PHOSPHENE : Your Other Side

PHOSPHENE : Your Other Side
Peringatan


__ADS_3

Kampus Laura, beberapa hari kemudian.


Natalie dan Tasya berjalan menuju tempat parkir di kampusnya setelah selesai dengan perkuliahan mereka.


" Aku merindukan Laura, apa kita temui dia dirumahnya."


" Memang kau tahu alamat rumahnya."


Seru Tasya kepada Natalie yang dibalas gelengan kepalanya.


" Kita sahabat macam apa yang tidak tahu apa-apa tentang Laura."


Lanjut Natalie dengan ekspresi sedih.


" Kita bukan tidak tahu apapun tapi memang Laura yang menutup diri. Apa kau tidak berpikir bagaimana seorang mahasiswa selalu diawasi bodyguardnya."


" Memang apa yang kau pikirkan. Kukira hal yang wajar jika anak orang kaya memiliki bodyguard."


" Awalnya kupikir begitu, tapi semenjak kejadian kemarin aku jadi berpikir mungkin saja ada hal lain yang ditutupi oleh Laura."


Natalie menghentikan langkahnya membuat Tasya pun berhenti.


" Tasya, apapun itu bagiku Laura adalah teman yang baik. Aku tidak peduli apapun yang dia sembunyikan karena aku yakin dia mempunyai alasan. Kita harus percaya padanya."


" Iya kau benar. Aku tidak akan memikirkan hal itu lagi karena memiliki kalian di sisiku itu lebih dari cukup."


Keduanya saling melemparkan senyum. Siapapun yang melihat persahabatan indah yang mereka miliki akan merasa iri. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi mereka selain saling mempercayai dan menjadi tempat bersandar satu sama lain.


Mereka lalu melanjutkan langkah menuju mobil Natalie, namun tiba-tiba seseorang muncul entah dari mana menghalangi jalan mereka.


Natalie dan Tasya spontan bergidik saling berpegangan saat mengenali orang itu. Billy bodyguard Laura berdiri dengan wajah tegas menatap manik keduanya bergantian.


" Siapa diantara kalian yang memiliki ide untuk kabur dengan nona kami."


Tidak ada yang menjawab selama beberapa saat. Natalie dan Tasya hanya saling melirik.


Tasya lalu menoleh ke arah Billy dan ternyata ia sedang ditatap olehnya.

__ADS_1


" Bukan aku, dia.."


Tasya menunjuk kearah Natalie yang lalu mendapat senggolan keras dari Natalie.


Tasya menutup mulutnya karena sadar ia baru saja mengorbankan sahabatnya. Rasa takut pada Billy mengalahkan kesetiaannya, karena ingin segera keluar dari situasi itu Tasya pun mulai beralasan.


" Nat, kau tahu kan.. sifat dasar manusia yang harus kita miliki adalah tanggung jawab...haha.."


Tasya tergagap saat mengatakan itu ia pun hanya bisa tertawa canggung. Natalie yang panik memegangi tangannya dengan keras dengan mata yang mengisyaratkan agar Tasya berhenti bicara.


" Ya Tuhan aku lupa pacarku akan menjemput hari ini dia pasti sudah menunggu."


Natalie yang sudah tahu sifat Tasya semakin panik mendengar hal itu.


Matanya mulai memohon namun Tasya yang sudah terlanjur bersalah melepaskan tangan Natalie dan berlari begitu saja.


" Dasar penghianat!!."


Natalie meluapkan kekesalannya pada sahabatnya. Tasya yang mendengar dirinya disebut penghianat semakin merasa bersalah.


Tasya meracau berbicara sendiri sambil terus berlari menjauh dari tempat Natalie dan Billy.


Natalie berbalik dengan menghela nafas. Ia sudah pasrah dengan yang akan terjadi padanya bagaimanpun ia harus bertanggung jawab karena mengajak Laura kabur saat itu.


" Maafkan aku."


Natalie menunduk dan membungkukkan tubuhnya.


" Kau pikir dengan kata maaf semua bisa selesai dan waktu kembali."


Wajah galak Billy terlihat penuh kekesalan. Meskipun ia berbicara pelan namun suara beratnya terdengar menyeramkan bagi Natalie.


" Aku hanya..."


" Apa benar kau sahabatnya. Jika kau tahu akan berbahaya bagi nona Laura keluar dari pengawasanku maka seharusnya kau tidak bertindak gegabah."


" Tuan, aku bisa menjelas..."

__ADS_1


" Sebagai orang yang berpendidikan harusnya kau tahu konsekuensi dari tindakanmu. Kau sudah bukan anak-anak yang masih belum tahu hal yang benar dan salah. Karena tindakanmu apa kau tahu berapa orang yang menderita."


Natalie tertegun oleh perkataan menusuk dari Billy. Ia sangat tersinggung sehingga emosinya tidak bisa ia tahan lagi.


" Memangnya aku tahu akan terjadi penculikan waktu itu. Aku hanya ingin dia sedikit merasakan kebebasan karena kau memperlakukannya seperti seorang tahanan."


" Kau tidak tahu apa-apa."


" Iya kau benar aku tidak tahu apapun tapi aku sangat tahu perasaan Laura."


" Keselamatan nya adalah prioritas ku jadi aku tidak peduli dengan perasaannya."


" Tentu saja. Aku sangat tahu orang sepertimu akan mengatakan itu."


Natalie melangkah mendekat lalu melipat tangannya di dada dan wajahnya berubah menantang Billy. Ia sudah tidak peduli meskipun harus berdebat dengannya. Billy menaikan sebelah halisnya, sifat gadis didepannya sangat menarik.


" Orang sepertiku?."


" Iya, orang yang kaku, angkuh, berhati dingin dan tidak berperasaan."


Natalie berkata sambil menekan-nekan dada Billy dengan telunjuknya. Billy yang hanya diam lalu ia memegangi tangan Natalie yang berada di dadanya.


" Berani sekali kau menyentuhku?"


Ucap Billy.


" Aku tidak menyentuhmu, kau yang menyentuhku. Lepaskan tanganku."


Natalie mencoba menarik tangannya sekuat tenaga namun sia-sia. Ia mulai takut saat mata Billy terus menatapnya.


" Dengar, ini peringatan pertama dan terakhir. Jika kau masih ingin berteman dengan nona Laura jangan pernah menghasut atau mempengaruhi dia untuk bertindak bodoh lagi."


Billy melepaskan tangan Natalie, ia berbalik dan pergi meninggalkan Natalie yang melihatnya dengan tatapan kesal. Ia lalu membuat gestur seolah sedang meninju Billy.


" Kau pikir aku takut denganmu."


Natalie menjulurkan lidah dan ia pun kembali menuju mobilnya untuk segera pulang.

__ADS_1


__ADS_2