
Malam mendung tak berawan. Sang petir mengeluarkan kharismanya, membuat dentuman yang mampu menghentakkan jiwa dan raga. Menunggu hujan menurunkan berkahnya.
Malam itu tak ingin sendiri, namun sepi selalu menemani. Dina menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu setelah pulang dari pertemuan yang membuatnya gundah.
Teringat pagi itu, Dina bertemu dengan pebisnis yang juga bekerja menjadi dewan penting di sebuah pemerintahan, Bu Mayang. Dalam pertemuannya Bu Mayang menyinggung soal hubungan Bu Dina dengan Barra.
Tadinya Mayang ingin sekaligus mengambil 15 unit apartemen untuk karyawannya tetapi semuanya batal lantaran, Bu Dina tidak merestui hubungan anaknya dengan Barra.
Flashback.
"Mari masuk Bu, wah saya merasa terhormat kedatangan calon mertuanya pak Barra nih," ujar Bu Mayang.
Calon Mertua? Saya tidak merestuinya kenapa Bu Mayang bisa beranggapan seperti itu? batin Dina
"Hemm maaf dari mana Bu Mayang mendapatkan informasi itu?" tanya Dina sembari duduk
"Haha ya jelas tau lah, kan masuk koran. Kalau Pak Barra menyelamatkan kekasihnya dari perjodohannya dengan anak pengusaha. Beruntung loh Bu Dina tidak jadi menjodohkan dengan Bram dan malah dapat calon mantu seperti Pak Barra yang sangat baik. Saya tunggu ya undangannya," ucap Mayang
Dina menjadi bingung apa yang harus ia katakan jika Barra bukanlah calon menantunya. Kemudian Bu Mayang meminta proposal penawaran beserta brosurnya.
Sebenarnya ini adalah tugas marketing. Namun karena Bu Dina pernah menawarkan proposal pada Bu Mayang saat dirinya masih menjabat sebagai marketing, sehingga Bu Mayang memanggilnya lagi.
"Maaf ya Bu Dina kalau saya sempat menolak penawaran yang Bu Dina ajukan. Pak Barra itu sangat berjasa bagi bisnis saya, sehingga saya merasa sangat berhutang Budi padanya. Jika saya tahu Bu Dina itu calon mertuanya, pasti langsung saya terima penawaran Bu Dina saat itu. Unitnya masih ada kan? Saya ambil 15 kalau masih ada,"
"Ya masih ada kok Bu, 15 itu untuk Ibu Pribadi?" tanya Bu Dina
"Kalau saya pribadi tidak butuh sih, karena saya sudah punya, tapi saya akan berikan untuk bonus para pegawai yang berprestasi," jelas Bu Mayang sembari membolak balikkan penawaran harga dan brosurnya.
"Hemmm sebenarnya...." Dina dengan rasa canggung mengatakan kebenarannya.
Alhasil Bu Mayang malah menasihati Dina, kenapa dia menolak orang baik seperti Barra. Kemudian Bu Mayang mengakhiri pertemuan itu dan tidak jadi mengambil unitnya.
Flashback Off
Dina pusing tujuh keliling, dan menyesal kenapa dia menceritakan kepada Bu Mayang jika dia menolak Barra.
Badannya tiba-tiba lemah, ia pun merasakan perubahan suhu badannya yang panas. Jovan sedang keluar kota sehingga tidak pulang malam itu. Sementara Cassie sudah pergi. Asisten rumah tangganya sedang menjaga anaknya yang opname. Sopirnya sudah pulang. Dia sendirian di rumah, memasang status dengan caption Sick di sebuah aplikasi medsos.
__ADS_1
Tak berapa lama Jovan menelepon Dina, menanyakan soal statusnya. Dia pun meminta maaf karena tidak dapat pulang malam itu. Begitu juga dengan Cassie yang langsung menelpon sang Ibu. Dina merasa sedih, disaat dia membutuhkan orang-orang semuanya pergi....
Ting Tong.
Bel Rumah berbunyi dua kali
Dina beranjak bangun dengan malas membuka pintu dan dengan wajah memerah terutama bagian hidung, karena sedang sakit.
"Barra," gumam Dina
"Malam Ma," sapa Barra sambil membungkuk sedikit.
