
Barra segera mandi begitu sampai di rumahnya. Guyuran air shower yang hangat membasahi tubuhnya, menghilangkan lelahnya dari aktifitas dunia.
Ia melakukan semuanya serba tergesa-gesa sampai menggosok gigi pun ia lakukan dengan gerakan cepat akibatnya ujung sikat gigi terkena gusi, untung saja tidak sampai berdarah.
Sesudah mandi ia mengenakan setelan jas yang terbaik, penampilannya harus memukau. Namun, wajah tampannya membiru dan terluka di beberapa bagian, membuatnya sedikit pesimis.
"Hemm masih lebam, bibir sedikit pecah dan kini di samping bibir malah terlihat kebiruan. Masak sih harus ditutupi sama make up ntar dikira bencis," gumam Barra sambil berkaca di pantulan cermin.
"Biarlah mau bagaimana lagi, semoga mereka tidak bertanya tentang luka itu," gumamnya lagi.
Tak berapa lama, Andy sopir pribadi Barra sudah datang. Terkadang jika Barra membutuhkan seorang sopir maka dia memanggil Andy, tetangganya. Bukan Andi Sudirman yang seorang hacker teman Ayahnya ya. Ini beda lagi.
Andy seorang mahasiswa yang menerima kerja part time. Barra mempekerjakannya secara part time harian untuk menjadi sopir pribadi, jika dibutuhkan. Rencananya jika Andy sudah lulus kuliah nanti, dia bisa bekerja di perusahaan Barra sesuai dengan title yang diambil.
"Selamat pagi Pak Barra," sapa Andy
"Pagi, kamu panaskan mesinnya dulu ya. Ini kuncinya," ucap Barra memberikan kunci pada Andy.
Andy menerimanya dan segera memanaskan mesin mobilnya. Tak berapa lama Barra datang dengan beberapa berkas dan laptop yang masih terbuka.
Pria itu duduk di belakang, memangku laptopnya sambil mengetik beberapa lampiran lagi. Mulutnya juga sedang mengunyah sesuatu.
"Siap jalan ya pak sesuai aplikasi, mohon untuk mengencangkan sabuk pengaman," sahut Andy
"Haha saya berasa naik taksi online. Iya Andy, sesuai lokasi yang saya kirim kemarin. Terimakasih," ucap Barra sambil mengunyah roti yang menjadi sarapan paginya.
Time is money.
Barra melewatkan beberapa jam dan itu amat sangat merugikannya. Alhasil dia mengejar waktu dengan menyelesaikannya di dalam mobil.
Rio menggenggam kedua tangannya, hingga berkeringat. Dahinya pun ikut mengeluarkan keringat dingin. Pasalnya, ke-empat pebisnis yang kemarin menolak kerjasama dengan Rio. Kembali lagi, mereka di undang oleh Rio dengan penawaran yang berbeda. Namun kali ini mereka dikumpulkan dalam satu ruangan.
__ADS_1
Rapat belum di mulai karena Rio sedang menunggu Barra.
"Maaf Pak Rio, kita sudah melewatkan lima menit. Mau sampai kapan kita menunggu?" Tanya salah satu klien yang satu-satunya wanita disana.
"Mohon ditunggu ya Bu, kita tahu sendiri kan. Jakarta itu macet," Rio beralasan macet karena sesungguhnya dia tidak tahu dimana keberadaan Barra saat ini.
Ceklek
Yang ditunggu akhirnya datang juga.
Pintu dibuka, Barra datang bersama Andy yang mengikutinya dibelakang. Andy membawa troli yang di atasnya tersedia hidangan untuk sarapan pagi. Ada kopi atau teh. Dan mau sarapan roti basah atau roti kering peserta rapat bisa memilih.
Klien merasa dimanjakan oleh hidangan tersebut apalagi nampak dari bungkus kemasannya berasal dari toko ternama.
"Maaf saya terlambat karena harus memesan hidangan special untuk tamu spesial kami. Langsung saja saya akan menjelaskan bagaimana konsep kerjasamanya. Hemm silahkan juga bapak dan ibu jika ingin sambil menyantapnya," ucap Barra
Beberapa dari mereka memilih untuk minum dahulu, namun Kliennya yang hanya satu-satunya seorang wanita memilih sambil memakan cheese cake nya.
Rapat yang membutuhkan waktu lumayan lama karena ada perbincangan tanya jawab dan lainnya. Akhirnya tuntas juga dengan hasil yang memuaskan karena mereka semua memutuskan untuk bekerja sama dengan perusahaan Rio.
