
Anna mengedipkan matanya berkali-kali karena matahari yang baru saja terbit begitu menyilaukan. Namun ada satu hal yang lebih menyilaukan dari matahari yaitu Noah yang sedang berdiri menghadap jendela menampilkan siluet indah dengan punggungnya yang terekspos.
Anna tersenyum sebentar lalu bangkit dan memeluk Noah dari belakang.
" Kenapa kau tidak membangunkan aku." keluh Anna dengan tak melepaskan pelukannya.
" Aku tau kau kelelahan."
Noah berbalik dan kini ia yang memeluk Anna.
" Bagaimana bisa kau sangat cantik meskipun baru bangun tidur."
Ucap Noah sambil merapikan rambut Anna yang sedikit berantakan. Mendapat pujian seperti itu Anna hanya tersipu.
" Hari ini apa rencanamu? Apa kau akan pulang malam lagi?."
" Sepertinya begitu."
" Baiklah kalau begitu."
Anna sedikit murung saat mengatakan hal itu bukannya ingin mengeluh tapi memang hidup terkurung dirumah besar sendirian sangatlah menyesakan. Meskipun Noah menyediakan segala hal agar Anna tidak bosan ia tetap merindukan suasana diluar selain dirumahnya.
Setelah Noah pergi bekerja biasanya ia di perpustakaan sepanjang hari atau melukis di studio kecil miliknya untuk melepas penat. Namun hari ini ia terlalu malas untuk melakukan hobinya itu dan hanya berdiam diri menatap keluar dari balkon rumah.
Tiba-tiba terlintas sebuah pemikiran gila. Anna ingin memiliki anak agar dirinya tidak kesepian.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk aku bicara pada Noah. Batinnya.
__ADS_1
Malam hari Noah pulang lebih cepat dari dugaannya. Saat itu Anna yang baru selesai mandi terkejut karena mendapati Noah sudah berada dikamar mereka.
" Kau menyambutku dengan baik rupanya."
Noah menarik Anna ke pelukannya. Mencium aroma segar dari tubuh Anna membuat Noah sedikit menggila. Ia lalu mendorong Anna hingga membentur tembok tak melepaskan sedetikpun mangsanya ia mengunci kedua tangan Anna keatas kepalanya.
Anna susah payah menahan serangan Noah setelah puas Noah melepaskan cengkramannya dari tangan Anna lalu menggendongnya. Anna lalu melingkarkan tangannya dan mengaitkan kedua kakinya dipinggang Noah dengan tidak melepaskan ciuman mereka. Noah mulai berjalan menuju ranjangnya dan perlahan menurunkan Anna.
Dengan sigap ia membuka seluruh kancing bajunya juga melepaskan ikat pinggangnya.
Noah kembali mencumbu Anna dan detik berikutnya ia berniat mengambil alat kontrasepsi miliknya yang selalu ia pakai saat bercinta dengan Anna. Namun diluar dugaan Anna menghentikannya.
" Aaron, aku ingin memiliki anak denganmu."
Satu kalimat itu langsung membuat suasana malam itu berubah. Noah bernafas kasar lalu bangkit meninggalkan kamarnya begitu saja.
" Kenapa kau pergi begitu saja dan kau selalu menghindari masalah itu."
" Aku sudah bilang kalau itu terlalu cepat."
Noah menjawab dengan masih membelakangi Anna.
" Aaron, kita sudah bersama hampir 3 tahun dan aku tidak bisa bersabar lagi. Tidak bisakah kau mengabulkan permintaanku yang ini?."
" Mintalah apapun padaku aku akan selalu mengabulkannya tapi tidak dengan ANAK."
Suara lantang Noah seperti petir yang menyambar hati Anna. Setetes air mata keluar dari mata birunya tidak disangka hari dimana Noah akan sangat menyakitinya datang.
__ADS_1
Hatinya bergemuruh hebat hingga ia tak sanggup lagi menahannya. Anna lari kembali ke kamarnya dengan tangisan yang sulit diredam. Begitu pilu ia menangis hingga membuat siapapun yang mendengarnya merasa teriris tak terkecuali Noah yang sejak Anna masuk ia berdiri didepan kamarnya.
Noah merasa marah pada dirinya sendiri hingga untuk melampiaskannya ia kembali menjalankan mobilnya keluar meninggalkan Anna lagi dirumahnya.
Tidak peduli dengan lalu lintas yang ramai Noah mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dengan kemampuan menyetir yang tak diragukan ia menyalip semua kendaraan didepannya meskipun hampir terjadi kecelakaan itu tak membuatnya berhenti.
Noah sampai di mansion Jeffrey tempat itu satu-satunya dimana ia bisa melampiaskan semua kemarahan dan kekecewaannya.
Noah mulai menghancurkan segala perabotan rumah yang terlihat olehnya tak peduli jika itu adalah barang antik bernilai fantastis yang diinginkannya adalah melepaskan semua beban dipundaknya. Ia melakukan hal yang sama pada ruangan kerja Jeffrey buku-buku yang tertata rapi kini berhamburan dari tempatnya bahkan semua sudut disana tidak luput dari kemarahannya.
" Kau senang sekarang? kau bahagia membuatku menderita?."
Noah berteriak entah ia berbicara dengan siapa.
" Walaupun kau sudah mati kau tetap saja meninggalkan siksaan kejam untukku."
Noah memegangi dadanya yang sesak dan ia menangis sejadinya dalam kesendirian. Lama sekali ia seperti itu hingga tidak sadar berjam-jam sudah berlalu.
Noah bangkit dengan merasakan lelah ditubuhnya namun sebelum pergi ia menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada sebuah brangkas kecil didalam dinding yang tertutup rak buku. Noah baru mengetahui ada benda itu disana. Karena penasaran ia mendekatinya dan untuk membukanya membutuhkan password sebanyak 6 digit.
Noah berusaha menebak angka yang mungkin benar namun berapakalipun ia mencoba tetap saja gagal. Noah berpikir keras agar bisa membukanya dan ingatannya muncul saat beberapa bulan lalu ia membaca satu buku Jeffrey dan dibeberapa halamannya dilingkari.
Noah mencari satu persatu buku-buku yang berserakan dilantai itu setelah beberapa lama ia akhirnya menemukannya.
Noah dengan terburu-buru membuka setiap halaman dan ia memasukan angka tersebut. Butuh waktu agar keenam angka tersebut sesuai kombinasi dan ia berhasil.
Didalamnya terdapat beberapa dokumen dan juga sebuah flashdisk. Noah mengambil semuanya tanpa menyisakan satupun dan ia pergi meninggalkan mansion yang sudah porak poranda olehnya.
__ADS_1