
Anna terbangun karena merasakan sakit disekujur tubuhnya.
Sejenak ia mengumpulkan ingatannya setelah beberapa saat barulah ia sadar sedang berada di tempat asing.
Anna mendudukkan dirinya memegangi wajahnya yang sedikit perih dan dahinya terdapat plester luka, ia juga melihat beberapa luka di lengan dan sikunya.
" Kau tidak apa-apa?."
Sebuah suara berat mengejutkan Anna saat menoleh ternyata ada orang lain disana.
Kondisi ruangan yang minim cahaya membuat Anna tidak menyadari keberadaan Noah yang sejak tadi duduk memperhatikannya.
Anna kini bisa mengingat jelas kejadian yang baru saja menimpanya. Ia beringsut menjauh saat Noah mendekat padanya.
Melihat Anna yang ketakutan, Noah menghentikan langkahnya dan duduk di ujung ranjang.
" Anna.. kau pasti sangat terkejut."
" Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Dimana aku?."
" Jangan khawatir aku akan membereskan semuanya, kau sekarang aman bersamaku."
Anna menghela nafas dan mengalihkan pandangannya dari Noah. Ia berusaha menahan air matanya yang siap jatuh.
" Apa kau sadar karena siapa aku mendapat semua masalah ini. Aku kehilangan pekerjaan dan hidup dalam rasa bersalah pada Adrian. Bahkan sekarang aku mendapat teror dan hampir dibunuh.
Bisa kau bayangkan betapa menakutkannya dirimu?."
Mata Noah bergetar mendengar wanita yang ia sukai menganggapnya orang yang menakutkan. Ia bahkan hampir tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
" Aku berterima kasih untuk pertolonganmu hari ini, jadi ku harap ini pertemuan kita yang terakhir." ucap Anna dengan nada sinis.
Anna bangkit dari ranjang dan berusaha berdiri dengan baik seraya menahan sakit di kakinya.
Melihat hal itu Noah memegangi tubuh Anna, membantunya agar tidak terjatuh namun Anna segera menepisnya.
" Kau tidak boleh pergi dari sini."
" Kenapa tidak, kau pikir aku mau tingal disini."
" Masalahnya lebih rumit dari yang kau pikirkan. Kau sedang diincar oleh seseorang dan aku harus menjagamu."
" Itu hanya alasanmu saja, kan supaya aku tetap disini. Aku sudah malas berurusan denganmu, Noah. Jadi biarkan aku pergi sekarang juga."
Noah sungguh dibuat kesal oleh sifat keras kepala Anna hingga ia mengepalkan tangan menahan diri untuk tidak bersikap kasar padanya.
" Kalau kau pergi dari sini aku yakin bukan hanya kau yang dalam bahaya tapi ayahmu juga."
Anna mulai mengeraskan suaranya saat nama ayahnya disebut.
" Maka dari itu dengarkan aku jika kau tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian.
Ku akui ini salahku karena mempublikasikan berita itu tapi aku tidak menyangka musuhku ingin menggunakanmu sebagai umpan untuk menghancurkanku. Jadi kau harus tetap berada disisiku agar aku bisa melindungimu."
Anna tertegun mendengar penjelasan Noah. Ia berharap bisa pergi menjauh darinya tapi nyatanya Anna semakin terjebak bersama Noah.
" Aku membencimu, Noah. Kau sudah merusak hidupku."
Noah lalu mencengkram kedua lengan Anna dan wajahnya sedikit mengeras.
__ADS_1
" Aku melakukan semua ini untukmu. Bisakah kau sekali saja menurut padaku."
" Tidak mau. Kalau saja aku tidak bertemu denganmu mungkin aku tidak akan menderita seperti ini."
Noah hanya diam namun matanya mengisyaratkan kemarahan, ia melepaskan cengkramannya karena Anna sedikit meringis.
" Aku tidak peduli dengan perasaanmu, jika kau ingin pergi dari sini coba saja, itupun kalau kau bisa."
Noah berbalik dan meninggalkan Anna dikamar itu. Ia bahkan mengunci pintu kamarnya dari luar membuat Anna termenung dengan air mata yang terus mengalir.
Anna mengingat wajah dinginnya yang menakutkan untuk kesekian kali dan itu masih saja membuatnya bergidik.
Hatinya mengatakan ia harus berhati-hati pada Noah namun Anna tidak ada pilihan lain hingga akhirnya ia terpaksa menuruti keinginan Noah untuk ia tinggal bersamanya.
Ditempat lain seorang pria dengan raut wajah kesal berjalan diikuti dua orang pria berbadan besar.
Ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik. Dengan tatapan membunuh ia menghajar salah satu pengawalnya itu untuk melampiaskan kemarahannya.
" Brengsek.. Apa kau tidak bisa bekerja dengan benar. Semua orang yang kau suruh tidak berguna dan mati sia-sia ditangan Elnathan Noah."
Pengawal yang menjadi bulan-bulanan pria yang bernama Xavier itu hanya menunduk. Rasa sakit dari pukulan Xavier tidak ada apa-apanya di banding rasa takutnya karena ia bisa dibunuh kapan saja olehnya.
" Maafkan saya, bos. Beri saya kesempatan lagi.. "
Dor.. Sebuah peluru menyela perkataan pria itu tanpa ia bisa menyelesaikannya.
Darah mengalir dari dadanya yang tertembak seketika tubuh pengawal Xavier roboh dan ia menemui ajalnya.
" Bereskan dia."
__ADS_1
Xavier berlalu meninggalkan satu orang lagi pengawalnya yang sejak tadi tidak bergeming meskipun melihat rekannya dibunuh didepan matanya.
Aku tidak sabar menanti hari kehancuranmu, Elnathan.