"Barra, terimakasih ya kamu sudah membantu saya. Saya jadi tahu dimana letak kelemahan perusahaan Saya," ucap Rio sambil menepuk pundak Barra
"Sama-sama Pak Rio, justru saya juga belajar konsep yang sangat bagus dari perusahaan bapak," jawab Barra yang juga memuji konsep yang dimiliki pak Rio
"Kemarilah ada yang ingin saya bicarakan," ajak Rio untuk duduk di sofa
Setelah duduk, jantung Barra berdebar. Apa yang mau dibicarakan? Apakah ini soal hubungannya dengan Cassie?
"Saya membaca koran pagi ini, membuat saya bergidik," ucap Rio sambil menunjukkan koran kriminal yang dilakukan Bram anak pengusaha nomer tiga di Jakarta.
"Dan di situ di katakan kalau kamu yang membantu Cassie lepas dari Bram, juga membantunya selama pengobatan di London, benar begitu Barra?" Tanya Rio
__ADS_1
Astaga masuk koran hemm perasaan kemarin tidak ada reporter satu pun? Atau salah satunya menyamar? batin Barra
"Iya, pak. Dan maaf karena semalam, Saya sudah mengacaukan acara pertunangan Bram dengan Cassie,"
"Saya malah sangat berterima kasih, kalau bukan karena kamu mungkin Cassie lebih tersiksa bersama Bram. Sejujurnya saya ingin Cassie yang memilih sendiri soal masa depannya. Tetapi pak Wibi orang yang berpengaruh dan Dina juga sangat bersikeras terhadap perjodohan itu....," Rio terdiam mengambil napas
"Barra saya minta maaf karena menolak lamaran itu, saya termakan emosi karena saya juga tidak mengenal kamu. Saya seperti orang yang tidak tahu balas Budi. Kamu sudah menyelamatkan Cassie lalu saya menolak lamaran kamu. Hal itu membuat saya sangat tidak enak hati. Terlebih apa yang kamu lakukan sekarang..." ucap Rio penuh penyesalan
"Saya pribadi sudah memaafkan pak Rio, sejujurnya saya tidak masalah jika Pak Rio menganggap saya pencuri klien hehe. Maka dari itu saya ingin memperbaiki kesalahpahaman antara perusahaan kita," jawab Barra
"Dan soal Cassie, sebenarnya saya menolongnya karena saat itu tidak sengaja bertemu dengannya di London. Cassie dalam keadaan berantakan sedang di kejar-kejar bodyguard Bram. Lalu saya menolongnya dan membawanya kerumah sakit. Disitulah diketahui, di dalam tubuhnya ditemukan kandungan narkotika. Cassie harus segera di rehab," cerita Barra
"Bagaimana kamu bisa mengenal Cassie?" Tanya Rio yang penasaran kemudian dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa
"Kami pernah tak sengaja bertabrakan dan ponsel kami tertukar...dan dari situlah hubungan kami berlanjut. Sangat singkat, tapi saya yakin dengan perasaan saya,"
"Saya rasa kamulah yang layak mendapatkan Cassie, menikahlah dengannya dan bahagiakan dia. Saya juga melihat Cassie sangat mencintai kamu. Saya merestui hubungan kalian," ucap Rio sambil tersenyum
"Tapi umur saya jauh berbeda dengannya, apa pak Rio yakin?"
"Cinta itu gak mandang umur Barra. Tapi masalah hati," ujar Rio
"Waktu saya menikah dengan Dina, saya mencintainya tetapi saya sedikit ragu karena sifatnya yang keras. Saya berpikir dia bisa memperbaiki sifatnya itu setelah menikah, tapi itu bukanlah sifat melainkan watak. Saya beristri, namun saya kesepian. Lama kelamaan saya jenuh dengan semuanya, meskipun saat ini saya menyesali perceraian saya tapi mungkin ini jawabannya. Dia bukan jodoh saya. Kalau kamu yakin dan tidak ada keraguan. Ya menikahlah," ujar Rio sedikit bercerita tentang kehidupan pribadinya.
"Terimakasih pak...calon mertua,"
"Haha..." Tawa Rio sedikit malu di panggil calon mertua.
Sekarang Barra harus berusaha mendapatkan restu dari Ibunya Cassie.
-------
__ADS_1
NB: Hai reader, harap komentar dong biar saya tahu bagaimana tanggapan kalian✌️😅