PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Lepaskan Wanitaku


__ADS_3

Masalah yang datang bertubi-tubi membuat Anna berniat kembali ke kota asalnya. Ia terlalu takut untuk tinggal di apartemennya dan tidak ingin menyusahkan Grace.


Dengan membawa koper besar, Anna berjalan menuju sebuah taxi yang ia pesan.


Setelah memasukkan barang bawaannya ia kemudian duduk, saat itulah perasaannya mulai tidak enak karena supir taxi itu sejak tadi berperilaku aneh. Dan benar saja tiba-tiba ia menyemprotkan sebuah cairan, Anna terbatuk dan berusaha membuka pintu namun sialnya pintu mobil sudah terkunci.


Dengan sisa tenaga yang ada Anna berteriak namun tidak lama setelah itu tubuhnya mulai terasa berat dan ia pingsan seketika.


Saat membuka mata, Anna sadar dirinya duduk dengan tangan dan kaki terikat. Anna melihat sekelilingnya dan ia berada di sebuah tempat gelap dan kotor.


" Tolong.. Siapapun tolong aku.."


Anna berteriak kencang namun tempat itu sangat sepi. Tangis putus asa mulai terdengar darinya.


Brak. Suara pintu terbuka bergema di seluruh ruangan itu. Muncul dua orang pria yang tidak dikenalnya.


" Siapa kalian?."


" Kami malaikat pencabut nyawamu."


Jawab salah satu pria.


" Sayang sekali wanita cantik sepertimu harus bernasib sial."


Seru satu orang lainnya dengan mencengkram dagu Anna.


Mendengar perkataan orang-orang itu membuat pikiran Anna kosong. Seketika rasa takutnya kembali muncul dan tangis Anna semakin kencang.


" Aku tidak mau mati. Tidak.. Ayah.."


Anna berguman sembari menunduk.

__ADS_1


" Harus kita apakan dia?."


" Kita tunggu perintah bos dulu."


" Apa salahku pada kalian?."


" Salahmu karena kau kekasih Elnathan Noah."


" Apa? Aku bukan kekasihnya kalian salah paham."


" Kau tidak bisa mengelak karena semua orang sudah tahu."


Drrrrt.. Drrrrt.. Ponsel pria itu tiba-tiba saja berbunyi. Ia mengangkat panggilan itu dan mendengarkan dengan baik instruksi orang yang berbicara dengannya.


Setelahnya ia menatap temannya. Seperti sudah mengerti maksudnya, temannya lalu membuka ikatan Anna.


Anna diseret keluar dari tempat itu. Tanpa tahu kemana tujuannya ia hanya bisa pasrah saat ia dibawa ke dalam sebuah mobil.


" Itu artinya nasibnya lebih buruk."


Anna yang mendengarkan pembicaraan keduanya hanya bisa menatap bingung namun sedikit lega karena ia tidak akan dibunuh, setidaknya itu yang ia harapkan.


Perjalanan mereka melewati jalanan sepi dengan pemandangan hutan di kanan dan kiri mereka. Tanpa disadari dua mobil sejak tadi mengikuti.


Dengan kecepatan tinggi tiba-tiba satu mobil menyalip dan memotong jalan hingga mereka harus berhenti mendadak.


" Sial."


Kedua pria itu sudah mengerti situasi, segera masing-masing dari mereka mengeluarkan sebuah pistol.


Keduanya turun dengan satu orang menyandera Anna dan menodongkan pistol di kepalanya.

__ADS_1


Anna yang ketakutan dan bingung dengan situasinya melihat orang yang baru saja turun dari mobil itu ternyata Noah diikuti tiga pengawalnya.


Dari mobil dibelakang pun beberapa pengawal Noah bersiap siaga mengepung mereka lengkap dengan senjata.


Menyadari mereka kalah jumlah dengan para pengawal Noah kedua penjahat itu mulai terlihat panik.


" Lepaskan wanitaku."


Seru Noah.


" Coba saja kalian mendekat atau wanita ini mati."


" Percuma kau menggertakku. Ku beri dua pilihan, lepaskan kekasihku dan kalian selamat atau kalian mati saat ini juga."


Mendengar kata-kata Noah, Anna pun ikut bergidik. Baru kali ini ia melihat wajahnya berubah menakutkan.


Kedua penjahat itu tidak memberi jawaban karena mereka sudah tahu sifat Noah. Menuruti perintahnya atau tidak, Noah pasti tidak akan melepaskan mereka.


Dalam keadaan tersudut akhirnya mereka menyerah. Pria yang memegangi Anna tiba-tiba mendorongnya hingga tersungkur dan ia mengarahkan pistolnya pada Noah.


Dor.. Dor.. Dor.. Suara tembakan terdengar beberapa kali dan Anna hanya bisa menutup telinga dan matanya.


Saat membuka mata Anna melihat Noah sudah berjongkok dihadapannya, mengulurkan tangan untuk membantunya bangun.


Anna melirik ke arah para penjahat itu dan mendapati mereka sudah tergeletak bersimbah darah.


Mereka lebih memilih mati daripada harus disiksa oleh Noah, atau bahkan melihat orang-orang terdekat mereka menderita karena kekejaman Noah.


Anna tidak bisa menutupi rasa terkejutnya hingga tanpa sadar ia berteriak histeris karena pertama kalinya melihat seseorang mati mengenaskan di depan matanya.


Noah mencoba menenangkannya dengan mendekap Anna, namun ia kembali tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2