
Seiring waktu berlalu segala rumor desas desus miring tentang Reynsoft mulai tak terdengar lagi. Tak membutuhkan waktu lama kini perusahaan milik Noah itu kembali pada posisinya semula. Dengan kabar bahwa presdir mereka hanyalah korban fitnah simpati masyarakat kembali Noah dapatkan dan hal itu membawa berkah baginya karena peluncuran produk baru miliknya sukses besar melebihi targetnya.
" Sialan!!."
Jeffrey mengamuk karena berita tersebut dimuat diberbagai media massa. Penyesalan mulai memasuki hatinya andai saja ia tak memberikan segalanya pada Noah mungkin ia masih bisa mengalahkannya.
" Entah karena licik atau pintar kau semakin membuat dirimu tak tersentuh. Harus aku akui kehebatanmu." Jeffrey bicara sendiri.
Rumah Noah.
" Sayang bisa kau pasangkan dasiku?." pinta Noah pada Anna sebelum ia berangkat ke kantornya.
Tanpa membantah Anna segera menuruti perintah suaminya.
Karena tubuh Noah yang tinggi Anna sedikit kesulitan namun memang Noah sedang mengerjainya. Anna sampai berjinjit tapi Noah tak sedikitpun membungkukkan badannya. Mengetahui ia sedang dikerjai Anna menarik kerah Noah sehingga wajah mereka hampir saling bertabrakan.
" Kau meremehkanku ya. Sini biar aku beri pelajaran."
Anna memaksakan ciuman pada Noah membuat Noah ingin tertawa.
" Oke aku minta maaf ya. Tapi rasanya sekarang istriku semakin hebat. Kau banyak belajar ya."
Noah menarik pinggang Anna dan mulai bersikap nakal padanya.
" Hentikan Aaron. Kau bisa terlambat supirmu sudah menunggu dibawah."
" Sepertinya hari ini aku akan masuk siang saja." tandasnya dengan senyuman nakal.
Baru saja memulai suasana panas Noah dihentikan oleh sebuah panggilan telepon. Suara orang diseberang sana sangat ia kenal ternyata itu adalah Samuel, teman lama sekaligus kakak dari Joey.
" Siapa?." tanya Anna sambil mengancingkan kembali bajunya yang sempat dibuka Noah.
__ADS_1
" Hanya temanku, Anna aku harus pergi sekarang."
Anna mengangguk dan Noah seperti terburu-buru meninggalkannya.
Noah melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju alamat yang dikirimkan Samuel. Setelah beberapa menit ia tiba dan bisa melihat Samuel sedang berdiri disamping mobilnya.
Noah keluar dengan perasaan tak menentu karena sudah lama sekali mereka tidak saling bertukar kabar.
" Hei sobat apa kabar?."
Samuel tidak berubah sifatnya masih sama sejak dulu dan itu membuat Noah tak merasa canggung.
" Kapan kau datang dari Jerman?"
" Beberapa hari lalu. Aku mendapat kabar buruk dan dengan terpaksa aku harus meninggalkan karirku disana.
Noah memberi tatapan bingung.
Samuel bercerita seolah itu bukan apa-apa bahkan dia masih bisa tertawa.
" Brengsek.. seriuslah sedikit!."
" Woow .. kau masih saja tempramental. Santai sedikit sobat."
Noah terdiam seperti sedang berpikir lalu tersenyum miring entah karena apa. Samuel yang melihat hanya tersenyum heran. Noah lalu beranjak berniat meninggalkan Samuel. Namun sebelum itu ia memberikan sebuah kartu berwarna emas pada Samuel.
" Pergilah ke kantorku dan tunjukkan kartu itu saat kau datang. Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu."
Samuel hanya membolak-balik kartu itu tidak paham kenapa Noah memberikan benda itu.
" Pria tua itu sepertinya sedang putus asa. Dia ingin menghancurkanku lewat orang-orang disekitarku. Murahan sekali harus kuapakan dia."
__ADS_1
Begitu ia berkata sendiri dalam perjalanan sembari memikirkan Jeffrey.
Mansion Jeffrey.
Pagi yang cerah dan indah namun saat melihat sekelilingnya Jeffrey hanya merasakan kehampaan saja. Ia turun dari lantai atas menuju ruang kerjanya namun betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang sedang menduduki kursinya seolah sudah menunggunya. Ya itu adalah Noah.
" Selamat pagi, ayah."
Dengan nada menyindir dan senyum miring Noah terdegar sedang mengolok-olok Jeffrey.
" Sedang apa kau disini?."
Jeffrey mengeraskan wajahnya tapi Noah semakin mentertawakannya. Noah bangkit dari kursinya lalu berjalan perlahan mendekat pada Jeffrey yang diam mematung.
" Aku baru 10 menit disini dan rasanya sangat membosankan. Aku jadi berpikir apa mungkin kau juga sangat kesepian."
Noah mulai memprovokasinya.
" Karena tidak banyak yang kau lakukan sekarang kenapa tidak kau melamar di Reynsoft agar kau memiliki pekerjaan. Kami akan dengan senang hati menerimamu."
" Kurang ajar kau sekarang sudah berani menghinaku."
Jeffrey mengepalkan tangan dan melayangkan tinjunya pada wajah Noah namun dengan santai Noah menghalaunya.
" Kenapa aku tidak berani. Sekarang kau tidak memiliki apa-apa bahkan kekuasaan sedikitpun tidak ada. Apa rasanya saat aku mengambil semuanya yang kau miliki dan tidak menyisakan apapun selain mansion ini."
Mata Jeffrey mulai bergetar dan memerah menahan amarah dan Noah semakin tersenyum penuh kemenangan.
" Menyerahlah sekarang juga karena kau sudah kalah. Semua yang kau lakukan sia-sia dan hanya akan menambah daftar kejahatanmu dan saat itu tiba.. booomm.. kau akan semakin hancur berkeping-keping."
Jeffrey semakin terpuruk dalam diamnya mengingat semua perkataan Noah yang tidak bisa ia bantah.
__ADS_1
" Dan satu hal lagi, istri dan anakmu sudah memutuskan untuk meninggalkanmu jadi kau tidak perlu banyak berharap lagi. Hidup dan matilah tanpa mereka, oke?. Anggaplah ini sebagai hukuman dari orang-orang yang sudah kau sakiti."