PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

Anna terus menangis selama didalam mobil bersama Michael. Pikirannya terus menuju Noah yang ia tinggalkan. Anna mengingat dari tatapannya ia begitu terpukul. Saat menyadari malam semakin larut dan mereka berada ditempat yang asing, Anna penasaran kemana Michael akan membawanya.


" Ayah.. Kita akan pergi kemana?"


Dengan suara serak ia bertanya pada ayahnya.


" Tempat yang jauh dari sini." jawab Michael.


" Tidak. Aku tidak ingin pergi."


" Ini semua demi kebaikanmu, Anna. Jadi menurutlah."


Anna memijat kepalanya. Ia sangat lelah untuk berdebat dan akhirnya ia hanya diam dengan beribu pertanyaan dikepalanya.


Beberapa jam setelah itu Michael menepikan mobilnya di sebuah rumah sederhana. Ia dengan lembut membangunkan Anna.


Saat melihat ternyata fajar sudah terbit dan pemandangan sekelilingnya seperti sebuah desa.


" Ini dimana.?"


Anna mengusap matanya yang sembab dan melihat kesana kemari tempat asing itu.


" Nanti juga kau akan tahu."

__ADS_1


Keduanya lalu turun dari mobil, Michael lebih dulu berjalan lalu mengetuk pintu kayu didepannya.


Terdengar suara seseorang melangkah mendekat dan setelah pintu terbuka terlihat sosok seorang wanita yang sudah tua dihadapan mereka.


" Ya Tuhan.. Ryan."


Ucapnya sembari menahan haru. Ia lalu memeluk Michael. Wanita tua itu lalu menoleh kearah Anna dan melepaskan pelukannya pada Michael.


" Kau pasti Anna."


Tatapan lembut milik wanita itu sangat menyentuh hati. Anna berusaha tersenyum meskipun merasa canggung.


" Masuklah dulu. Kalian pasti lelah."


Setelah dipersilahkan, Anna dan Michael duduk dikursi diruang tamu rumah itu.


Ucap Michael yang diangguki oleh Anna. Setelah sedikit berbincang Anna terlihat sangat lesu. Ia lebih sering melamun dibanding mendengarkan percakapan dua orang didepannya.


Menyadari hal itu wanita yang bernama Linda melirik ke arah Michael. Seperti tahu maksud Linda, Michael sedikit mengangguk.


" Anna, kau pasti kelelahan. Mari aku antar kau beristirahat."


Linda dengan penuh perhatian menuntun Anna menuju kamar yang sudah ia persiapkan.

__ADS_1


" Beristirahatlah, aku akan membangunkanmu saat sarapan."


Anna menjawab dengan anggukan, ia lalu menutup pintu kamar setelah Linda sudah tak terlihat lagi. Ia mendudukan dirinya dikasur dan kamar itu cukup nyaman.


Anna membaringkan tubuhnya menyamping, ia mengulurkan tangannya diatas kasur itu membayangkan Noah berada disampingnya.


" Aku sudah merindukanmu."


Ucapnya lirih dengan senyum getir.


Anna memejamkan matanya namun pikirannya terus dipenuhi Noah. Ia merubah posisi tidurnya namun tetap ia tidak bisa terlelap meskipun ia sangat mengantuk.


Aku harus mendengar semua ceritanya sekarang juga.


Anna memutuskan untuk bicara pada ayahnya ia lalu bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar. Saat akan menuruni tangga ia menghentikan langkahnya. Terdengar suara ayahnya yang sedang berbicara pada Linda.


" Harusnya saat itu aku menentang hubungan mereka jadi Anna tidak akan terlalu terluka. Aku sangat plin plan. Sebetulnya aku tahu laki-laki itu sangat mencintai Anna tapi aku tidak bisa melupakan bagaimana ayahnya membunuh keluarganya, jika Anna tidak beruntung mungkin dia pun sudah tiada."


" Ryan.. Aku tahu kekhawatiranmu terhadap putrimu. Tapi jika memang laki-laki itu sangat mencintai Anna dia pasti tidak akan berada dipihak ayahnya. Dan mengapa kau sangat menyayangi putri angkatmu."


Dengan raut wajah yang sedih Michael terdiam selama beberapa saat, ia termenung seperti sedang menerawang ingatannya.


" Karena aku sudah sangat berdosa padanya. Aku pun ikut andil dalam kecelakaan itu bukan hanya karena aku anak buah Jeffrey tapi karena aku ingin balas dendam pada ayah Anna yang sudah merebut kekasihku, Sandra ibu kandung Anna. Aku tidak tahu bahwa dalam mobil yang aku sabotase Sandra dan Anna mereka berdua berada disana. "

__ADS_1


Linda menutup mulutnya tak percaya. Ia sangat mengerti perasaan putra angkatnya itu, ia lalu memeluk Michael penuh kasih sayang berusaha menguatkannya.


Michael semakin menunduk dengan penuh penyesalan ia sesekali menghapus air matanya yang lolos sekuat apapun ia menahannya.


__ADS_2