Promiscuity After

Promiscuity After
Kelakuan Kenza


__ADS_3

Oscar menatap Barra dan menyuruhnya pergi dengan isyarat lirikan mata. Mereka butuh waktu berbicara berdua. Barra pun pergi, sembari memberinya sebuah peringatan dengan telunjuknya.


Oscar duduk disamping Kenza.


"Maafkan aku....," ucap Oscar dengan menyatukan kedua tangannya di pangkal hidung dan kedua jempolnya berada dibawah dagu, membentuk segitiga


Terdengar suara isakan tangisan kecil.


"Terlalu sulit untuk ku melupakan mu. Marilyn hadir dan sedikit demi sedikit aku melupakan perasaan ku padamu. Seiring waktu, Aku mulai mencintai Marilyn dan menikahinya. Aku pikir aku sudah benar-benar melupakan mu. Tapi rupanya, rasa itu masih tersisa," ucap Oscar lagi.


"Barra benar, aku tidak seharusnya mencium mu. Dan membawamu ke pelukanku. Aku juga tidak ingin mengkhianati pernikahan ku. Sekali lagi, maafkan kekhilafanku," timpal Oscar dengan lirih.


Pria itu terlihat macho, cool dan bertato tetapi tak menutup kemungkinan jika saat itu juga ia menangis, melepaskan Kenza untuk selamanya.


"Oscar, aku tidak bisa menjadi temanmu. Lebih baik kita tidak saling berteman. Karena itu akan menyakiti hatiku," Kenza beranjak dan masuk ke dalam mobil.


Rupanya Barra sudah berada di dalam mobil. Oscar berdiri dan menyuruh Barra pergi tanpa dirinya. Benar, keduanya masih memiliki perasaan dan lebih baik mereka tidak saling bertemu. Bahkan untuk sekedar menjalin pertemanan pun akan terasa sulit jika perasaan itu belum sepenuhnya hilang.


Akhirnya Barra pergi meninggalkan Oscar. Di tepi trotoar dekat pantai.


Dalam perjalanan pulang mengantar Kenza ke apartemen milik wanita itu.


"Mas Barra sejak kapan tahu hubunganku dengan Oscar?" tanya Kenza, karena mereka berpacaran tanpa sepengetahuan siapapun.


"Sejak lama, saat kalian berpacaran. Hanya saja saya diam,"


"Jangan bicarakan soal tadi dengan papa ya atau Om Virus?"


"Tidak, saya juga tidak ingin terjadi masalah yang bisa menghancurkan banyak perasaan. Asalkan kalian sudah berjanji tidak mengulanginya,"


Sesampainya di Apartemen milik Kenza. Barra menurunkan koper Kenza didepan pintu, pria itu tidak ingin masuk.


"Saya langsung pulang ya,"


"Mas Barra ga masuk dulu?"


"Gak ah, nanti saya disuruh bersih-bersih hehe,"


"Ishh lihat tuh didalam bersih," ujar Kenza


Apartemen milik Kenza yang sudah lama tidak ia tempati rupanya masih bersih, dan tidak berdebu.


"Besok pagi kamu ke kantor dan segera buatkan saya formulir kerja sama, nanti akan saya kirim nama perusahaannya dan siapa penanggung jawab serta nama direkturnya,"


"Kantor?" Kenza terlihat tidak fokus


"Ya kantor kita, di Inggris kan ada Kenza, hanya saja tidak sebesar di Indonesia. Atau jangan-jangan kamu lupa alamatnya ya?"


"Haha hampir terlupakan, siap bos! Dan sana pulang!"


"Dasar anak buah durhaka, baru kali ini Bos diusir anak buahnya," Barra pun pergi


"Ini kan bukan jam kantor, jadi suka-suka anak buahnya dong Week," Kenza menutup pintu apartemennya sambil mengejek Barra yang sudah berlalu pergi

__ADS_1


Disamping itu, tubuh Cassie mulai meminta narkotika, "Crystal meth". Ia mulai bereaksi namun dokter menanganinya dengan cepat.


Cassie ditekan harus menahannya. Harus mendoktrin dirinya jika tubuhnya tidak membutuhkannya. Jika nanti Cassie merasa tidak kuat maka dokter akan memberikan obat sedikit demi sedikit.


Beberapa jam, hingga bahkan esok pagi. Cassie berhasil melewatinya. Pagi itu Cassie harus berolahraga dan beraktivitas lebih banyak. Membersihkan halaman tempat rehab dan sebuah hal yang sangat simpel, yaitu perhatian serta dukungan orang sekitar.


Sepuluh hari kemudian.


Cassie dinyatakan sembuh seratus persen, oleh dokter yang bersangkutan. Dia cepat pulih karena mengkonsumsi narkotika bukanlah keinginannya. Terlebih ada Barra dan Mbak Mar yang terkadang mengunjunginya, memberikan perhatian. Orang tuanya sendiri pun sampai saat ini tidak tahu jika Cassie pernah menjadi pecandu.


"Akhirnya non Cassie sembuh juga," ucap Mbak Mar menggandeng Cassie.


"Makasih ya Mbak, berkat dukungan mbak juga ini," ucap Cassie


Barra yang sudah menyelesaikan pembayaran langsung menghampiri Cassie.


