Promiscuity After

Promiscuity After
HELP


__ADS_3

Andy pulang ke rumahnya dengan menggunakan bus kota. pekerjaan part timenya hanya sampai mengantarkan Barra ke kantor, setelah itu ia pulang untuk melanjutkan kuliah.


Pria itu berdiri menunggu bangku yang kosong. Di perhentian selanjutnya, ada beberapa orang yang turun. Andy langsung cepat-cepat mengambil tempat duduk tersebut. Namun kursi itu keburu di duduki oleh seorang wanita berpakaian formal, rok diatas lutut dengan blazer hitam yang tidak terkancing. Didalamnya bukan kemeja melainkan lebih mirip kemben dari kain memperlihatkan belahan yang menonjol.


Andy terpaksa berdiri lagi di dekat kursi yang diduduki wanita itu.


"Maaf ya mas, Lady's first," ucap wanita itu sambil tersenyum dipaksakan.


"Ya," balas Andy.


Bus kota yang sudah sesak dan kapasitasnya yang penuh terus mengambil penumpang dengan rem dadakan yang sering membuat penumpang yang berdiri bergoyang-goyang menabrak penumpang lainnya.


Hal itu biasanya dimanfaatkan oleh pencopet. Andy selalu merantai dompetnya agar aman. Sedangkan wanita yang merebut bangku Andy malah memamerkan beberapa perhiasan.


Bisa kembali mengerem karena ada beberapa penumpang yang turun. Andy sampai oleng dan menabrak wanita berbaju formal namun seksi. Ada tangan jahit yang meremas dadanya. Dan wanita itu menuduh Andy.


"Hei kurang ajar Lo ya, Lo pegang-pegang dada Gue," omel wanita itu


"Yee siapa juga ya pegang, lagian situ pake baju seksi gak liat apa ni penumpang bus bejibun gini. Disodorin gituan ya langsung sikat," Andy membela diri dan menyalahkan wanita itu karena cara berpakaiannya.


"Halah Lo paling yang... haduh kalung gue, woy jambret Lo ya," teriak wanita itu hingga mengundang perhatian penumpang. Salah satunya malah membela wanita itu.


"Siapa yang jambret, siapa!" tanya pria bertatto yang duduk di seberang.


"Dia ni, ngambil kalung gue," tunjuk wanita itu asal menuding Andy.


Pria bertato dengan rambut gondrong tersebut langsung menarik kerah Andy.


"Gue gak ambil," aku Andy


"Mana ada maling ngaku, udah tonjok aja tuh maling," seru ibu-ibu yang ikut tersulut emosi.


Akhirnya pria itu meninju Andy hingga hidungnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah.


"Periksa aja gue gak ambil," ucap Andy


Sang kondektur yang baru mendekatinya karena terhalang penumpang lain, melerai mereka semua.


"Stop stop jangan main hakim sendiri. Kita periksa aja mas ini,"


Bus berhenti sebentar karena Andy harus diperiksa namun nihil. Dia tidak mengambil apapun. Sementara ada penumpang yang turun secara diam-diam, itulah yang mengambil kalung milik wanita berblazer hitam. Jambret itu pun lolos.


"Duh kalo bukan Lo siapa yang ambil," tanya wanita itu


"Kayaknya udah kabur deh soalnya tadi ada yang turun. Mungkin aja itu dia," ucap salah satu gadis yang berbaju pank.


"Yee udah kabur juga.. huuu," ucap penumpang lain


"Lapor polisi aja," seru pria bertato.


"Trus muka gue gimana udah Lo tonjok," Andy marah dengan pria bertato tersebut


"Hehe sorry ye, minta duit berobat aje ma tu cewek," Si pria bertatto pun duduk kembali


Bus kembali berjalan setelah berhenti beberapa menit.


"Semua ini gara-gara Lo, asal tuduh,"

__ADS_1


"Iye iye maaf," wanita itu pun duduk kembali dan menunduk merasa canggung.


Di perhentian bus selanjutnya, Andy turun disusul wanita berbaju blazer.


"Hey tunggu!"


Andy menoleh sambil berbalik badan. Si Wanita terlihat berlari kecil dan membuat bagian depannya mantul-mantul. Andy salah fokus karena memperhatikan bagian itu.


"Ini uang buat berobat, sorry ya gue asal nuduh. Abis Lo yang terdekat disitu sih,"


"Gue gak butuh uang Lo,"


"Hilih gak usah jaim Lo," ucap wanita itu


"Gue butuh nomer ponsel Lo aja, sama nama Lo,"


"Ogah, buat apaan! Males gue ladenin bocah,"


"Biar kalo sewaktu-waktu syaraf di hidung gue rusak, gue bisa minta Lo buat tanggung jawab," ucap Andy sambil menyodorkan ponselnya.


Hanya modus aja, sebenarnya dia ingin mengenal wanita itu.


"Nih nomer gue, dah ya duitnya gue ambil lagi. Bye...," wanita itu berjalan melewati Andy. Rambutnya yang panjang tergerai melambai-lambai karena terkena angin, menyentuh wajah Andy.


"Wangi banget rambutnya," gumam Andy.


Ia melihat nama dan nomer yang wanita itu simpan di ponselnya.


