
"Cassie ayo pulang," ajak Dina yang menunggu Cassie di teras depan.
Wanita itu terlihat masih tidak suka dengan Barra setelah apa yang dia lakukan, tetapi Dina sudah mulai kalem dan tidak marah-marah lagi.
Ternyata jalan mu menuju restu Dina masih panjang Barra. Semoga Rio sudah terbuka hatinya untuk merestui mu.
Cassie pamit dengan om kesayangannya sembari melambaikan tangan dan senyum manis. Setelah gadis itu pulang, Barra mencari Papanya dulu.
"Mungkin Papa langsung ke kantor polisi, hemm pulang aja lah," gumam Barra.
Barra yang wajahnya sedikit babak belur terasa perih saat AC menyentuh lukanya. Ia pun pergi ke Indoapril karena tidak menemukan apotik di sepanjang jalan yang dilewatinya.
Sesampainya di Indoapril pria itu bertemu Kenza yang sedang asik makan mie dalam kemasan cup. Seketika perut Barra keroncongan, dia belum makan apapun sedari siang. Saking sibuknya mempersiapkan bahan meeting dengan Rio dan empat klien yang sempat menolak.
"Kenza, sendirian?" tanya Barra
"Woh pak Bos, datang-datang mukanya bonyok. Kasian ahhaa!"
"Sialan kamu ngatain Bosnya, hemm bagi dong,"
"Dih beli aja sendiri,"
Tetapi Barra yang sudah ngiler langsung merebut mie milik Kenza dan menyantapnya.
"Ahhh," mie yang terasa pedas itu menyentuh lukanya dan kini Barra merintih sakit.
"Sukurin tuh, azzab mengambil makan milik orang lain haha," seru Kenza.
"Iya nih hehe, dah ah saya mau beli obat dulu,"
Barra membeli obat luka serta kapas ukuran mini, juga mie instan dalam kemasan cup, rencananya dia ingin makan disitu juga dengan Kenza. Aroma mie itu benar-benar menggugah selera yah. Iklan mie aja bisa bikin orang ngiler, apalagi plus nyium aromanya langsung kepengen.
Sementara di dalam mobil Dina terus mengomel karena anaknya tidak pernah memberitahukan hal ini padanya. Jovan sampai tidak konsen dan akhirnya salah jalan.
"Duh kok bisa salah jalan sih Jo,"
"Haha om Joko ga fokus tu gara-gara mama ngomel,"
"Iya maaf sayang...Cassie nama saya bukan Joko hehe, Joko itu panggilan dari teman-teman karena Saya gak nikah-nikah. Tapi sekarang kan beda, Saya sudah menikahi mama kamu,"
"Oh gitu, harusnya Jaka dong bukan Joko,"
"Ya karena beberapa dari mereka asalnya dari jawa, jadinya beberapa huruf a berubah jadi o. Misal 'apa' jadi 'opo' , Siapa jadi sopo, dan seterusnya. Ada yang bisa dirubah jadi o ada yang tidak," jelas Jovan
"Oh gitu...Mah laper ni mampir makan dong" pinta Cassie
__ADS_1
"Ya," ucap Dina sambil lihat-lihat kiri dan kanan kalau ada restoran atau rumah makan yang dekat.
"Jo, kita ke rumah makan itu aja tuh yang deket indoapril,"
"Siap kanjeng ratu,"
Saat Jovan mau memarkirkan mobilnya, Dina melihat mobil yang mirip dengan milik Barra. Ia pun mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Cassie, lihat tuh cowok kamu. Malah makan di Indoapril sama cewek lain, idih ngapain tuh sok-sok ngobatin tuh cewek. Harusnya kan kamu yang ngobatin," Dina sengaja memancing emosi Cassie.
Kok rada sakit ya liatnya, batin Cassie
"Itu kan Kenza mah, temannya Mas Barra,"
"Kamu gak cemburu gitu, kalo Mama ya udah Mama labrak!" ucap Dina
"Ck mereka hanya teman, mungkin aja si Barra ga bisa ngobatin karena dia ga bisa lihat wajahnya sendiri," bela Jovan.
"Emang ga ada kaca apa? Kan bisa pinjem sama teman ceweknya tuh,"
Jelas Kenza bukanlah wanita feminim. Dia tidak pernah membawa make up apapun di dalam tasnya. Jadi gak punya kaca.
