
Setelah permainan panas yang baru saja mereka lakukan. Kenza memakai kembali pakaiannya dengan perasaan canggung. Padahal tadi dia sendiri yang menggoda Rio.
"Mas, Aku...balik ke ruangan ku dulu ya," ucap Kenza menunduk malu dan berlalu pergi.
Rio yang sedang mengancing kemejanya meraih pergelangan tangan Kenza sambil berucap, "Tunggu dong,"
"Hmm, kenapa?"
"Kamu ngapain balik ke ruangan kamu, kan ga ada kerjaan juga,"
"Nanti ganggu kerjaan kamu kalo aku disini,"
Rio tidak menjawab, dia merapikan rambut Kenza yang terlihat berantakan sembari berkata, "Tadi...kenapa kamu tiba-tiba datang ngegoda aku? Hemm? Bukannya kamu bilang kamu cuma mau nikah kontrak gak ada hubungan yang lebih jauh,"
"Aku mau batalin itu, aku mau hubungan kita sungguh-sungguh. Kamu mau kan?"
"Dari awal, waktu aku ucap janji pernikahan itu. Aku memang niatnya sungguh-sungguh. Gak ada niat aku buat main-main didepan agama. Disaksikan Allah, penghulu, orang tua kamu dan semuanya. Aku cuma berharap saat itu, walopun belum ada cinta diantara kita. Semoga ada kenyamanan didalamnya. Dengan gitu akan muncul rasa sayang dan saling memiliki,"
"Ya kamu bener, nyaman dan cinta beda tipis. Maafin aku ya Mas, waktu itu aku gak layanin kamu," Kenza malu-malu mengatakannya
"Aku juga minta maaf ya,"
"Buat?"
"Karena abis nikah bukannya bulan madu tapi langsung kerja ehhehe,"
"Ya gak apa-apa, yang penting kamu gak selingkuh,"
"Iya aku janji,"
"Trus hapusin tuh foto kamu sama Dina,"
"Yang mana..."
"Yang foldernya kamu kunci,"
"Astaga haha ya nanti aku hapus. Eh jadi kamu tadi liat foto aku waktu muda ya makannya langsung ke sini godain aku ya kan? ngaku," selidik Rio
"Ehehe kabur ahh," Kenza berniat untuk pergi
Tapi Rio menangkapnya dan memberikan gelitikan di pinggangnya. Kenza terkekeh geli. Tak berapa lama ponsel Rio berdering. Rio menghentikan gelitikannya dan menyambar ponselnya diatas meja.
Tertera dilayar ponselnya sebuah nama yang pernah ada di dalam hidupnya.
"Dari Dina, aku angkat dulu ya," Rio mengatakannya pada Kenza sebelum mengangkat ponselnya. Dia juga meloudspeaker agar Kenza ikut mendengar
"Ya..," jawab Rio
__ADS_1
"Aku sakit,"
"Terus?" jawab Rio sedikit dingin. Dia sudah tidak perduli lagi.
"Aku gak bisa ngurusin pernikahan Cassie. Aku belum pesan ini itu,"
"Hah, kok bisa? Ya kamu tinggal ke vendor lah biar mereka yang ngurusin semuanya. Aku udah kasih uangnya ke kamu juga,"
"Kamu tuh ngerti gak sih...aku tuh sakit..aku gak bisa kemana-mana,"
"Kan ada Jovan, masak dia gak mau bantuin?"
"Jovan... hiks ... Jovan pergi ....aku berantem sama dia," Dina menangis di ponselnya.
"Ok urusan Cassie aku akan ambil alih. Kamu transfer lagi ke aku, uang yang udah aku titip ke kamu buat nikahnya Cassie. Jangan sampe ya urusan masalah keluarga kamu jadi berimbas ke Cassie," ucap Rio
"Rio... kamu bisa kesini gak? Aku butuh kamu," Dina menangis sepertinya dia belum bisa move on dari Rio
Rio menatap ke Kenza dan berbicara dengan berbisik, "Kamu yang ngomong ya?"
