
Di satu malam yang sudah larut Noah tidur dengan gelisah. Keringat membanjiri hingga membasahi seluruh tubuhnya.
" Jangan... Ampun.. Ibu.. Tidaaaak."
Noah mengigau hingga ia terbangun karena ketakutan akan mimpinya, mimpi yang terus berulang sejak ia kecil. Ia bangkit dari ranjangnya dan menuju lantai bawah.
Saat melihat ke arah dapur ternyata Anna pun sedang mengambil minum. Noah tersenyum lalu menghampirinya.
" Anna.. "
" Aaakh.. Kau mengagetkanku."
Balas Anna namun ia terbelalak dan langsung menunduk saat melihat Noah yang bertelanjang dada.
" K-kenapa kau tidak memakai baju."
Ucap Anna gugup dengan berusaha menutupi wajahnya agar ia tidak tergoda untuk melihat ke arah Noah.
" Aku memang terbiasa seperti ini saat tidur."
" Oh.. Kau mau minum juga? Biar aku ambilkan."
" Terima kasih." Jawab Noah singkat.
Saat Anna sedang menuangkan air minum, Noah lalu berada dibelakangnya. Ia menyadarkan kepalanya di bahu Anna dan memeluknya erat dari belakang.
Anna menghentikan gerakannya, jantungnya berdebar sangat kencang.
" Terima kasih Anna, kau mau menjadi tempatku bersandar."
Ucapan yang terdengar lirih itu membuat Anna sedikit terharu.
__ADS_1
Ia lalu berbalik dan kini tubuh keduanya berhadapan hampir tanpa jarak.
" Aku belum merasa menjadi orang yang bisa yang kau andalkan."
" Kau hanya perlu berada disisiku itu sudah sangat cukup."
Hup. Noah lalu mengangkat tubuh Anna dan membuatnya duduk di meja dapur dan kini wajah mereka sejajar. Noah menuntun tangan Anna untuk berada dipundaknya dan tangannya sendiri berada dipinggang Anna.
" Bukankah hubungan kita terlalu lamban?".
" Maksudmu?". Anna menatap bingung.
" Maksudku.."
Noah lalu membisikkan sesuatu dan wajah Anna mendadak semerah tomat. Noah tersenyum puas dengan reaksi Anna dan saking gemasnya ia sudah tidak bisa menahan untuk tidak menciumnya.
Cup. Ciuman itu berlangsung singkat Noah lalu membelai wajah cantik yang selalu memenuhi hatinya itu.
Sesampainya dibandara keduanya diikuti beberapa pengawal Noah langsung menuju rumah Anna yang berjarak cukup dekat dari sana.
Anna duduk dengan gelisah, ia terus meremas-remas tangannya. Noah yang menyadari hal itu segera menenangkannya.
" Kau baik-baik saja." tanya Noah dengan menggenggam tangan Anna.
" Ah.. Iya aku baik-baik saja."
Anna menghela nafas kasar yang disadari oleh Noah, seperti sudah mengerti pikiran dan kegelisahan Anna Noah pun terus saja memperhatikan gerak geriknya.
Mobil berhenti didepan sebuah toko. Anna berubah menjadi riang saat sosok ayahnya terlihat sedang berdiri mengatur dua karyawannya yang sedang bekerja.
" Selamat datang.."
__ADS_1
Sapa seorang pelayan toko kepada Anna yang baru saja masuk, karena ikatan batin ayah dan anak yang kuat Michael menoleh kearahnya seperti sudah mengetahui kedatangan Anna.
" Anna..".
" Ayah apa kabar? Aku sangat merindukanmu."
Anna memeluk ayahnya yang langsung disambut senyum bahagia Michael.
" Kau baik-baik saja kan, Anna?".
" Aku baik-baik saja ayah tidak usah khawatir."
Noah yang bersandar disisi mobilnya sedari tadi terus memperhatikan pertemuan mengharukan Anna dan Michael. Karena tidak ingin mengganggu waktu mereka ia memutuskan untuk masuk kembali dan menunggu Anna didalam mobilnya.
Baru beberapa saat ia duduk, Anna mengetuk kaca mobilnya. Noah sedikit terkejut terlebih Michael ada bersama Anna.
" Noah, ayahku ingin bertemu denganmu."
Noah kini menatap Michael dan pria tua pun membalasnya. Anna bingung dengan sikap kedua orang didepannya. Mereka tidak mengucapkan sepatah katapun dan hanya saling menatap sengit.
Noah menyunggingkan senyuman misterius lalu ia mengulurkan tangannya.
" Senang bisa bertemu denganmu, tuan Michael."
Michael menyambut tangan Noah dengan tidak melepaskan tatapannya padanya.
" Begitu pun aku. Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri karena kau pasti sudah tahu."
Noah tersenyum simpul karena sindiran Michael. Segala sesuatu yang ingin Noah ketahui tidak sulit baginya untuk ia dapatkan.
" Aku ingin mengundangmu kerumahku karena banyak hal yang ingin aku tanyakan pada kalian."
__ADS_1
Lanjut Michael yang diangguki oleh Noah dan Anna.