Promiscuity After

Promiscuity After
Memilih Percaya


__ADS_3

Bram terdiam lama setelah meyakinkan Cassie, begitu juga dengan perempuan itu. Terdiam cukup lama dengan menimbang langkah apa yang harus di ambil.


Tatapan mata Bram yang tajam dapat menghentakkan jantung Cassie, bukan debaran cinta melainkan ketakutan.


Tetapi di satu sisi, Cassie bisa melihat kehidupan pria itu dari sorot matanya yang tegas. Dia pria baik sebenarnya, pria yang sangat mengagumi orang yang ia cintai. Tetapi dia kesepian.


Bram mendapatkan didikan yang keras dari sang Ayah. Tetapi semua yang di lakukan sang Ayah, terekam di otaknya dan menjadikan dia meniru sikap orang tuanya, jadilah label nakal melekat pada dirinya.


Bram memiliki kehidupan yang berbeda, sebelum bertemu Cassie, pria itu suka sekali berkeliaran di club malam. Bermain dengan teman baru dan bergaul bebas dengan teman wanitanya. Hasratnya tersalurkan, namun hatinya hampa. Tak ada cinta yang mewarnai selain cintanya pada sang Ibu.


Tetapi saat Cassie muncul di kehidupannya. Bram meninggalkan semua teman wanitanya, berhenti bermain diatas ranjang dan hanya mengejar gadis yang saat ini terpaku, ketakutan dan terdiam di hadapannya.


"Kita....bicara di kantin kampus saja," ucap Cassie pada akhirnya setelah beberapa menit memilih diam.


Bram menurutinya, ia mempersilahkan Cassie berjalan duluan. Sesampainya di kantin kampus, Cassie memesan minuman untuk menenangkan dirinya. Sementara Bram, tidak memesan apapun.


"Jujur gue takut....gue takut sama Lo Bram," Cassie memegang teh hangat dengan kedua tangannya.


"Gue takut Lo berlaku kasar lagi dan ngasih gue obat-obatan terlarang itu. Gue gak sepenuhnya percaya dengan permintaan maaf Lo," Cassie berterus-terang


"Jangan takut, Cass... gue janji gak akan ulangi itu. Asal Lo jangan pernah ngindarin gue," janji Bram


"Jadi... kalo gue ngindarin Lo, Lo bakal berbuat hal yang seperti kemarin?" Cassie membalikkan perkataan Bram


"Enggak! Gue gak akan seperti itu lagi. Kalo Lo ngindarin gue. Lebih baik gue mati aja," jawab Bram dengan tegas.


"Oke gue memilih percaya apa yang Lo katakan barusan. Jangan pernah hancurin kepercayaan dan kesempatan yang udah gue kasih. Kita berteman lagi sekarang," ucap Cassie


"Serius, Lo bener kan Cass. Kita bakal temenan kayak dulu kan?" ulang Bram


Cassie mengangguk, dan tersenyum tipis. Dia ingat nasihat mbak Mar perihal kepercayaan. Dan Cassie memilih percaya.


"Bram, kenapa? Kenapa Lo tega ngasih gue obat terlarang itu?" tanya Cassie


"Gue sakit hati karena penolakan Lo, dan gue berambisius buat dapetin Lo gimana caranya. Gue pikir dengan ngasih barang itu, Lo bakal tunduk sama gue, ngikutin keinginan gue dan bisa terima gue jadi pacar Lo," jelas Bram dengan perlahan.

__ADS_1


"Trus kenapa mbak Mar yang gak salah apa-apa malah Lo siksa? Gue takut waktu ngeliat mbak mar dengan benjolan besar di dahi nya, luka di bibir dan lebam di beberapa wajah. Kenapa Lo setega itu sama orang yang lebih tua dari Lo?" Cassie bertanya dengan nama lembut dan pelan.


"Karena gue tersulut emosi, gue gak mau rencana yang udh gue buat di gagalin sama pembokat Lo,"


"Dia bukan cuma pembantu yang kerjanya bersih-bersih, masak, ngepel, nyuci di rumah gue, dia juga bukan sekedar asisten yang mengatur kebutuhan gue saat nyokap ga dirumah. Dia lebih dari sekedar keluarga. Dia itu ibu kedua bagi gue," jawab Cassie


"Sepulang kuliah nanti, gue bakal minta maaf ke mbak Mar," tawar Bram.