"Ya kamu lah, masak aku,"
"Nanti dia godain aku loh, nanti dia minta aku balikan ma dia gimana?"
Kenza lalu mengambil ponsel Rio dan berbicara dengan pelan
Tut Tut Tut Tut
"Ih kok malah dimatiin sih," Kenza mengernyit
Rio malah terkekeh geli, "Takut sama istri sah,"
"Ish malah ketawa, Mas kamu masih cinta sama dia?"
"Udah gak,"
"Jujur,"
"Ya mungkin masih dikit, kamu sendiri?"
"Ya sama tapi aku gak mungkin balikan sama dia. Kalo kamu kan bisa aja,"
"Hey...dengerin ya, aku sama Dina dari awal pacaran sampe sekarang itu ribut terus, jarang banget damai tanpa ribut itu jarang. Jadi buat apa aku balikan sama dia kalau sekarang aku udah nemu tempat ternyaman,"
"Makasih Mas, aku bakal bikin rumah tangga kita damai kayak tante Joy sama Om Wasabi. Aku mau belajar dari mereka,"
"Makasih juga ya udah mau nerima aku yang pernah jadi buaya," Rio mengecup kening Kenza dan memeluknya.
__ADS_1
"Eh kalau gitu sini aku bantuin nyiapin pernikahan Cassie, aku mulai cari EO deh, Aku bakal cari yang bagus,"
"Makasih ya istriku,"
"Sama-sama Mas Ganteng,"
.
.
.
Sementara ditempat lain Dina rupanya terbaring lemah di tempat tidur. Dia baru saja kecelakaan dan tidak kerumah sakit. Lengannya tadinya tidak mengapa tapi lama kelamaan sakit dan mulai bengkak. Sepertinya ada tukang yang bergeser.
Dia ribut besar dengan Jovan. Pria itu marah dan pergi begitu saja dengan semua barang-barangnya. Dina mengejarnya kemudian ia mengalami kecelakaan.
Apa yang terjadi? Karena masalahnya Dina belum bisa sepenuhnya melupakan Rio. Dan juga mulut pedasnya Dina yang tidak pernah bisa dikontrol membuat orang yang ada disekitarnya menjadi tidak betah. Padahal Jovan tipe penyabar.
.
.
.
Kenza langsung menghubungi Event Organizer yang dia kenal. Tiga Minggu waktu yang sikat. Sementara Rio mencari tempat percetakan undangan. Setelah itu Gaun pernikahan.
"Mas Cassie harusnya gak usah balik ke London, kan dia mau nikahan. Ukur gaunnya gimana?"
"Iya juga ya, aku kok gak mikir kesitu. Aku pikir tuh Dina udah ngurusin semuanya,"
"Gini aja deh Cassie punya gaun dirumahnya kan? kita bikin agak lebar nanti Minggu depan suruh dia pulang. Fitting baju," sahut Kenza
"Ahh ide bagus. Tapi aku gak mau ya ke rumah Dina,"
"Hah apalagi aku, bisa di cakar nanti,"
"Suruh Barra aja yang kesana," ucap Rio
"Oke aku hubungi Mas Barra," Kenza langsung menelpon Barra dan menceritakan semuanya
Barra pun menyetujuinya di akan ke rumah Mama Dina untuk ambil gaun milik Cassie, hanya mengepaskan ukurannya dan membuatnya sedikit besar lalu Minggu depannya Cassie harus fitting lagi.
"Mas aku pamit ya mau ketempat EO, pesan gedung dan makanannya,"
"Aku antar ya, bentar aku serahin kerjaan ke Angga dulu,"
Dan beberapa menit kemudian Kenza dan Rio keluar menuju tempat EO terbaik, setelah itu mereka akan ke tempat percetakan undangan dan souvenier
__ADS_1
Ada-ada aja ya gangguan mau menikah.