"Mau apa kesini?" ucap Dina masih ketus.
"Cassie bilang kalau Mama sakit dan tidak ada orang dirumah, jadi Barra kemari. Pasti Mama belum makan kan? tuh masih pakai pakaian kerja. Barra masuk ya?" ucap Barra yang langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya.
"Eh mau ngapain kamu, asal masuk aja," sahut Dina ingin mencegah Barra, tetapi Barra sudah berada di dapur.
Pria itu mengeluarkan semua bahan-bahan, seperti kentang, wortel, kacang merah dan daging dengan bahan yang sudah di potong-potong. Barra tinggal mencucinya, memasaknya dengan bumbu-bumbu yang sudah ia siapkan.
"Lancang kamu ya," pekik Dina
"Ahh terserah kamu lah, saya pusing," Dina pun pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya dan berganti pakaian.
Dina tidak mandi, badannya sungguh panas. Hanya membersihkan bagian lipatan dengan handuk hangat, dan mencuci muka. Setelah itu ia memakai piyama.
Sementara Barra sudah merebus daging dan kacang merah. Mulai tercium aroma nikmatnya. Dina yang saat itu keluar dari kamar untuk mengambil obat, sekilas melihat Barra yang sibuk di dapur. Ia mengintip dari balik dinding dan mulai terkesima akan tingkah lakunya.
Dina sebenarnya sudah sangat lapar, tiba-tiba saja aroma sop itu sangat menggugah seleranya.
"Kok lama banget ya," gumamnya
Barra membuat sup daging kacang merah berdasarkan resep di google, sebenarnya dia sendiri baru pertama kali masak. Dan dia nekat memberikan masakan pertamanya untuk mengambil hati Dina. Ya kalau enak, kalau gak enak kan bisa berkurang nilai plusnya.
60 menit kemudian, sop hampir jadi. Barra mengambil satu sendok dan mencicipinya.
"Haduuh panas panas..," keluhnya.
__ADS_1
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyodorkannya segelas air putih dingin.
"Ini minum air dingin," ucap Dina
Barra menerimanya, "Makasih," lalu meneguk minumannya Langsung.
"Enak gak tuh?" tanya Dina
"Kayaknya Mah ehhe," ucap Barra
Dina mengambil sendok baru dan mencicipinya
"Hemm enak, kurang garam dikit," Dina menuangkan garam sedikit lalu mencicipinya lagi.
"Gimana rasanya Ma?"
"Udah, enak," jawab Dina
"Yaudah Mama kan lagi demam, duduk aja Ma, biar Barra siapin,"
"Kamu aja yang duduk, kan saya tuan rumahnya," jawab Dina sedikit jutek meskipun begitu Dina malah menyuruh Barra duduk di meja makan.
Barra menurut
Tak berapa lama, hidangan sop daging kacang merah sudah tersaji di meja makan.
Dina juga mengambilkan Barra semangkuk sop, lalu menyuruhnya makan bersama.
"Kamu itu hatinya terbuat apa sih, sudah saya jutekin tapi kenapa masih baik," ucap Dina sambil makan.
"Karena saya ingin menunjukkan pada Bu Dina, kalau saya bisa diandalkan,"
"Oh ya? Lalu kenapa kamu bisa bercerai kalau kamu merasa bisa diandalkan?" tanya Dina
"Perceraian saya yang pertama lantaran bukan karena dari pribadi saya yang kurang menyayangi, melainkan mantan istri saya selingkuh dengan orang yang lebih kaya. Padahal saya selalu mencukupi kebutuhannya, kami tidak pernah kekurangan makanan, dia ingin perhiasan juga saya belikan. Tetapi ya itu tadi, gaya hidupnya berubah setelah menikah. Karena ada pepatah yang mengatakan 'manusia tidak akan pernah merasa puas'. Saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan Cassie meski perbedaan umur yang jauh," jelas Barra, ia belum menyentuh makanannya
__ADS_1
"SOP nya enak, kamu sering buat?"
Dan perbincangan mereka sedikit lebih banyak dari sebelumnya. Namun Dina masih belum memberikan jawaban apakah dia sudah merestui atau tidak. Yang terpenting Dina sudah ingin berbicara dengan Barra.