Promiscuity After

Promiscuity After
Gendam Sang Penggoda


__ADS_3

Setelah pernikahan kedua calon mertuanya, Barra mengajak Cassie ke sebuah pesta pertunangan kliennya. Bulan itu adalah musim nikah, banyak sekali undangan yang diterima Barra.


Cassie menggandeng lengan Barra memasuki altar gedung. Semua yang hadir adalah para konglomerat, jadi pas banget dengan dandanan Cassie yang wah dengan gaun yang indah.


Disana tersedia berbagai macam hidangan coklat, gadisnya Barra sudah mengincar sajian itu dengan mata berbinar. Coklat adalah favoritnya.


"Om Bewok aku kesana ya?" tanya Cassie berbisik seraya menunjuk coklat yang tersedia di meja prasmanan.


Barra yang juga sedang berbincang sedikit dengan para klien yang ia kenal, mengiyakan keinginan Cassie. Lantas dengan langkah kecilnya gadis itu menuju meja stand yang berisi macam-macam coklat.


Barra masih melanjutkan perbincangannya, karena jika langsung meninggalkan mereka akan terkesan sombong kecuali mereka tidak melanjutkan perbincangan dengan pertanyaan lain.


Sebenarnya Barra ingin segera menyalami tuan rumah, dan langsung pergi dari pesta itu. Karena perutnya sudah kenyang menyicipi makanan di pesta pernikahan calon ayah mertuanya. Tetapi Pria itu memilih menemui klien dan teman bisnisnya untuk kelangsungan nama baiknya.


Sesuai perbincangan kecilnya, Barra pamit undur diri. Tetapi Pria itu kehilangan Cassie.


"Dimana Cassie?" gumam Barra yang mencarinya di tempat yang tadi Cassie tuju.


"Di stand coklat tidak ada," batinnya seraya mengedarkan pandangannya mencari Cassie di meja stand yang menyajikan menu lainnya.


Tak berapa lama datang seorang wanita bergaun merah yang terbuka membelah dadanya serta membelah punggungnya. Bagaikan wanita yang berjalan tanpa busana. Ini Indonesia, yang masih mempertahankan budaya berpakaian yang sopan. Tetapi sepertinya wanita itu lama tinggal di luar negri.


Wanita itu mendekati Barra.


Barra tidak mengenalnya dan sebelum wanita itu mendekat ia segera menghindar. Ia pergi membelakangi wanita itu, secara bersamaan sebuah suara memanggilnya dari arah belakang.


"Permisi, Pak Barra?" sapa wanita itu.


Tidak mungkin Barra pura-pura tidak mendengarnya, karena suaranya terdengar nyaring dan jarak mereka sangat dekat.


Ia pun menoleh, "Ya?" ucapnya sedikit dingin


"Wah pak Barra tidak ingat saya?"


Siapa? Saya tidak punya klien seperti wanita ini, batin Barra

__ADS_1


Pria itu jengah, karena pakaian di wanita amat sangat seksi dan tidak nyaman dilihat.


"Maaf jika saya sedikit lupa. Dan maaf juga ya, saya sedang ada urusan lain. Tunangan saya menunggu," tolak Barra secara halus dan sengaja menekan kata tunangan agar wanita tersebut tidak mengganggunya.


"Tunggu dulu dong pak Barra, saya anak Pak Dibyo. Yang tunangan ini adalah kakak Saya. Kita juga pernah bertemu sebelumnya, saya pernah menabrak mobil pak Barra," ucap Wanita itu seraya mengulurkan tangannya lalu memperkenalkan diri, "Nama saya Delima,"


"Oh, Maaf saya tidak terlalu memperhatikan wajah Anda saat itu," sahut Barra mau tak mau, ia mengulurkan tangannya berkenalan. Sekali lagi karena rasa canggung karena wanita itu adalah anak kliennya.


"Maaf ya saya harus pamit," kali ini Barra sedikit tegas menolak dan diapun pergi.


Delima tak peduli Barra sudah punya tunangan atau belum yang terpenting dia harus mengejar pria itu sebelum keluar dari gedung.


Cassie yang mendadak sakit perut, harus membuang air besar di toilet. Ia mencoba menghubungi Barra lewat pesan, tetapi notifikasinya hanya mempunyai centang satu yang artinya ponsel Barra tidak aktif atau diluar jangkauan servis area. Biasanya jika di dalam gedung tertentu jangkauan sinyal ponsel itu sedikit bermasalah.


