
Suara Televisi.
Keberhasilan polisi dan FBI menggagalkan perdagangan manusia menjadi prestasi besar hingga diapresiasi oleh presiden. Para pelaku merupakan sebuah kelompok besar yang biasa melakukan kejahatan...bla..bla..bla..
" Rencanamu berhasil bos."
Stephen menyanjung Noah yang seolah tidak peduli dengan berita yang sedang hangat dibicarakan. Ia masih menyesap rokoknya dengan santai dan sesekali menghembuskan asapnya ke udara.
" Masih ada Wild Blood yang harus kita taklukkan jadi jangan senang dulu."
" Mengenai hal itu aku sudah melakukan yang kau perintahkan. Menyebar rumor tentang emas itu dan sepertinya banyak orang yang tertarik."
" Bagus Stephen, tinggal sedikit lagi kita bisa mendapatkannya. Aku yakin mereka akan merubah rencana karena sudah banyak orang yang mengincarnya dan akhirnya Wild Blood akan masuk perangkap kita."
" Lalu setelah ini selesai apa rencanamu?."
" Hidup bebas."
Noah mengulum senyum yang ditanggapi heran oleh Stephen.
" Stephen, kita sudah tumbuh bersama sejak kecil tidakkah kau merindukan saat-saat itu?."
" Iya kita sering bermain bersama karena ayahku adalah kaki tangan ayahmu." Stephen menimpali.
" Saat itu kita tidak pernah terpikir akan menjadi seperti sekarang. Jika waktu kembali apa kau akan tetap memilih jalan ini?."
Stephen terlihat tidak memiliki jawaban.
" Aku pun sama. Aku kesulitan untuk memutuskan."
" Apa kau berniat untuk berhenti karena istrimu?."
__ADS_1
" Memangnya aku punya pilihan. Tapi jika memang ada maka jawabanku iya."
Gurat kesedihan terpancar dari wajah dinginnya. Tak ada yang tahu apa yang sedang dipikirkan Noah dan Stephen pun tak berani menggali lebih jauh.
…..…...........
Tak.. tak.. Anna memainkan sendoknya hingga menimbulkan suara. Makanan yang tersaji didepannya telah lama menjadi dingin karena tak sedikitpun ia menyentuhnya.
Ia menopang dagu dengan tatapan kosong dan sesekali ia melirik kursi didepannya.
Entah kapan terakhir kalinya ia makan bersama Noah dirumah itu ia tak lebih dari tahanan yang hanya menumpang makan dan tidur disana.
Sudah sejak lama ia hampir tak bertemu suaminya karena Noah akan pulang setelah ia tidur dan kembali pergi sebelum Anna bangun bahkan tak jarang ia tidak pulang kerumah. Anna berusaha mengerti namun kali ini ia tak bisa lagi menahan sesak didadanya hingga ia memutuskan untuk menunggunya datang.
Noah sampai dirumah dini hari. Kondisi rumah yang telah gelap membuat ia tak sadar bahwa Anna sedang duduk menunggunya. Terlihat ia menyilangkan kaki dan melipat kedua tangannya dengan pandangan lurus. Anna mendekat padanya hingga Noah tak ada kesempatan untuk menghindar.
" Kenapa kau belum tidur?."
" Itu bukan hal penting sekarang yang ingin aku bicarakan adalah kenapa kau menghindariku?."
" Aku lelah jadi bisakah kita bicara nanti?."
Noah melenggang begitu saja menuju tangga tapi Anna tak membiarkannya.
" Dengarkan dulu aku bicara, Aaron."
Noah tetap melangkah hingga Anna harus mengikutinya dengan sedikit berlari karena langkah Noah yang cepat.
" Jangan abaikan aku."
Anna memegangi tangannya namun itu tetap tak menghentikan Noah hingga sampai dikamar mereka.
__ADS_1
" Elnathan Noah!!."
Noah barulah berhenti dan berbalik saat Anna menyebutkan namanya yang lain.
" Jangan sebut nama itu keluar dari mulutmu. Itu membuatku kesal, Anna."
" Kenapa kau harus kesal itu memang dirimu. Dirimu yang kukenal saat pertama kalinya."
Noah menghembuskan nafas kasar menghadapi sikap Anna yang selalu menentangnya.
" Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu jadi tolong biarkan aku sendiri."
" Sampai kapan kau akan memperlakukanku seperti ini, Noah. Aku sudah tidak tahan lagi bisakah sedikit saja kau mengerti perasaanku."
" Lalu kau mau apa? pergi dari sini sementara musuhku mungkin saja sedang mengejarmu atau kau ingin kembali pada ayahmu yang penipu itu?."
" Tidak..bukan itu maksudku. Kau berubah Aaron kau kembali pada sifatmu yang dulu."
" Aku tidak berubah Anna, ini hanya sisi lain ku yang harus kau terima."
" Dengan mengabaikanku? paling tidak Noah yang dulu begitu peduli padaku tapi sekarang kau bersikap seperti orang asing."
" Cukup!! Apa lagi sebenarnya yang kau inginkan dariku. Aku sudah memberikan segalanya, aku juga mengatakan aku mencintaimu apa itu belum juga cukup?."
" BUKAN CINTA SEPERTI INI YANG AKU INGINKAN."
Anna tak kuasa menahan emosinya didepan Noah yang kini hanya diam terpaku.
" Bukan seperti ini.." Gumam Anna yang bisa didengar oleh Noah.
Air mata Anna mulai jatuh membasahi wajahnya. Ia juga menggigit bibirnya agar tak mengeluarkan suara tangisnya.
__ADS_1
Noah menjadi tak bisa berkata-kata ia tergagap karena untuk kesekian kalinya membuat Anna menangis.