PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Side Story of Laura


__ADS_3

Braak.. Laura setengah melempar dokumen terakhir yang sejak pagi tidak ada habisnya untuk dikerjakan.


Ia pun memijat keningnya dengan wajah lelah.


" Kupikir menjadi presdir hanya perlu tanda tangan." Gerutunya.


Baru ia menghela nafas, Ryn sekretaris seniornya masuk dengan setumpuk dokumen baru yang dibawanya.


Ia lalu menyimpannya dimeja Laura dengan senyum seolah menyemangatinya.


" Ya Tuhan kapan ini akan selesai."


Laura mengeluh dengan menempelkan wajahnya dimeja presdirnya.


" Ini tidak urgent. Anda bisa santai sedikit mengerjakannya."


" Ya, aku akan mengerjakannya nanti. Terima kasih Ryn."


Laura lalu mengambil ponselnya dan ia menekan nomor bodyguardnya.


" Billy, bisakah kau ke ruanganku sebentar."


Tidak memerlukan waktu lama Billy sang pengawal masuk setelah mendapatkan ijin dari Laura.


" Ada apa nona memanggil saya?."


Billy berdiri dihadapan Laura dengan sikap sempurnanya.


" Pacarmu merengek terus padaku katanya kau sulit dihubungi."

__ADS_1


Billy menundukkan kepalanya sedikit malu mendengar hal itu. Seperti yang diketahui bahwa Billy memang sedang menjalin hubungan dengan salah satu sahabat Laura yaitu Natalie.


" Maaf nona, saya tidak bermaksud melibatkan anda dalam masalah kami."


" Tentu saja aku akan selalu terlibat karena Natalie sahabatku. Bisakah kau sedikit saja tidak bersikap dingin padanya dan beri dia perhatian meskipun kau sibuk."


" Baik, saya akan mengingat perkataan anda."


" Baiklah, itu saja yang mau aku katakan. Cepat hubungi Natalie."


Billy keluar setelah diminta Laura. Laura yang sedang suntuk akhirnya diam-diam kabur ke roof top perusahaannya untuk mencari udara segar.


Dari sana ia bisa melihat hampir seluruh kota dari atas. Pikirannya mulai berkelana satu per satu hal mulai muncul di kepalanya.


Namun pendengarannya tiba-tiba menangkap suara beberapa orang yang sedang mengobrol.


" Aku tidak mengerti kenapa posisi presdir bisa jatuh pada anak ingusan seperti Bu Laura.". (Pria 1)


" Hahaha.. kau benar dan sepertinya dia tidak begitu serius menjalankan tugasnya menjadi presdir." ( Pria 2)


" Memangnya kau tidak tahu para eksekutif sebenarnya sedang menunggu dia melakukan kesalahan dan kalau Reynsoft benar-benar jatuh ditangannya maka posisi presdir akan diperebutkan." (Pria 3)


" Jadi itu sebabnya kau sekarang selalu menempel pada direktur mu. Rupanya kau pun mengincar posisi."


" Hahaha tentu saja. Makanya sekarang kita tidak perlu bekerja keras seperti saat presdir kita yang dulu ada. Cukup kita tunggu mereka yang di atas bekerja untuk menjatuhkan posisi Bu Laura."


Deg. Hati Laura berkecamuk tak karuan. Jadi selama ini orang-orang yang ia pikir tulus membantunya mempertahankan perusahaan keluarganya hanyalah para manusia bermuka dua yang haus jabatan.


Didepannya mereka menunjukkan rasa hormat namun dibelakangnya mereka sedang menunggu kehancurannya.

__ADS_1


" Jadi ini maksud kakak saat bilang bahwa yang harus kita percaya hanyalah diri kita sendiri. Mulai sekarang aku akan lebih mempercayai penilaianku sendiri. Orang-orang munafik itu biar aku singkirkan satu per satu."


Laura mengepalkan tangannya dengan seringai tipis. Ia lalu berjalan menuju tiga orang yang sedang menikmati rokok dan segelas kopi di atap gedung perusahaan itu.


Mendengar langkah kaki seseorang mendekat ketiga pria itu segera mematikan rokoknya dengan memasukkannya ke dalam gelas kopi mereka dan mereka langsung menegakkan badan.


" Se-selamat siang, bu.."


Ketiganya bertatapan tidak enak hati karena Laura memergoki mereka kabur pada jam kerja.


" Santai saja. Kalian tidak perlu sungkan padaku karena bagaimana pun aku ini hanya anak ingusan yang jauh dibawah kalian. Benar?."


Tidak ada yang berani menjawab perkataan Laura saat itu mereka hanya mampu menundukkan kepala.


Laura lalu melihat satu per satu ID card yang dipakai ketiganya.


" Bukannya departemen kalian mendapat penilaian terburuk bulan ini dan bulan-bulan sebelumnya? Kalau kalian tahu harusnya kalian bekerja lebih keras lagi bukannya menjadi penjilat dan makan gaji buta."


" Maafkan kami, bu. Kami tidak akan mengulanginya lagi. Kami akan patuh dan tidak akan melarikan diri lagi disaat jam kerja."


ucap salah satu dari mereka.


" Kalian tahu bukan karena hal itu aku menjadi kesal, kan. Segera temui ruang administrasi dan ambil sisa gaji juga pesangon kalian."


Laura membalikkan badannya berjalan dengan percaya diri dan semangat yang membara dimatanya.


Tidak ada yang boleh merendahkannya karena saat ia menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya maka siapapun tidak ada yang bisa menghentikannya.


" Akan aku tunjukkan siapa aku sebenarnya."

__ADS_1


__ADS_2