Cassie sedikit terpancing, dia turun dari mobil setelah Jovan selesai memarkirkan mobilnya
"Mas Barra," panggil Cassie dengan wajah jutek jalan mendekat
"Sayang, kamu bukannya pulang dari tadi ya?"
"Cassie, nih kamu aja yang ngobatin," Kenza langsung pura-pura sibuk dengan laptopnya. Dia sungguh tidak ingin Cassie salah paham
"Hai Tante Kenza," sapa Cassie mencoba kalem
"Om Jo nyasar waktu balik," Jawab Cassie sambil mencium aroma mie yang sedang di tunggu Barra.
Barra itu mengatur kursi untuk dia duduk. Lalu Cassie mengambil kapas baru dan obat luka diatas meja
"Cassie bantu obatin ya," tawar Cassie
Hemm pasti ni bocil agak cemburu batin Barra
"Iya, makasih sayang," Barra terus memanggil sayang biar Cassie gak jadi marah.
Setelah itu Cassie menutulkan kapas dengan agak kasar meluapkan kekesalan hatinya
"Aduuh duh," rintih Barra
"Tahan dong, masak cowok gak bisa tahan," ucap Cassie
__ADS_1
Jiaaah tu bocah cemburu wkakaka Kenza langsung tertawa kecil menghadap dinding agar tidak tertawa
"Mana bisa tahan kalau didepan saya ini bidadari," rayu Barra agar Cassie tersenyum
Benar saja dengan sedikit rayuan, gadis itu tersenyum lebar.
"Lapar gak? Nih makan mie, kayaknya udah mateng tuh," ucap Barra sambil menyerahkan mie dalam kemasan cup.
Cassie mengangguk pelan, "Iya nih, tuh Mama sama Om Jo di sebelah," sambil menunjuk tempat makan yang ada di sebelah
"Saya suapin ya," Barra membuka mie cup itu dan menunggunya sedikit dingin, lalu menyuapkannya ke Cassie
Saat mie sudah masuk kedalam mulut Cassie, Nyonya Dina melototkan matanya dari luar jendela hingga Cassie terkejutnya.
"Eh Mama ehhee," Cassie melahap dan mengunyahnya dengan cepat
"Mah, mau mie gak," tawar Barra basa basi
Sementara Kenza asik mojok menutupi dirinya dengan tangan menghadap dinding sambil bermain laptop.
"Mas Barra, makan di samping yuk," ajak Cassie.
Jika Barra menolak takutnya Cassie cemburu lagi. Jadi pria itu menyetujui ajakannya.
"Ya, bentar saya abisin dulu mubazir," ucap Barra
Barra cepat-cepat melahap Mienya sendiri dengan satu suapan besar mie itu sudah habis. Lalu menaruhnya di meja.
"Kenza, rapiin ya. Makasih sebelumnya ehhe," ujar Barra kemudian pergi.
"Bye Tante Kenza," pamit Cassie
"Uuh dasar bos, takut ma pacar sendiri," gumam Kenza masih tertawa kecil melihat tingkah Cassie yang cemburu tadi.
Di rumah makan tersebut Dina terus diam, dia tidak berbicara dengan Barra. Dia mengijinkan Barra untuk makan dengannya tetapi sama sekali tak ada percakapan antara Dina dan Barra. Padahal Barra sudah menyapa dan berbicara sesuatu dengannya, tetapi yang menjawab pasti Jovan.
Cassie tidak peduli dengan Mamanya, dia terus menunjukkan kalau Cassie dan Barra saling menyayangi.
"Mas mau jamur gak?" tanya Cassie
"Mau, kenapa? Kamu gak suka?" tanya Barra lagi
"Ya nanti kalo jamuran gimana?" Cassie sedikit melucu
"Haha yaudah sini," Barra mendekatkan piringnya ke arah Cassie, lalu gadis itu mengambil jamur dari piringnya dan menaruhnya ke piring Barra.
Di tengah makan malam mereka, Jovan mengatakan sesuatu.
__ADS_1
"Barra, terimakasih ya kamu sudah banyak membantu Cassie saat di London. Istri saya juga ingin menyampaikan sesuatu," Jovan melirik Dina sambil menyenggol kakinya.
Menurut Jovan, Dina harus mengatakan rasa terimakasihnya pada Barra. Saat ini Jovan adalah suaminya dan Dina harus menurutinya.