PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Lucifer


__ADS_3

" Pergi dari sini sekarang juga sebelum aku meledakan kepalamu, Xavier. Kalau kau bosan cari lawan yang seimbang denganmu aku terlalu sibuk mengurusi bocah pencari perhatian sepertimu."


Senyum dibibir Xavier perlahan hilang dan ia mengeratkan giginya.


" Apa? aku bocah pencari perhatian?." ia menunjuk wajahnya sendiri tidak terima atas ucapan Noah.


" Iya benar itulah dirimu. Sebenarnya aku sangat kasihan padamu jika bukan karena tekanan ayahmu kau tidak akan seberani ini padaku, kan?."


Xavier mulai mengeraskan wajahnya membuat Noah tersenyum dan melangkah mendekati Xavier mencoba mengintimidasinya.


" Meskipun sekarang kau adalah pemimpin Wild Blood itu tidak menjadikanmu setara denganku. Selamanya Phoenix akan terus membayang-bayangi kalian sekalipun kami tidak ada lagi. Jadi jangan buang tenagamu untuk hal yang sia-sia."


Penghinaan Noah membuat wajah Xavier memerah. Ia pun mengambil langkah maju untuk menantang Noah sehingga wajah mereka berhadapan dalam jarak dekat.


" Memang benar aku belum bisa mengalahkanmu tapi paling tidak melihat kau menderita adalah sebuah hiburan bagiku. Akhir-akhir ini kau berubah menjadi membosankan Noah dan Phoenix pun menjadi lumpuh. Aku jadi bertanya-tanya apakah sekarang Lucifer dari Phoenix meninggalkan neraka dan berlagak menjadi malaikat."


Xavier terkekeh sendiri seolah mengejek Noah.


" Kapan kau akan kembali menjadi Noah, Sang Noah yang kejam bahkan iblis sekalipun akan takut denganmu."


Xavier menepuk bahu Noah dan selesai memprovokasinya. Xavier berbalik namun sebelum itu ia berdadah kembali menggoda Anna. Anna yang kala itu hanya diam memandang Xavier dengan tatapan tidak suka dan itu membuatnya semakin tersenyum lebar.


Sepeninggal Xavier, Noah lalu membawa Anna dengan terburu-buru pergi dari pemakaman. Anna yang memakai sepatu hak tinggi kewalahan menyeimbangkan langkah Noah hingga mereka tiba didepan mobil Noah membukakan pintu sedikit kasar lalu setelah memastikan Anna masuk ia pun masuk dan duduk di kursi pengemudi.


Anna merasakan aura gelap menyelimuti Noah tatapannya lurus namun setajam pedang yang siap menghunus siapapun Noah yang mengemudi dengan satu tangan tidak berhenti mengetuk-ngetuk setir mobilnya dengan telunjuknya menandakan ia sedang fokus berpikir.

__ADS_1


" Siapa dia Aaron?." Anna mulai membuka suara karena merasa sesak oleh keheningan diantara mereka.


" Alexavier pemimpin Wild Blood musuh bebuyutan Phoenix."


" Apa dia yang tempo hari menculikku?."


" Hhm." jawab Noah singkat.


Anna bergidik mengingat kejadian itu jika bukan karena Noah yang menyelamatkannya ia tidak tahu bagaimana nasibnya.


Noah melirik Anna yang tiba-tiba gelisah seraya *******-***** jarinya. Nafasnya terdengar lebih cepat sehingga Noah memutuskan untuk berhenti sejenak.


" Kau tidak apa-apa?."


" Dengar Anna, mulai sekarang aku tidak akan mengijinkanmu untuk keluar dari rumah sekalipun hanya kerumah ibu."


" Tapi kenapa? bukankah karena aku sekarang istrimu dia tidak akan berani macam-macam padaku."


" Justru itu karena kau istriku dia tidak akan melepaskanmu."


Noah sedikit meninggikan suaranya membuat Anna tersentak.


" Aku sudah memberitahunya kelemahanku sendiri jadi aku yakin dia tidak akan berhenti mengusikku."


Kemarahan Noah begitu terasa bahkan Anna sangat berhati-hati agar tidak menyinggungnya. Ia lalu meraih tangan Noah berusaha menenangkannya.

__ADS_1


" Aku akan menuruti semua perkataanmu. Aku janji."


Wajah Noah sedikit mencair saat Anna mengatakan itu. Tiba-tiba Noah melepas seat belt nya dan mendekat pada Anna.


" Gadis baik."


Noah mencium Anna penuh gairah membuat Anna sedikit terkejut.


" Berhenti Noah, ada banyak orang disini."


Noah berhenti seperti yang dikatakan Anna mereka sedang berada dipinggir jalan dan bahkan mobil pengawalnya berada tepat dibelakang.


" Baiklah kita akan teruskan dirumah."


Noah kembali menancap gas menuju rumahnya.


Hari berlalu begitu saja tak meninggalkan kesan apapun setelah kepergian Jeffrey semua orang melanjutkan kehidupan mereka masing-masing dan cukup kenangan manis yang akan mereka ingat dan simpan dalam hati.


Tak terkecuali Noah sepeninggal Jeffrey ia masih sering mengunjungi mansion yang sekarang tak berpenghuni itu. Entah hanya sekedar berdiam diri sambil mengenang hari-harinya saat ia kecil atau saat sosok Jeffrey yang sering berada di ruangan kerja miliknya. Sekarang pun ia melakukan hal yang hampir setiap hari ia lakukan di ruang kerja Jeffrey. Duduk di kursinya yang cukup nyaman terkadang ia juga membuka buku-buku yang biasa dibaca Jeffrey.


Dalam hati kecilnya ia berharap kalau saja Jeffrey hanya orang biasa pasti ia akan bahagia menjadi anaknya.


Rasa hormat yang berubah menjadi kebencian entah sejak kapan ia sangat berharap dapat memutar waktu dan menolak untuk menjadi apa yang diperintahkan Jeffrey.


Tapi nasi sudah menjadi bubur yang harus ia hadapi kedepannya untuk saat ini adalah memperbaiki yang salah dan menyelesaikan apa yang ia mulai sampai tuntas.

__ADS_1


__ADS_2