PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Panggil Aku Aaron


__ADS_3

Tiba waktunya Noah menemui Julia. Wanita muda itu masih terlihat cantik meskipun tubuhnya kurus dengan kantung mata hitam.


Saat Noah diperkenalkan sebagai anaknya yang hilang, Julia tampak terkejut. Ia menatap suaminya untuk melihat kejujuran dimatanya.


Bukannya tidak senang putranya kembali namun Julia sedikit meragukan Noah yang dibawa Jeffrey. Pasalnya sebagai seorang ibu ikatan batinnya tentu sangat kuat namun saat melihat Noah ia tidak merasakan apa-apa.


" Julia, Noah kita sudah berusia 10 tahun sekarang jadi mungkin dia agak berbeda. Mendekatlah kau akan tahu dia adalah Noah."


Julia dengan ragu mendekat, ia lalu membelai wajah Noah yang sedikit berbeda dari yang terakhir ia ingat.


" Kau Noah putraku?."


Tanyanya masih penuh keraguan.


" Iya ibu, aku putramu."


Julia lalu mengambil tangan kiri Noah. Ia membuka lengan baju itu dan dapat ia lihat sebuah tanda lahir yang ia kenal.


" Benar kau putraku."


Tangis haru Julia begitu keras dan ia memeluk anak laki-laki didepannya meluapkan rasa rindunya. Hati Noah sedikit terenyuh karena ia harus membohongi wanita yang akan menjadi ibunya.


Ia melirik Jeffrey disampingnya dan Jeffrey pun tersenyum puas.

__ADS_1


Hari-hari yang dilewati keluarga kecil itu begitu penuh kebahagiaan. Kesehatan Julia semakin membaik dan Noah pun kini mendapat lebih banyak cinta dari keluarga barunya sampai-sampai ia melupakan siapa dirinya yang sebenarnya. Kebahagiaan mereka semakin bertambah saat Julia dan Jeffrey dikaruniai seorang anak perempuan bernama Laura.


Lengkap dan sempurna itulah yang menggambarkan kehidupan Noah saat itu. Orang yang paling berjasa baginya tentu saja Jeffrey itulah mengapa ia sangat berbakti kepadanya sekalipun yang ia ajarkan kepada Noah bukanlah sesuatu yang benar.


Flash Back Of.


" Begitulah aku bisa menjadi Elnathan Noah."


Pungkas Noah mengakhiri ceritanya.


" Lalu, siapa nama aslimu?".


Anna menatap dalam mata Noah, untuk beberapa saat Noah terdiam. Untuk pertama kalinya selama lebih dari 20 tahun ia akan menyebut nama pemberian orang tua kandungnya.


" Nama yang bagus, Aaron."


Deg. Jantung Noah berdetak sangat cepat saat Anna menyebut namanya. Perasaan aneh menjalar diseluruh tubuhnya tanpa terasa air mata Noah jatuh begitu saja tanpa ijin pemiliknya.


Anna sangat mengerti perasaan Noah, ia pun sedikit merasa bersalah.


" Noah, maafkan aku jika kau tidak suka aku menyebut nama aslimu kau pasti jadi mengingat orang tuamu."


" Tidak. Aku suka kau menyebut namaku. Jika hanya kita berdua panggil aku Aaron."

__ADS_1


Senyum Anna merekah. Ia semakin menyukai pria disampingnya berkat kejujurannya. Anna merasa dirinya sudah menjadi bagian dari hidup Noah sekarang.


" Anna, ayahku penyebab kecelakaan keluargamu. Benar kata ayahmu kau dalam bahaya jika berada disini. "


" Aku akan baik-baik saja asal bersamamu. Kau tahu Noah sekarang tidak ada yang bisa kupercaya selain kau."


" Apa yang terjadi?"


" Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan ayahku. Dia bilang dia terlibat dalam kematian orang tuaku. Dia membesarkanku karena dia merasa bersalah padaku dan pada ibuku yang dia cintai. "


Noah kini mengerti semua hal yang terjadi pada mereka.


" Kenapa mereka mempermainkan hidup kita, Noah?"


" Itu karena ayah kita sangat egois."


" Iya kau benar. Lalu apa rencanamu sekarang. "


" Aku akan menyelesaikan apa yang ku mulai. Kau mau kan mendukungku?"


" Tentu saja aku akan selalu mendukungmu."


Noah tersenyum bahagia, pembicaraan keduanya terus berlanjut meskipun malam semakin larut. Mereka berbagi kisah hidup masing-masing dari hal yang menyedihkan hingga yang membahagiakan. Senyum tawa tak lupa hadir diantara mereka meskipun beribu duka mereka alami.

__ADS_1


Karena rasa lelah Noah dan Anna bahkan sama-sama tertidur masih dengan posisi duduknya.


__ADS_2