
Anna berdiri dibalkon kamar, senyum tipis ia tampilkan. Sudah beberapa hari ini rumah yang ia tempati terasa lebih hangat berkat keberadaan Julia dan Laura.
Hidupnya yang dulu selalu dalam kesepian kini ia rasakan lebih bermakna. Tatapannya kini beralih pada tangannya, sebuah cincin berlian bertengger dijari manisnya yang lentik.
Anna mengingat semalam Noah melamarnya dihadapan ibu dan adiknya.
Ia sungguh tidak menyangka Noah begitu mencintainya hingga ia tidak ragu untuk menjadikan Anna sebagai bagian hidupnya.
Namun sedetik kemudian senyumannya hilang, bayangan seseorang terlintas dalam benaknya. Anna menyadari bahwa ia sudah tidak memiliki siapapun yang akan mendampinginya jika suatu hari ia menikah dengan Noah.
Meskipun hatinya penuh kebencian terhadap Michael, Anna tidak memungkiri ada perasaan khawatir padanya.
Noah dari awal terus memandangi Anna tanpa disadari olehnya. Hanya dengan melihat ekspresinya ia sangat mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Anna.
Noah berjalan perlahan mendekat lalu memeluk Anna dari belakang. Anna yang awalnya sedikit terkejut mulai menikmati kehangatan pelukan Noah yang membawa ketenangan baginya.
" Ada apa? Apa kau menyesal menerima lamaranku?."
" Tentu tidak. Aku sangat senang sekali."
Anna yang menjawab datar membuat Noah melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Anna agar menghadap padanya.
" Aku tahu kau pasti sedih memikirkan ayahmu. Michael."
" A-Apa maksudmu?. Aku sama sekali tidak memikirkannya."
Noah tersenyum hangat seolah membiarkan Anna untuk menutupi perasaannya meskipun ia tahu betul Anna sedang berbohong.
" Baiklah. Aku ada kabar gembira untukmu."
__ADS_1
" Apa itu."
" Minggu depan kita akan pergi liburan. Kau senang, kan?."
" Tapi kau bilang kita harus berhati-hati dengan musuhmu makanya aku selama ini tidak pernah keluar dari rumah ini."
Noah mendadak gugup, ia membuang pandangannya menghindari tatapan Anna.
" Jadi, sebenarnya.. aku berbohong masalah itu."
" Apa maksudmu?."
" Begini Anna, kuharap kau tidak marah. Aku sengaja membuatmu tetap dirumah ini karena aku takut kau pergi dari sini."
Anna memicingkan matanya berusaha menelaah ucapan Noah.
Anna menganga tidak percaya, ia mengusap wajahnya berusaha tenang.
Sebelum Anna membuka mulutnya, Noah sudah mendahuluinya.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud mengekang kebebasanmu, aku melakukan itu karena aku sangat mencintaimu."
Noah menunduk penuh rasa bersalah, wajah Anna yang tegang mulai mencair saat melihat pria didepannya selalu mengejutkannya.
Sifatnya sangat berbeda saat ia bersama dengan orang lain namun saat bersama Anna, pria arogan itu begitu takluk.
Anna tidak bisa untuk tidak luluh pada Noah yang menggemaskan itu. Ia pun mencubit pipi Noah yang dibalas tatapan tajamnya.
" Apa yang kau lakukan?."
__ADS_1
" Apa lagi, tentu saja menghukummu."
Anna menahan tawanya saat wajah Noah berubah kebingungan. Namun melihat Anna yang senang dengan perlakuannya Noah hanya membiarkannya.
Anna melepaskan cubitannya karena merasa kasihan pada Noah. Lalu dengan wajah yang dibuat-buat Anna melipat tangan didadanya.
" Kau pikir sekarang pun aku tidak berniat kabur darimu?."
" Tentu saja kau tidak akan melakukannya. Karena sekarang kau calon istriku."
Anna tersipu mendengar itu, wajahnya memanas dan semerah tomat namun ia berusaha mempertahankan ekspresinya.
" Ekhem.. lalu bagaimana kau membayar semua kebebasanku yang sudah kau ambil?."
" Hah..ternyata kau oportunis juga. Baiklah aku akan membayar dengan..."
Noah membisikan sesuatu ditelinga Anna yang membuatnya membelalakkan matanya. Anna menutup mulutnya diiringi senyum nakal Noah.
Anna lalu membalikan tubuhnya yang langsung ditangkap oleh Noah.
" Lepaskan aku... kau pria mesum."
" Hahaha..."
Noah tertawa lepas karena ucapan Anna dan Anna pun ikut tertawa bersamanya.
Tuhan, semoga kami selalu seperti ini aku hanya ingin selalu mendengar tawanya. Batin Anna.
Tuhan, aku ingin membahagiakan wanita ini dan tidak ingin membuatnya menangis lagi dalam hidupnya. Noah.
__ADS_1