
Malam mulai menyapa, orang-orang mulai menghentikan aktivitas mereka untuk beristirahat namun berbeda dengan mereka yang mencari kesenangan di dunia malam. Waktu yang dinanti mereka tiba inilah saatnya meramaikan bar-bar yang baru saja buka.
Dibawah lampu disko yang menyala menyilaukan mata, beberapa orang berlenggak lenggok. Ada pula yang sekedar datang untuk minum termasuk Noah yang sudah hampir 1 jam berada disana.
Diruang privat yang ia booking, Noah duduk sendiri dengan beberapa minuman didepannya.
Pintu lalu terbuka tanpa ia mendengar suaranya.
" Kupikir kau tidak akan datang."
Ucapnya pada orang yang baru saja masuk.
" Kenapa kau tidak minum dengan temanmu saja. Untuk apa kau memanggilku kemari."
Balas Edward yang hanya berdiri dengan menyelipkan tangannya disaku celananya.
" Teman. Temanku satu-satunya bukan orang yang selalu bisa ku temui kapanpun dan bahkan sekarang aku ragu memanggilnya teman. "
Noah berucap dengan ekspresi kosong dan tanpa menatap Edward membuatnya tidak mengerti maksud perkataan Noah.
__ADS_1
Edward pun duduk dengan terpaksa dihadapan Noah dan ia mengambil segelas minuman lalu meminumnya sampai tandas.
" Aku sudah minum denganmu, jadi aku pergi sekarang."
Edward sudah setengah berdiri, namun ucapan Noah selanjutnya membuatnya mengurungkan niatnya.
" Apa sebuah kasus yang sudah lama bisa dibuka kembali untuk diselidiki? Bagaimana jika kasus yang diyakini sebagai kecelakaan sebenarnya adalah pembunuhan. Dan aku mengetahui siapa pembunuhnya."
Noah berbicara seperti orang mabuk, wajahnya datar namun terselip kemarahan.
Edward mencoba mengerti maksud pembicaraan Noah. Ia pun menjawabnya sebaik mungkin sebagai seorang aparat kepolisian.
Noah menghela nafasnya kasar. Jawaban Edward membuatnya putus asa. Rasa benci dan kemarahan dihatinya membuat ia berpikir melakukan hal yang bahkan ia sendiri tahu tidak mungkin bisa dilakukan.
" Takdir begitu kejam padaku. Hahaha.."
Tawa Noah terdengar sangat getir, Edward sedikit kasihan melihat Noah yang seperti itu.
" Edward.. Kau sangat ingin menangkapku, kan? Aku tahu kau sangat membenci orang sepertiku. Ayahmu yang seorang jaksa bahkan bisa dipenjara karena difitnah oleh ayahku."
__ADS_1
" Apa?"
" Iya, ayahmu adalah orang yang berani menyelidiki kegiatan kelompok kami lalu ayahku membuatnya dipenjara."
Edward naik pitam mendengar penuturan Noah, ia yang tersulut emosi langsung mencengkram kerah kemejanya.
" Apa maksudmu?."
" Kau mengerti maksudku, prinsip kami adalah menyingkirkan orang yang menghalangi jalan kami. Masih beruntung ayahmu hanya dipenjara, ayahku adalah pembunuh berdarah dingin yang bisa melenyapkan siapapun semaunya."
Wajahnya terlihat penuh kemarahan namun Edward mulai melepaskan cengkramannya.
" Rasa keadilan yang mengalir dalam darahmu jangan pernah kau hilangkan, aku tidak bisa menghancurkan Phoenix sendirian maka dari itu kau harus membantuku."
" Kenapa kau ingin menghancurkan ayahmu sendiri?."
" Dia bukan ayahku, sejak kecil aku hanya dilatih untuk menjadi penjahat seperti dia. Ada orang yang harus aku lindungi darinya maka dari itu kumohon bantulah aku, Edward. "
Noah lalu menceritakan semua hal yang terjadi padanya dan apa saja yang dilakukan ayahnya. Edward mendengarkan dengan baik semua yang dikatakannya hingga ia merasa pandangannya terhadap Noah berubah.
__ADS_1
Karena ia pun memiliki dendam pada ayah Noah, Edward bersedia membantu Noah untuk menghancurkan Phoenix secara perlahan. Kini keduanya menjadi sekutu untuk mencari keadilan bagi mereka.