
Praaaang... Suara nyaring terdengar dari vas bunga keramik yang jatuh. Michael dan Linda spontan menghampiri sumber suara. Dan saat melihat kearah tangga mereka terkejut mendapati Anna sedang berdiri berpegangan dengan wajah yang pucat.
Segera Michael menaiki tangga karena khawatir Anna akan terjatuh.
" Anna.. Sejak kapan kau.."
Anna menepis tangan Michael dengan kasar dan mundur beberapa langkah.
" Kau.. Apa benar kau seorang manusia? Bagaimana mungkin kau melakukan hal itu pada kami.. Aaakkh.."
Anna histeris mengetahui kenyataan Michael adalah pembunuh keluarganya.
" Anna.. Dengarkan dulu penjelasanku."
" Aku sudah mendengar semuanya. Kau pembunuh.. Aku membencimu."
Sruuk. Michael tiba-tiba berlutut didepan Anna.
" Kumohon maafkan aku. Jangan membenciku."
Ucap Michael dengan air mata yang terus mengalir.
" Apa kau pikir dengan memberiku kehidupan kau bisa menebus dosamu karena membunuh orang tuaku. Kau bahkan membuatku melupakan mereka karena kehadiranmu. Aku tidak tahu bahwa ayah yang ku sayangi selama ini ternyata orang yang mengerikan."
Anna sungguh terpukul saat ini, ia meluapkan semua kekecewaan terhadap Michael.
Sedangkan Michael dia hanya menunduk terus memohon pengampunan Anna.
" Aku memang membenci ayahmu. Tapi tidak sedikitpun aku membencimu dan ibumu. Semua yang terjadi memang salahku tapi aku tidak mengharapkan kau dan ibumu celaka."
" Tapi semuanya sudah terjadi, dan kau juga tidak bisa mengembalikan mereka. Mulai saat ini kau bukan lagi ayahku, aku akan hidup sesuai kemauanku dan kau hiduplah terus dalam rasa bersalah. Itu hukumanmu."
__ADS_1
Kalimat kejam yang keluar dari mulut Anna sangat menyakitkan bagi Michael. Namun ia tidak bisa berbuat apapun, pria itu masih terus berlutut meskipun Anna meninggalkannya.
Linda yang menyaksikan kepergian Anna menatap gadis itu dengan khawatir.
Anna menjalankan mobil setelah mengambil kuncinya beserta kartu kredit milik Michael.
Dari wajahnya terlihat penuh kemarahan, ia menjalankan mobil dijalan kecil dengan kecepatan tinggi. Sesekali ia mengusap air mata yang menghalangi pandangannya.
Anna tiba-tiba berhenti saat ia sudah tidak bisa menahan lagi sesak didadanya. Ia menangis sejadinya mengingat semua perkataannya kepada Michael. Hatinya sungguh sakit saat ayahnya berlutut didepannya, padahal ia tahu Michael adalah orang yang selalu menjaga harga dirinya.
Setelah merasa tenang, Anna kembali melajukan mobilnya mengarah ke kota tujuannya.
...........
Di taman belakang mansion, Jeffrey tengah asyik menikmati kopi sambil merasakan matahari pagi yang masih hangat.
Sedangkan Julia dan Laura, mereka pergi bersama untuk berbelanja sejak pagi.
Baru ia akan meneguk kopinya, Noah menghampiri dengan wajah kusut.
Jeffrey yang sudah bisa menebak arah pembicaraan Noah berusaha tenang dengan menghindari pertanyaannya.
" Apa yang kau maksud? Oh.. Tentang kau yang bekerja sama dengan FBI untuk menggagalkan rencana musuh kita? Atau kau mencari bukti-bukti kejahatan mereka dan melaporkannya?."
Dengan nada menyindir Jeffrey membongkar rencana Noah dibelakangnya.
" Bukan ini tentang Anna, kau membunuh keluarganya, kan?"
Wajah dingin Noah yang menyeramkan tidak membuat ayahnya bergeming. Ia membalas dengan menatap tajam padanya.
" Membunuh adalah pekerjaan kita sejak dulu kenapa kau harus terkejut."
__ADS_1
" Kau tahu sudah membunuh orang tuanya tapi kau berpura-pura menerimanya. Ucapanmu padanya waktu itu hanyalah omong kosong."
" Lalu apa aku harus langsung menyingkirkannya saat tahu dia adalah korban selamat dari kecelakaan yang aku dalangi. Dia bukan ancaman bagiku jadi aku tidak perlu melakukan hal itu lagipula dia sudah meninggalkanmu."
" Bagaimana kau... "
Jeffrey tertawa kecil melihat kebingungan diwajah Noah.
" Aku meminta ayah angkatnya, Ryan untuk membawanya pergi dan aku mengancam akan membunuh anaknya jika dia masih berada disisimu."
Wajah Noah semakin mengeras, ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga tidak percaya dengan perkataan ayahnya.
" Bisakah kau sekali saja membiarkanku bahagia. Sampai kapan kau akan menggunakanku untuk memenuhi ambisimu."
Suara keras Noah terdengar seperti langit yang bergemuruh. Jeffrey sedikit tersentak karena hal itu.
" Kau lupa aku yang memberikan semua yang kau miliki sekarang. Tanpaku kau mungkin sudah mati sama seperti ibumu."
Tanpa terasa air mata Noah jatuh diwajahnya yang penuh kemarahan. Kepalanya sakit namun ia menahannya.
" Aku tidak pernah menginginkan semua ini. Aku hanya berharap kasih sayang tulus darimu, kupikir kau akan membesarkanku seperti anakmu sendiri bukan menjadi pengganti anakmu yang mati dan membentukku menjadi seperti dirimu."
Jeffrey menghela nafas kasar, Noah yang selama ini selalu mengikuti perintahnya mulai memberontak bahkan mengungkit masa lalu yang mereka kubur.
" Apa yang membuatmu berubah seperti ini. Jangan bilang karena gadis itu."
" Iya, dia yang membuatku berubah dan kembali mengingat jati diriku yang kulupakan. Aku bukan robot yang bisa kau kendalikan semaumu. Karena sekarang aku pemimpin Phoenix aku bisa melakukan apapun dan kau tidak bisa mencegahku."
Noah berbalik dan ingin pergi dari sana. Namun suara Jeffrey menghentikan langkahnya.
" Apa yang akan kau lakukan."
__ADS_1
Noah tetap membelakangi Jeffrey.
" Kau tunggu dan lihat saja. Jika kau gegabah maka kehancuranmu akan segera datang."