
" Felix.. siapkan mobil."
Noah berteriak dari lantai dua rumahnya ia lalu turun dengan berlari sekuat tenaga. Felix ternyata sudah menunggunya didepan pintu dengan sebuah mobil tanpa diperintahkan ia membukakan pintu agar Noah bisa segera masuk.
" Kau mau kemana, Anna.."
Noah duduk dengan tidak tenang.
Setelah beberapa menit berlalu Noah menemukan mobilnya yang dibawa Anna.
Melihat Noah mengejarnya Anna tak kalah semakin menginjak gas di jalanan sepi itu. Sesekali ia mengusap matanya yang berair dan menghalangi pandangannya.
" Kumohon berhenti Anna."
Noah terus membunyikan klaksonnya berharap Anna berhenti dan Noah semakin mendekat pada mobil Anna namun itu tak menghentikan Anna untuk terus menjauh. Diluar dugaan tiba-tiba ada mobil lain yang menyalip Noah sehingga menghalanginya.
Saat menoleh ke kaca spion Anna tak curiga sedikitpun dengan mobil yang juga mengejarnya. Aksi kejar-kejaran ketiga mobil itu tak bisa dihindari.
Noah semakin kesal dengan orang yang mengganggu jalannya dan tidak memberikan kesempatan ia untuk mendahului. Ia bahkan tak berhenti mengumpat padanya.
Supir mobil itu membukakan jendela mobilnya sengaja menunjukkan wajahnya melalui kaca spion mobilnya dan itu adalah Xavier yang sedang menyeringai licik.
" Sialan.."
Jantung Noah berdebar kencang dan ketakutan mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
" Hari ini kau akan merasakan apa yang dulu kurasakan. Melihat kekasihmu mati didepan matamu sendiri."
__ADS_1
Mata Xavier tertutup kabut dendam hingga dengan kecepatan penuh ia lalu menabrakkan mobilnya pada mobil yang dibawa Anna.
Anna tersentak dan menjadi panik mobilnya lalu oleng hingga menabrak pembatas jalan.
Mobil itu berputar hingga 360° sebelum menabrak untuk yang kedua kalinya dan berhenti dengan asap yang mengepul di bagian belakangnya. Begitupun dengan mobil Xavier yang terbalik ditengah jalan setelah beberapa kali berguling di jalanan.
" TIDAAAKKK...."
Suara bak guntur itu menggelegar Noah menginjak rem nya sembari menutup matanya.
Xavier yang bersimbah darah didalam mobilnya hanya tersenyum penuh kemenangan setelah membalas dendamnya pada Noah. Namun itu tak lama ia lalu mengerang kesakitan suaranya tercekat dan ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan mata terbuka.
Noah keluar dari mobilnya dengan perasaan tak menentu. Kakinya begitu lemas namun ia memaksakan berlari menghampiri mobil Anna.
Saat ia melihat Anna sudah tak sadarkan diri dengan luka di bagian kepala yang darahnya hampir membasahi seluruh wajahnya.
Noah histeris disamping mobilnya namun ia tak berani menyentuh tubuh Anna. Tidak lama kemudian suara sirine paramedis datang mendekat dan Noah mundur untuk memberikan ruang. Mereka dibantu pemadam kebakaran segera melakukan evakuasi. Butuh waktu agar mereka bisa mengeluarkan Anna dari mobil yang sudah ringsek itu dan setelahnya mereka segera mengecek apakah Anna masih hidup atau tidak.
" Dia masih bernafas cepat bawa ke rumah sakit."
Begitu kata seorang wanita yang memeriksanya. Noah yang hampir putus asa akhirnya sedikit punya harapan.
Selama Anna mendapatkan tindakan medis Noah tak berhenti kesana kemari menunggu. Hingga Edward datang setelah mendengar kabar dari salah satu rekannya yang bertugas dipusat emergency.
" Apa yang terjadi?."
Edward belum bisa mengontrol ritme nafasnya.
__ADS_1
" Istriku kecelakaan karena aku.."
Noah tidak bisa meneruskan kata-katanya ia terlihat sangat terpukul. Edward mendekat dan memberinya pelukan untuk menguatkan Noah tak disangka tangis Noah pecah dengan tubuh gemetar. Sangat bertolak belakang dengan pembawaannya selama ini.
Setelah beberapa jam berlalu seorang dokter keluar dari ruang operasi dan mencari wali Anna.
" Wali nona Anna."
Noah terperanjat karena ia terpanggil segera ia menghampiri dokter tersebut.
" Bagaimana kondisi istri saya, dokter?."
" Karena luka di kepalanya cukup parah sekarang dia dalam keadaan koma. Dan juga benturan hebat di bagian perutnya membuat bayi anda tidak bisa kami selamatkan."
Pandangannya Noah sesaat menjadi kabur ia bahkan kesulitan berdiri dengan benar sehingga Edward yang berdiri agak jauh darinya segera berlari untuk menopang tubuh Noah yang takut ambruk.
" Ini semua salahku, Edward.. Kalau saja aku tidak egois kalau saja aku melepaskan Anna sejak dulu dia tidak akan menderita seperti ini."
Noah memukuli kepalanya sendiri dengan penuh penyesalan dan ketakutan akan kehilangan Anna selamanya. Ia bahkan menangis tersedu-sedu hingga Edward sendiri pun hanya terdiam membiarkan Noah melepaskan emosinya.
Anna dipindahkan keruang ICU setelah dinyatakan koma oleh dokter yang merawatnya. Noah diperbolehkan menemuinya meskipun tidak lama.
Saat masuk Noah hampir tidak bisa menahan lagi rasa sakit dihatinya. Anna terbaring lemah dengan banyaknya alat-alat yang menempel di seluruh tubuhnya. Anna tidak bisa bernafas sendiri tanpa bantuan alat intubasi. Setelah melakukan operasi pada otaknya rambut Anna bahkan dipangkas habis. Luka-luka di beberapa bagian tubuhnya pun terlihat jelas membuat Noah ingin menggila.
Perlahan ia duduk disampingnya dan menggenggam tangan Anna dengan hati-hati takut ia menyakitinya.
" Maafkan aku Anna. Jika aku tahu akan jadi seperti ini aku pasti akan mengiyakan segala keinginanmu. Aku tidak peduli jika anak kita lahir dan membenciku seperti yang aku takutkan selama ini, asalkan kau bahagia. Kumohon bangunlah Anna. Kau harus bangun dan menghukum ku yang berdosa ini."
__ADS_1
Noah kembali menangis dalam diam. Ia tak hentinya meminta maaf pada Anna yang entah mendengarnya atau tidak. Hanya bunyi monitor yang menyauti ucapannya di ruangan yang dingin dan sepi itu.