Promiscuity After

Promiscuity After
OH MY GOD


__ADS_3

(Revisi part kemarin, jadinya datang pagi ya ga jadi malam👀)


 


Dina, Jovan, Rio, Mbak Markonah dan Keluarga Barra sudah sampai di London pagi itu. Mereka memakai dua taksi online untuk menuju rumah. Cassie sengaja tidak diberitahu soal kedatangan mereka. Bahkan Barra pun tidak menghubunginya setelah adegan ngambek.


Tetapi sampai di depan rumah, malah mereka yang terkejut.


Rumah dengan desain klasik dan halaman berumput yang luas dengan pagar tanaman yang sampai ke pinggang. Kotor luar biasa.


Ada pizza yang menempel di dinding tembok depan yang terbuat dari kayu bercat putih. Halaman berumput tersebut juga banyak sampah yang berjatuhan, remahan keripik, remahan pizza, permen karet, tusuk sate, dan bahkan ada CD berbentuk segitiga. Terlihat di depan teras ada tempat bakaran daging.


Keluarga Barra menggelengkan kepala dengan berbagai pertanyaan, serta Barra yang tidak menyangka dengan tingkah Cassie. Apakah ini pengaruh pergaulan?


"Oh My God!" pekik Dina


"Astaga non Cassie,"


Ia pun memasukkan kunci duplikat tetapi tidak bisa, karena di dalam masih terpasang kuncinya.


Dine memencet tombol bel, tidak ada jawaban. Jovan memanggil Cassie seraya mengetuk pintu


Tok Tok Tok


"Cassie, buka Cas...Udah bangun belum? Cassie buka nak?" Rio memanggil anaknya dengan lembut.


"Manggil kok lembek gitu mana denger," ujar Dina


Dia pun mengambil napas dalam kemudian berteriak kencang. Hingga Joy menutup telinganya. Barra, Wasabi dan Jovan memundurkan langkah dan menahan jeritan Dina. Sementara Rio santai saja. Dia sudah terbiasa dengan jeritan horor mantan istrinya itu.


"Cassiiiiie......," teriakan menggelegar hingga bangunan pun berasa berguncang.


Cassie terbangun langsung terduduk dengan wajah masih mengantuk.


"Hah kok ada suara Mama?" Dia masih tidak sadar.


Kemudian tidur lagi.


"Cassiiiiie......," teriakan Dina yang kedua


Teriakan kedua membuat Cassie terbangun dengan mata membulat.


"Itu beneran Mama, aduh berantakan lagi," Cassie terkejut dan panik


Ia lantas membangunkan ketiga teman wanitanya, "Wake up guys!"


Temannya bangun dan juga ikut panik setelah tahu orang tua Cassie datang.

__ADS_1


Cepat-cepat mereka membersihkan sisa remahan kripik, pizza yang berceceran, kaleng soda. Semalam mereka mengerjakan tugas kelompok dan tengah malamnya mereka party kecil-kecilan.


Untung saja yang berantakan hanya kamar dan halaman rumah. Cassie membenahi rambutnya dan membuka pintunya dengan pakaian seksi. Celana pendek diatas paha dan yukensi. Barra sampai malu melihatnya, dia pun menundukkan kepala sementara Wasabi langsung mengalihkan pandangannya ke luar rumah.


"Mama...," Sapa Cassie yang dikira hanya Mamanya yang datang.


Begitu ia melihat Barra dan orang tuanya Cassie terbelalak.


"Eh Mas Barra, Mama Joy, Papa Wasabi," ucap Cassie malu dan langsung menutup bagian dadanya yang menonjol terbuka


"Ehm Cassie ke belakang dulu ya hehe," pamit gadis itu langsung masuk ke kamar. Sementara tiga teman wanitanya pamit pulang.


Tetapi Dina mencegah temannya itu dan bertanya sedikit apa yang terjadi. Mereka sedikit melepaskan frustasi karena seharian mengerjakan tugas kelompok membuat miniatur duplikat gedung. Setelah selesai mereka pun sedikit membuat pesta kecil dan melakukan permainan tantangan. Salah satunya kenapa ****** ***** ada di luar halaman.


"Whose is this?" tanya Dina seraya memegang CD tersebut dengan tisu.


"Oh that's mine, sorry," ucap temannya dan mereka pun diijinkan pulang.


"Maaf ya Jeng, Pak Wasabi dan Nak Barra, maklumlah masih beradaptasi menuju dewasa hehe. Mari masuk," ucap Dina


"Iya gak apa-apa kok Jeng, saya maklum," ucap Joy mewakili Barra dan Wasabi.


"Mbak Mar, tolong bersihin halaman itu nanti ya. Sekarang buatin minum dan siapin kamar, biar mereka bisa istirahat," perintah Dina


"Baik Bu," jawab Mbak Markonah


"Ya Ma, gak masalah," jawab Barra


Mereka semua masuk dan duduk di sofa menunggu Cassie yang baru mandi.


Mbak Markonah datang dengan menyuguhkan minuman serta hidangan kue lapis legit yang Dina bawa dari Indonesia.


"Wah enak ni makasih ya Mbak Mar.. Ayo semuanya mari minum dan makan kuenya," Rio mempersilahkan semuanya.