"Hera... Nama yang bagus," ucapnya sambil tersenyum.


.


.


Sore itu pun dia mampir di salah satu warung makan di pinggiran jalan. Sudah lama dia tidak makan di warung kecil, selama menikah dengan Mas Firman, suaminya yang baru meninggal. Hera selalu makan di restoran yang mahal dan enak.


"Mau makan apa neng?" tanya Ibu-ibu yang lebih tua darinya.


"Nasi uduk betawi aje nyak sama es teh ya," jawab Hera setelah melihat menu yang tertempel di dinding.


Si penjual segera membuat pesanan Hera.


Beberapa pasang mata laki-laki disebelahnya melihat Hera dan terang-terangan mengintip sesuatu yang menonjol di bagian depan.


"Mau apa Lo," ucap Hera sambil mendelikkan mata


Si laki-laki tersenyum genit dan malah memainkan mata. Hera pun menjauhinya dengan menggeser duduknya di kursi. Kemudian ia mengaitkan kancing Blazernya


Lulusan Manajemen Bisnis masak jadi OG yang bener aja astaga! Sudah banget sih cari kerja. Arghh, batin Hera


Pesanannya datang, Hera langsung menyantap makanannya dengan cepat karena takut dengan dua pria yang terus-menerus melihatnya dengan tatapan meesum.


Setelah habis, Hera membayarnya dan segera pergi meninggalkan warung tersebut. Perasaannya makin tidak enak.


Ia berjalan cepat, menghampiri tukang ojek yang mangkal dekat warung sambil bermain game di ponselnya


"Bang ojek bang...," ucap Hera

__ADS_1


"Saya bukan ojek neng, maaf ya," ucap pria itu lalu memainkan ponselnya lagi.


Hera melihat dari spion motor pemuda itu, benar saja dugaannya. Dua laki-laki di warung itu sedang membuntuti dirinya. Hera terus berjalan di keramaian sambil menunggu bus atau kendaraan umum yang datang.


Sepanjang trotoar itu tidak ada kendaraan umum yang melintas hingga dari kejauhan ia melihat sebuah halte.


Baguslah, halte tersebut pasti ramai jadi pria tersebut tidak berani seenaknya. batin Hera


Tetapi rupanya halte tersebut sepi hanya ada dua orang disana.


Hera duduk di tengah ibu-ibu yang sudah duduk duluan, tapi begitu dua pria berbadan besar itu ikut duduk, ibu- ibu tadi langsung berdiri menjauh.


Hera juga berdiri dan menjauhi mereka, namun salah satunya menepuk bokongnya


Plak


Hera tidak berani menampar atau memukulnya, ia hanya bisa melotot.


"Kurang ajar!" ucap Hera


"Haha, jangan galak-galak dong neng," ucap orang yang menepuk bokongnya.


"Sini duduk sama kita," ajak pria yang satu sambil meraih tangan Hera dan menariknya dengan kasar.


"Lepasin!" teriak Hera mencoba melepaskan genggaman laki-laki tersebut.


Sementara ibu-ibu yang disana hanya menonton dan takut berurusan. Mereka tahu dua pria tersebut adalah preman.


"Bu tolongin saya Bu,"


"Heh lepasin dia, kalo ga saya teriak ni," ucap salah satu ibu yang sedang menunggu bus. Akhirnya dia membela Hera juga meskipun sedikit takut.


"Sebelum Lo teriak, gue bakal gorok Lo terlebih dahulu," pria yang menepuk bokong Hera tadi mengeluarkan pisau lipat dan membukanya.


Terlihat ujung pisau yang mengkilat dan sangat tajam. Si ibu itu langsung pergi menjauh saking takutnya.


Kemudian dua laki-laki tadi membawa Hera dengan cara menggendongnya di bahu. Seperti angkat beras.


Hera meronta dan berteriak, tetapi dia diancam kalau Hera sampai berteriak, mereka tidak akan segan-segan merobek wajahnya yang cantik. Hera ketakutan langsung terdiam dengan pasrah.


Dua laki-laki preman tersebut membawa Hera ke bawah jembatan yang tidak dilalui orang-orang. Bawah jembatan tersebut sudah beralih fungsi menjadi tempat singgah preman atau tempat nongkrong anak muda dimalam hari. Jika pagi sampai sore hari tempat itu sepi.


Hera di jatuhkan dilantai paving tersebut, ia langsung mencari kesempatan untuk kabur namun si preman langsung menggores lengannya dengan pisau lipat.


Sreeetch


"Arghh," teriak Hera, benda tajam tersebut menggores panjang sedikit berdarah namun tidak dalam.


"Ck ck ck, bandel sih Lo, kegoreskan. Kalo Lo coba kabur lagi, gua bakal bikin luka itu semakin dalam


Hera memundurkan langkahnya, mau tak mau ia harus menuruti keinginan preman itu.


Kedua tangan dan kakinya sudah terikat. Mulutnya juga terlakban. Preman itu pun mulai mengerjai Hera, dengan membuka kaitan blazer yang menutupi dadanya.


"Wow gede cuuk," ucap salah satunya.


Keduanya menatap Hera dengan tatapan nyalang dan penuh gairah, lidahnya terjulur keluar seperti serigala yang sedang kehausan.

__ADS_1


__ADS_2