. Ia memiliki tempat itu tanpa sepengetahuan siapapun termasuk ayahnya. Selama beberapa hari ia menempati tempat itu sejenak ia bisa melepaskan beban pikirannya namun itu tak berlangsung lama karena seseorang yang tidak ia harapkan mendatanginya hingga membuatnya terkejut.


" Elnathan Noah.."

__ADS_1


" Hallo Xavier bagaimana kabarmu?."


Senyum licik ia tampilkan seperti sedang membalas kejadian saat pemakaman Jeffrey tempo hari.


" Apa maumu?."


" Tidak ada, hanya sedikit mengkhawatirkan keadaanmu setelah kau dibuang oleh kelompokmu sendiri."


" Kau tahu banyak tentang Wild Blood rupanya. Kenapa aku tidak menyadarinya sejak awal."


" Hahaha.. perkataanmu lucu sekali. Itulah bedanya dirimu denganku aku mengamati musuhku dari dekat agar bisa selangkah lebih depan darimu."


" Jadi semuanya adalah rencanamu. Kau merampok kami agar aku kehilangan posisiku."


" Tepat sekali, Alexavier."


Noah lalu melangkah maju hingga mendekat pada Xavier untuk membisikkan sesuatu.


Sebelum meninggalkan Xavier Noah mengeluarkan sebuah lighter dari dalam sakunya dan memasukkan benda itu kedalam saku baju Xavier.


Sesaat setelah Noah tak terlihat lagi Xavier mengambil lighter itu dan ia memperhatikan setiap detail yang ada dan ia yakin benda itu adalah miliknya karena hanya satu-satunya di dunia yang memiliki inisial namanya.


" Sial.. aku ketahuan."


Rumah Noah.


Sekembalinya ia dari luar kota Noah mengajak Stephen untuk bicara diruang kerjanya setelah memastikan Anna tidur.


" Sejak kapan kau tahu tentang pembunuhan ayahmu?."


" Belum lama ini."

__ADS_1


" Lalu kau hanya akan melepaskannya begitu saja?."


" Bukan melepaskannya tapi aku membuatnya diam untuk sementara setelah memegang kartu AS nya."


Stephen menghela nafas berat tak mengerti jalan pikiran Noah.


" Aku tidak mengerti, kau bisa setenang ini setelah tahu ayahmu dibunuh Alexavier. Jika itu aku mungkin aku akan membunuh mereka semua dengan tanganku."


" Stephen, terkadang emosi menguasai kita hingga kita lupa bahwa akan ada kesempatan yang lebih besar saat kita bersabar. Apa kau pikir aku diam karena aku tidak ingin membalas mereka. Kau salah Stephen keinginanku untuk menghancurkan mereka lebih besar dari siapapun."


Noah memberikan sebuah tatapan pada Stephen hingga ia bisa merasakan kebencian juga keinginan balas dendam Noah terhadap Wild Blood.


" Lalu apa rencanamu selanjutnya jika kau berhasil?."


Noah terdiam sejenak ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


" Sesuai janjiku aku akan memberikan kepemimpinan Phoenix padamu itupun jika kau berjanji akan meneruskan misi kita. Lalu... "


Noah menjeda ucapannya membuat Stephen menunggu.


" Pokoknya aku hanya ingin memenuhi janjiku pada istriku untuk memiliki kehidupan normal tanpa terlibat lagi dengan semua yang berkaitan dengan kehidupan masa laluku."


Entah mengapa Stephen menangkap sesuatu yang lain dari ucapan Noah namun ia tetap berusaha menghormati keputusannya dan pembicaraan merekapun berhenti disana dilanjutkan oleh topik yang lain.


" Bagaimana dengan kabar Michael? apa dia tidak melakukan hal-hal yang mencurigakan?."


Ucap Noah.


" Tidak. Dia menjalankan kehidupannya seperti layaknya pria paruh baya seusianya. Dia juga sepertinya mulai sakit-sakitan jadi dia lebih banyak berdiam diri dirumahnya."


Praang...

__ADS_1


Suara benda jatuh mengejutkan Noah dan Stephen. Saat menoleh pintu ruang kerjanya memang tidak sepenuhnya tertutup. Seolah sudah mengerti yang terjadi Noah segera menghampiri asal suara.


__ADS_2