PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Memulai Dari Awal


__ADS_3

Dihari liburnya Anna menikmati waktu untuk melukis di kamarnya. Jendela kamarnya ia biarkan terbuka lebar agar sinar matahari bisa masuk.


Sinar matahari yang menyilaukan terkadang terasa menusuk sehingga Anna harus mengucek matanya berkali-kali.


Dan saat itulah semburat cahaya yang dilihatnya dalam mata tertutup kembali membentuk bayangan wajah yang ia tidak kenali. Anna termenung sejenak lalu tangannya terangkat dan mulai menyapu kanvas putih didepannya dengan kuas lukisnya.


Anna belum menyadari gambar apa yang sedang ia lukis namun saat sudah membentuk mata, hidung, dan bibir barulah ia sadar bahwa wajah pria asing yang pertama kali ia lihat di halte bis yang ia lukis.


Anna menghentikan kegiatannya dan setengah melempar kuas yang dipegangnya.


Ia lalu mengusap wajahnya dengan perasaan aneh.


" Siapa pria itu sebenarnya."


Anna keluar dari kamarnya saat Michael sedang menuruni tangga.


" Ayah kau mau kemana?."


" Ayah mau ke kebun melihat hasil panen kita."


" Baiklah hati-hati dijalan."


Setelah Michael pergi Anna semakin merasa bosan dirumahnya tidak ada yang bisa ia lakukan hari itu jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar.


Di daerah tempat tinggalnya sendiri lebih banyak perkebunan dibanding bangunan sehingga Anna harus berjalan cukup jauh hanya untuk ke pertokoan terdekat.


Anna memasuki sebuah cafe dan ia memesan minuman hangat karena temperatur udara sudah mulai menurun dan musim gugur hampir didepan mata.


Ia menghabiskan sekitar 40 menit disana sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang dari jendela cafe.


Karena sore itu masih terang Anna kembali melanjutkan perjalanannya ia berhenti didepan sebuah toko bunga karena terhipnotis keindahan bunga-bunga berwarna-warni disana.

__ADS_1


Jauh dan semakin jauh Anna berjalan menyusuri satu per satu toko yang berjejer untuk memenuhi kenangannya yang hilang.


Anna sampai disebuah jembatan yang dibawahnya terdapat sungai kecil. Ia berdiri sejenak menikmati aliran air tenang itu.


Angin yang berhembus tiba-tiba menerbangkan sebuah aroma familiar itu lagi. Anna melihat sekitarnya dan mencari asal aroma itu namun banyaknya orang yang berjalan melewatinya membuat Anna kebingungan.


Tapi Anna yang penasaran terus saja mencari kesana kemari hingga sampai di pertigaan jalan kecil. Aroma itu semakin tercium kuat dan saat Anna mengikutinya ada punggung seseorang yang pernah dilihatnya.


" Tunggu..."


Anna dengan nafas terengah memegangi coat pria itu.


Sang pria berbalik dengan wajah terkejut mereka akhirnya saling menatap dengan pikiran masing-masing.


" Kau siapa? apa kita pernah bertemu sebelumnya?."


Anna tak melepaskan manik sang pria ada perasaan aneh saat ia menatapnya.


ucap si pria.


" Pantas saja aku merasa familiar denganmu. Siapa namamu?."


" Aaron. Namaku Aaron."


" Aaron?."


Anna terlihat berpikir selama beberapa saat.


" Aaron nama yang bagus. Aku Brianna, biasa dipanggil Anna."


" Baiklah Anna. Senang bertemu denganmu."

__ADS_1


" Aku juga. Maaf aku mengejutkanmu, pasti kau berpikir aku orang aneh."


Anna merapikan rambutnya yang kini sudah sebahu karena angin terus menerpanya.


" Cantik."


ucap Aaron dengan suara pelan dan tidak melepaskan sedetikpun Anna yang berada didepannya.


" Ya?."


" Tidak, aku hanya sedang berpikir apa kau mau minum kopi denganku."


" Sekarang?."


" Iya. Karena kalau besok aku tidak yakin kita bisa berpapasan lagi."


" Kenapa tidak? Aku akan selalu berada di galeri dan kau tahu tempat itu."


Aaron tersenyum bahagia mendengar Anna yang memberi sinyal baik untuknya.


" Baiklah besok sepulang kau kerja aku akan menemanimu."


Deg. Jantung Anna tiba-tiba berdebar kencang, pertama kalinya ia begitu menginginkan mendekati seorang pria dan ternyata ada respon positif darinya. Entah apa yang terjadi dengannya namun pertemuan tak sengaja itu membuat Anna tak ingin melepaskan kesempatan untuk mengenalnya.


" Janji?."


Anna mengacungkan kelingkingnya membuat Aaron tersipu dan ia pun mengaitkan kelingkingnya pada Anna.


" Janji."


Mereka berpisah dijalanan itu setelah membuat janji untuk kembali bertemu. Aaron tak meninggalkan tempatnya berdiri ia terus saja memperhatikan Anna yang berjalan menjauh darinya. Merasakan dirinya terus ditatap oleh Aaron, Anna sesekali menoleh kebelakang dan tersenyum hingga ia tak terlihat lagi Aaron lalu meneteskan air mata bahagianya diiringi senyum indahnya.

__ADS_1


" Kali ini aku akan melakukannya dengan benar. Terima kasih Tuhan karena memberiku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal lagi."


__ADS_2