"Alhamdulillah, Kamu dah bisa pulang. Tetap jaga diri ya cil," ucap Barra mengelus rambut Cassie


Cassie senang dibelai, sikapnya yang masih seperti anak kecil merasakan kehangatan di dalam diri Barra yang dewasa.


"Hehe ya Om Bewok, siap! Oh ya, tadi pihak kampus telepon, katanya Cassie harus ke kampus secepatnya untuk urus administrasi, ada berkas yang belum Cassie kumpulkan,"


"Jadi setelah ini kita langsung ke kampus saja,"


"Kan berkasnya dirumah om,"


"Ya pulang dulu, habis itu saya antar ke kampus,"


"Nah boleh juga tuh, refreshing habis pengobatan om hehe,"


"Yaudah, kita jalan-jalan kamu mau kemana?" tanya Barra


Kring Kring


Ponsel Barra berdering, ia pun membaca nama di layar ponselnya. Cassie sedikit mengintip.


"Ya...., Saya gak bisa, habis ini mau pergi jalan-jalan trus makan siang," ucap Barra


"Hmm boleh sih, yaudah nyusul aja nanti saya sharelok," sahut Barra lagi dan kemudian menutup ponselnya.


"Siapa Om?" tanya Cassie penasaran


"Kenza, teman Saya. Dia juga mau ikut jalan-jalan sama makan siang. Gak apa-apa kan?"


"Ya gak apa-apa sih,"


Idih Mas Barra jalan-jalan sama pacarnya kok ngajak teman, nanti kalo non cemburu gimana tuh, batin Mbak Mar


Akhirnya, karena siang itu Cassie sudah lapar sehingga mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.


Mereka berada di sebuah restoran elite, hingga mbak Mar sibuk ber-selfie ria. Apapun yang mewah dan wow menurutnya harus di foto atau di videokan.


Tak berapa lama, wanita yang sangat anggun, cantik dan terlihat dewasa. Menghampiri meja mereka.

__ADS_1


"Mas Barra," Sapa Kenza dari jauh


"Kamu nyasar? Lama banget?" tanya Barra


"Hehe iya tadi salah jalan, maaf ya kalau lama hehehe....ini ya yang namanya Cassie?" ucap Kenza dan langsung menjabat tangan serta mencium pipi Cassie.


Cassie tersenyum dan memperkenalkan dirinya sendiri, "Cassie,"


"Cantik, masih muda banget ya. Haii aku Kenza, teman Mas Barra dari kecil,"


Kenza langsung duduk di samping Barra, bukan disamping Cassie. Wanita itu lalu menceritakan gosip yang terjadi di kantor sembari membuka buku menu.


"Kalian belum pesan ya?"


"Nunggu kamu tadi," ucap Barra


"Wah so sweet," ucap Kenza ia sengaja berlaku seperti itu karena ingin tahu reaksi apa yang terjadi pada Cassie.


Cassie pun membuang muka seolah-olah tidak peduli. tetapi tetap saja dihatinya dia seperti diasingkan. Apalagi Kenza memancing kata so sweet. Seakan-akan dialah yang sedang diutamakan.


"Aku pesan ini deh, daging asap itu kesukaan kamu juga kan Mas, Ah sama ini nih juice tomato," ucap Kenza sambil tertawa kecil dalam hatinya.


Cassie masih tersenyum kecil. Terlihat seperti senyum yang dipaksakan


"Kamu mau makan apa Cass? Atau pesanannya mau disamakan?" Tanya Barra


"Cassie gak suka jus tomat, apalagi daging asap," jawab Cassie


"Waduh, selera kalian beda ternyata ya, Itu favorit aku sama Mas Barra," ujar Kenza sengaja berlaku sedikit centil.


Akhirnya Cassie memilih menu lain, mbak Mar juga dipesankan yang sama dengan makanan yang dipesan Cassie. Barra pun memilih pesanan yang dipesan Cassie.


Tak berapa lama pesanan datang.


"Ehmm wangi daging asapnya enak banget. Mas Barra gak pesan ini sih," ucap Kenza mengunyah makanan yang ia pesan


"Hmmmm enak banget, cobain deh," Kenza mengambil daging dari garpunya lalu ingin menyuapkan ke Barra.


Barra tanpa canggung mengambil makanan yang disuapkan Kenza. Sebenarnya itu hal biasa, tetapi Barra lupa jika Cassie ada dihadapannya.


Mas Barra Mas Barra kena perangkap kamu. Kok bisa sih suka sama Bocil, liat aja deh pasti dia bakal ngambek, batin Kenza menerka


Dan benar saja dugaannya, Cassie tiba-tiba pergi dari meja itu menyusul mbak Mar yang masih sibuk ber-selfie.


"Cass, kamu mau kemana?" Panggil Barra, ia baru menyadari apa yang ia lakukan.


"Astaga Kenza kamu sengaja kan?" Barra mendelikkan mata ke arah Kenza dan wanita itu tertawa kecil


Barra berhasil mengejar Cassie, ia pun mensejajarkan langkahnya.


"Cass, mau kemana? Kan belum makan,"


"Om makan aja tuh sama Ken Ken Draken," Cassie memasang wajah jutek

__ADS_1


__ADS_2