Sementara di hatinya Dina, yang tuan rumah siapa sih. Rumahnya itu kan milik Aku, masih berasa jadi tuan Rumah ya?


Beberapa menit kemudian gadis itu sudah selesai mandi dan dia duduk di tengah dengan ceramah Dina yang panjang lebar.


"Maaf ya Ma, dan semuanya. iya Cassie janji gak akan pesta aneh-aneh,"


"Nanti Mbak Markonah tinggal disini lagi, jagain kamu sampe lulus sekolah. Bisa bahaya kalau kamu ga diawasin" ujar Bu Dina.


"Katanya kalian bikin miniatur gedung ya? Mana? Bagus gak?" tanya Barra mengalihkan perhatian.


"Bagus dong Mas, tuh ada diruang tengah. Yuk kesana kalau mau lihat. Mama sama Papa, semuanya juga bisa lihat trus komen apa yang kurang," ajak Cassie menunjukkan tugas kelompoknya


__ADS_1


"Wah ini keren banget sayang, udah bukan tugas lagi. Tapi udah bisa dijual," puji Barra


"Wah bener ini bisa jadi lahan bisnis


"Ya ya bagus banget, ini serius bikinan kalian?" Tanya Dina


"Ih Mama ngeraguin Cassie," ucap Cassie


"Jadi ini tugas emang dirancang untuk dijual nantinya. Kampus aku mau ngadain bazar yang dimana ada sekelompok pebisnis yang sedang mencari desain maket dan bisa mereka pakai untuk konsep bangunan mereka," jelas Cassie panjang bin lebar


"Papa rasa sih ini udah maksimal banget, apa salah satu teman kamu punya bahan maket ya, soalnya untuk anak baru ini sudah banget," ucap Papa Rio dan langsung menerka.


"Iya Pah, salah satu teman Cassie ada yang orang tuanya pandai bikin ginian. Dan masih ada sisa bahan maket dirumahnya. Berhubung di rumah ini ga ada anak kecil jadi teman-teman bikin disini karena takut kerjaan kita rusak akibat tangan jahil adek-adek mereka," cerita Cassie.


Itulah kenapa mereka memilih membuat tugas dirumah Cassie bukan rumahnya sepi dan bisa berpesta tetapi ketiga temannya itu memiliki adik yang super jahil sehingga takut jika tugas ini berantakan.


"Hemm ngomong-ngomong kalian datang kesini mau apa ya? Maksudnya Cassie gini kan sebelumnya Mama sama Papa tuh marah-marah kan sama keluarga Mas Barra, terus kenapa sekarang akur ya, Cassie seneng liatnya," tanya Cassie


"Gimana kalau kita bicaranya sambil duduk yuk sayang," ajak Dina


Mereka semua kembali ke ruang tamu


"Kita langsung saja sekarang bagaimana Bu Dina?"


"Gak nanti malam aja Pak Wasabi?"


"Lebih cepat kan lebih baik, Cassie juga udah cantik kok," ujar Joy


"Yasudah," Dina menganggukkan kepala mempersilahkan.


"Cassie, Orang tua kamu telah menyetujui hubungan kalian. Dan meskipun sudah setuju, tetapi rasanya tidak afdol jika belum ada pembicaraan yang resmi seperti dalam kesempatan hari ini. Karena semua sudah berkumpul, jadi... Barra lanjutkan ya," ucap Wasabi


Cassie yang memakai dress berwarna putih, seadanya tetapi anggun dan terlihat cantik. Ia duduk di samping Barra. Setelah Wasabi menyuruh anaknya untuk melanjutkan sisanya. Barra beranjak dan berlutut di depan Cassie dengan satu kaki menapak dan satu kaki menahan lututnya di lantai.


Pria itu mengeluarkan sebuah kotak merah yang berisi dua cincin dengan satu cincin berhias batu berlian yang indah.


"Cassie, kedatangan Saya dan orang tua Saya kemari untuk melamar Kamu. Sekaligus mempererat hubungan kita dengan bertunangan," Barra gugup dia mengambil napas dan membuangnya pelan.


"Bersediakah Cassie menikah dengan Saya, mendampingi saya dalam suka dan duka?" ucap Barra


"Ya, Cassie bersedia, menemani Mas Barra dalam suka dan duka sampai maut memisahkan," jawab Cassie seraya menganggukkan kepala dengan genangan air mata karena terharu dan bahagia melebur menjadi satu.


Semua tersenyum dan senang.


Barra menyematkan cincin tanda keseriusan dirinya melamar Cassie, begitu cincin tersemat di jari manisnya. Gadis itu meneteskan air mata kebahagiaan. Ia mengusapnya dengan cepat dan sambil tertawa kecil.


Kini giliran Cassie menyematkan cincin di jari manis Barra. Cincin Barra polos tanpa permata. Sementara Cincin Cassie memiliki batu berlian yang sangat cantik.

__ADS_1


Dina diam-diam menangis terharu. Ia mengambil tisu lalu menyeka air matanya. Begitu juga dengan Joy yang bersyukur karena lamaran kali ini berjalan dengan lancar. Terlebih lagi setelah penantian panjang setelah perceraiannya terdahulu. Akhirnya Barra membuka hati lagi untuk seorang wanita.


__ADS_2