PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Side Story of Edward


__ADS_3

Kantor kejaksaan.


" Edward, bukankah Andreas dan Robbie rekan dan atasanmu dulu?."


" Iya senior. Kenapa kau menanyakan itu?."


" Periksa ini. Kecurigaan kita pada mereka sepertinya benar."


" Haaah.. aku sudah tahu kalau masalah itu."


" Sejak kapan?."


" Sejak dulu. Tapi aku tidak punya timing yang pas, apa aku bisa bergabung dengan kasus ini?."


" Tentu saja. Kau juniorku yang paling bisa diandalkan."


Edward dan seorang jaksa senior tersenyum penuh arti. Kini saatnya menunjukan pada mereka yang dulu selalu meremehkannya bahwa diam bukan berarti ia menerima segala penghinaan untuknya.


Kantor FBI.


Suara langkah beberapa orang terdengar berirama dan cepat. Segerombolan pria berjas mendatangi kantor FBI hingga menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.


Braak.. Pintu ruangan Robbie salah satu pejabat disana dibuka dan Edward muncul dengan wajah angkuh dan mengeluarkan sebuah kertas.


" Tuan Andreas dan tuan Robbie. Kalian ditangkap atas dugaan suap dan jual beli jabatan."


Andreas mengeraskan wajahnya begitupun dengan Robbie. Akhirnya saat yang mereka takutkan terjadi namun mereka tidak ada pilihan lain.


Sesuai perintah Edward mereka digelandang ke kantor kejaksaan dan beberapa orang mulai menyita semua dokumen di kantor Robbie dan juga Andreas.

__ADS_1


Mereka berdua kini duduk berhadapan dengan jaksa senior Edward dikantornya untuk dimintai keterangan.


Setelah selesai barulah Edward mengambil alih pekerjaan seniornya.


" Senang bertemu lagi dengan kalian."


Edward berkata namun matanya fokus dengan laptop miliknya.


" Kau pasti puas sekarang, dendammu akhirnya terbalaskan." ucap Andreas.


" Dendam? aku tidak pernah mendendam padamu meskipun kau selalu menggonggong setiap melihatku."


" Sudahlah Edward, tak perlu malu mengakuinya. Kau pasti berusaha keras untuk menjatuhkan ku."


Edward yang sedang mengetik sesuatu menghentikan gerakannya dan ia menatap Andreas.


Andreas mengepalkan tangannya yang diborgol ingin memukul Edward namun ia tahu ia sudah kalah darinya.


" Saatnya menuai apa yang kalian tanam. Semoga berhasil."


.......


Hari sudah malam saat Edward menyelesaikan pekerjaannya. Ia melirik jam tangannya dan teringat sesuatu.


" Sial.. dia pasti akan membunuhku."


Edward segera memasukkan beberapa dokumen pentingnya kedalam tas lalu setengah berlari meninggalkan kantornya yang sudah sepi.


Saat keluar gedung kejaksaan ia mengedarkan pandangannya mencari seseorang.

__ADS_1


" Aileen..."


Saat ia menemukan sosok yang dicarinya ia segera menghampirinya.


Seorang wanita yang namanya dipanggil itu menoleh dengan mata yang siap menerkam Edward.


" Edward, aku sudah menunggu hampir 2 jam disini. Kenapa kau mematikan ponselmu."


Wanita yang bernama Aileen itu bertolak pinggang dan memarahi Edward tanpa mempedulikan orang-orang yang melewatinya.


" Maaf.. aku banyak pekerjaan dan tidak tahu kalau ponselku mati."


" Seharusnya kau menghubungiku sebelumnya.. Kenapa aku yang harus selalu menunggumu."


" Aileen.. apa kau tidak lelah selalu marah-marah?."


" Itu karena kau yang selalu membuatku kesal. Kau selalu menomor satukan pekerjaanmu sejak dulu dibanding aku... apa kau pikir aku juga tidak sibuk? Aku pun sibuk tapi aku selalu memprioritaskan dirimu."


Edward terkekeh mendengar penjelasan panjang lebar Aileen dan itu semakin membuat Aileen kesal.


" Baiklah aku mengaku salah. Mulai sekarang pekerjaanku nomor 2 kau yang akan ada diurutan pertama. Itupun kalau kau mau menjadi istriku."


Deg. Perasaan Aileen seperti rollercoaster ia yang sedang berada dipuncak emosinya tiba-tiba menjadi tersipu karena ucapan Edward.


Edward lalu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah cincin.


" Maaf membuatmu menunggu lama, Aileen. Aku mencintaimu sejak dulu, sekarang dan akan selamanya."


Aileen menangis terharu karena lamaran Edward. Apalagi saat Edward memasangkan cincin itu dijari manisnya Aileen tidak bisa berhenti tersenyum. Keduanya berpelukan hangat karena akhir kisah cinta selama 10 tahun itu menemukan kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2