"Gak usah, nanti yang ada mbak Mar malah ngelarang gue berteman sama Lo," jelas Cassie.


Cassie meneguk teh panasnya dengan perlahan. Mereka berbincang santai dengan kepala dingin tanpa harus marah-marah dan berteriak. Karena berbicara dengan orang seperti Bram membutuhkan kesabaran yang tinggi, serta harus berbicara selembut mungkin.


Cassie kemudian berpikir, kenapa tidak ia manfaatkan kesempatan ini. Bram terlihat sangat menginginkannya. Dia begitu mencintainya mungkin saja Bram bisa mendengar dan menuruti apa yang Cassie katakan.


"Bram...," Cassie tersenyum dan menatap pria yang duduk disampingnya.


"Ya," Bram balas tersenyum.


Sudah lama Bram tidak melihat senyum cantik Cassie yang dilayangkan untuk dirinya.


Bram mengangguk pelan.


"Ya, gue juga konsumsi tu obat. Dan Ganja," jawab Bram jujur.


"Kenapa Lo bisa pake barang itu? Apa karena pergaulan dari teman-teman Lo sebelumnya?" Tanya Cassie


Bram menggeleng kepalanya lagi, lalu tertunduk.


"Gue pake itu saat nyokap meninggal, gue kesepian. Bokap selalu hajar gue dan berakhir dengan luka. Entah itu di jidat, di tangan, kaki, ahaha rasanya semua anggota tubuh gue pernah punya luka siksa. Rasanya gue pengen mati,"


"Bokap hajar Lo pasti punya alasan, mungkin Lo bandel atau Lo jahatin teman-teman Lo,"


"Gue sering nembak bodyguard gue yang gak becus kerjanya,"


"Hah? Apa?ne-nembak?" Cassie terkejut sampai membelalakkan matanya.

__ADS_1


Gila nih cowok, batin Cassie


"Ya, pake pistol asli. Tapi gak sampai mati kok, paling ya luka aja," Bram berbohong. Sebenarnya beberapa yang terluka dan banyak yang mati di tangannya.


Tetapi sang Ayah tidak tahu tentang hilangnya bodyguardnya yang terdahulu. Ia hanya tau beberapa yang terluka dan masalah baru-baru ini yang sudah Bram ciptakan, membunuh dua orang sekaligus.


Tetap saja meskipun Bram membohongi Cassie, gadis itu semakin waspada. Jangan sampai Cassie berbicara keras dan kasar hingga menyakiti hatinya.


"Udahlah gak usah ungkit lagi kisah kelam Lo. Sekarang belum terlambat kok kalau Lo mau berubah, terbebas dari narkotika. Lo bisa kok, menghilangkan rasa kecanduan Lo,"


"Kalau gue berhenti makek barang-barang itu, apa Lo bersedia berjanji selalu ada disamping gue,"


Cassie menganggukkan kepalanya lalu dengan cepat berkata, "Sebagai teman, hanya sebagai seorang teman. Tidak lebih," jelas Cassie


"Oke, gua bakal buang crystal meth dan ganja itu. Demi Lo,"


"Kok demi gue," tanya Cassie


"Ya apapun keinginan Lo, gue bakal wujudin," ucap Bram mantap.


Benar saja dugaan Cassie, Bram langsung menyetujui permintaannya. Tapi itu artinya Cassie harus berhati-hati dalam bertindak. Harus menegaskan kepada Bram jika Cassie bukan miliknya.


Gadis itu melihat jam dinding di kafetaria kantin kampus. Sudah saatnya Cassie beranjak karena sebentar lagi dia harus masuk kelas.


"Gue ada kelas, nanti kita sambung lagi," ucap Cassie


"Gue temenin ya,"


"Hmmm,"


Dan sepanjang lorong, mereka berjalan menuju kelas dalam diam. Tak ada pembicaraan apapun. Yang terdengar hanya derap langkah dua pasang kaki yang berjalan beriringan.


Cassie masuk ke dalam kelas, sementara Bram masih berdiri di depan kelas, bersandar pada dinding pagar pembatas dan melihat ke bawah. Menunduk dan tersenyum simpul.


Terimakasih Cassie, gue lega....Lo masih mau berteman dengan gue. Jangankan Lo minta gue berhenti dari narkotika. Lo suruh gue mati, gue bakal mati saat itu juga. Asal Lo juga ikut mati disamping gue. batin Bram

__ADS_1


__ADS_2