Yang terpenting wanita itu sudah mengiriminya pesan.


Delima mengikuti Barra yang sedang menuju toilet setelah pria itu mendeteksi keberadaan Cassie yang tidak ada di tengah pesta. Mana lagi kalau bukan ke toilet.


Plak


"Kamu tunangan aku, dan sangat mencintai aku," seru Delima


Tak berapa lama Barra menoleh dan mendekati Delima dengan tatapan kosong. Delima tersenyum karena ilmu Gendam yang ia miliki telah terkoneksi dengan Barra. Sedikit lagi dia bisa menguasai Barra.


Delima baru saja melancarkan serangan gendam. Begitu ia menepuk bahu. Maka korban akan mengikuti setiap perintahnya.


Tips biar kita aman dan terhindar dari lImu Gendam, sewaktu kita berpergian jangan sendiri, baiknya kita ajak teman atau adik, saudara kita. Karena gendam bisa bereaksi secara leluasa apabila calon korban itu sendirian tanpa teman.


Untuk itu kita harus selalu waspada terutama kepada orang yang baru kita kenal. Biasanya orang tipe penggendam adalah sok akrab, sok tau, sok pernah bertemu dan banyak bicaranya, kalau kita bertemu orang semacam ini, apa yang diucapkan dia kita jangan mudah langsung mempercayainya.


Rupanya sakit perut yang mendadak diderita Cassie adalah ulah dirinya. Ia menyuruh pelayan memberikan minuman coklat dingin kepada Cassie. Ia tahu jika Cassie menyukai coklat karena melihat gelagat gadis itu yang langsung menyerbu stand Coklat.


Delima selalu membawa serbuk pencahar untuk aksi gendamnya. Tentu saja Delima bukanlah anak dari si pemilik acara. Dia tidak mempunyai hubungan apapun. Targetnya adalah datang ke pesta-pesta orang kaya dan melancarkan aksi gendamnya.


Kebetulan di pesta itu ia bertemu pria incarannya. Delima mencari tahu informasi mengenai orang yang mobilnya ia tabrak saat itu. Dan pertemuan Delima dan Barra hari itu adalah secara kebetulan.

__ADS_1


Delima meminta Barra mengelus pipinya, dan mengecup tangannya. Dan terakhir mencium bibirnya.


Satu persatu dilakukan Barra, di lorong menuju toilet. Lorong yang sepi, hanya beberapa yang melewati mereka dan mengundang sedikit perhatian karena Barra adalah pebisnis yang terkenal.


"Eh liat gak si Lo, tadi itu kan Pak Barra. Kayaknya dia kesini sama tunangannya tapi kok malah bermesraan sama cewek lainnya," ucap seorang wanita di dalam toilet seraya membenahi makeupnya yang sedikit berminyak.


"Iya ya gak nyangka aku kira tuh Pak Barra selama ini alim dan selalu jaga image, masak mesra-mesraan di tempat umum apalagi ada tunangannya lagi disini


Cassie sedikit panas. Apa benar yang mereka bicarakan adalah Barra, tunangannya?


Cepat-cepat Cassie menyelesaikan hajatnya dan keluar.


"Ngomong-ngomong tunangannya dimana ya?" tanya wanita yang sedang membetulkan riasannya.


"Saya tunangannya, mana Mas Barra?!" tanya Cassie sedikit marah


"Eh..mmmm anu itu di-di lorong ini," ucap wanita itu.


Dengan langkah besar Cassie keluar.


Benar saja, dari kejauhan ia melihat Barra sedang ingin mencium bibir wanita bergaun merah dan seksi.


Hampir, bibir itu belum tersentuh.


Plak..


Cassie menepuk bahu Barra, tepat di bahu yang menjadi tempat tepukan semula.


"Tega ya Mas Barra! Kamu jahat! Kamu berani selingkuh di depan aku....hiks," Cassie berteriak seraya menangis


Ia kecewa


Sementara Barra yang sudah tersadar. Bingung apa yang terjadi. Ia melihat wanita yang tadi berbicara dengannya lalu kenapa ia berada di lorong toilet dengan wanita itu.


"Kamu...! Ini pasti ulah kamu kan? Saya akan bikin perhitungan nanti!" Barra berlari mengejar Cassie yang sudah salah sangka dengannya.

__ADS_1


__ADS_2