
Malam harinya seperti biasa Barra dan Cassie melakukan panggilan Video Call. Banyak hal yang Cassie ceritakan. Sementara Barra tidak terlalu menceritakan kisah apa yang terjadi di dalam kantornya.
Jika ditanya dia pasti bilang, kantor baik-baik aja dan lain sebagainya padahal. Ada banyak problem di dalam kinerja perusahaan tersebut. Selalu ada Mis antara atasan yang satu dengan yang lainnya.
"Trus ada hal apalagi gitu, cerita dong Om. Masak gak ada problem kek atau kejadian lucu atau apa gitu,"
"Hehe Ya ada beberapa masalah cuma sudah ditangani kok. Kalau kejadian lucu sih saya gak tau Cass. Karena hari ini saya terakhir bekerja di kantor papa kamu, jadi ya sedikit sibuk sampai gak memperhatikan lingkungan sekitar," jelas Barra sedikit lelah. Sebenarnya dia sudah ingin tidur
"Om bosen ya video call-an sama Aku,"
"Kok bisa berpikir seperti itu sih? Saya gak bosen kok, malah seneng banget,"
"Tapi raut mukanya si Om tuh males banget,"
""Haha ini karena saya ngantuk, bukan karena bosan,"
"Yaudah bobok gih, mimpiin aku ya," Cassie tersenyum lalu memonyongkan bibirnya seakan-akan mencium Om kesayangannya.
Begitu juga dengan Barra yang memajukan bibirnya membalas kecupan dari video call. Pria itu sudah tidak kuat menahan kantuk. Dan langsung mematikan ponselnya.
Hubungan jarak jauh memang harus sabar. Terkadang apa yang kita lihat tidak sama dengan yang kita pikirkan. Seperti contohnya Barra mengantuk saat mereka melakukan panggilan Video Call tetapi beda hal dengan Cassie yang menganggap jika Barra sudah bosan berbicara dengan dirinya.
Hal kecil bisa menjadi besar karena kesalahpahaman. Teguhkanlah cinta didalam diri masing-masing.
.
.
.
Keesokan harinya.
Pagi itu, hari yang indah untuk Hera. Diterima bekerja di perusahaan ternama setelah sekian lama berpacu dalam peluh untuk bertahan hidup.
Lika-liku kehidupannya bagaikan perjalanan cerita di dalam sinetron. Menikah, selingkuh, bercerai, ditinggal mati suami dengan banyak hutang, warisan sedikit, menjadi janda seksi, mengejar mantan tapi sudah dibuang. Di incar suami tetangga dan berakhir dengan di benci banyak orang karena dianggap pelakor.
Sebenarnya dia tidak seburuk itu, dia hanya ingin mengejar cintanya yang pernah pergi karena kesalahannya sendiri.
Hera yang sedang bersiap ingin berangkat kerja pagi itu, mendengar keributan di depan pagarnya. Beberapa warga yang mayoritas bersuara wanita memanggil nama Hera sambil memukul pagar agar pemilik rumah keluar.
__ADS_1
"Apaan sih ribut-ribut," gumamnya sambil mengintip dari balik jendela ruang kamar.
Hera segera keluar sebelum pagar rumahnya rusak
"Woy pelakor! Keluar Lo!" teriak ibu A
"Ya keluar Lo! Jangan ngumpet Lo!" teriak ibu C
"Usir aja tuh pelakor!" teriak Ibu B sambil mengetok pagar dengan batu.
"Hey hey, berisik tahu gak! Ada apaan sih? Siapa yang pelakor?!" tanya Hera dari terasnya.
"Sini Lo dasar PeCuun!" pekik Ibu A
"Iya saya keluar tapi itu stop dulu jangan mukul-mukul pagar, kan saya udah keluar? Situ mau bikin heboh sekampung apa?" ujar Hera sambil membuka pagar.
"Biarin, biar mereka pada tahu kalau ada pelakor di kampung kite," ucap Ibu B
Setelah pagar di buka, Ibu A langsung menarik rambut Hera dengan kasar.
"Ahhh sakit Bu!" rintih Hera sambil memegangi rambutnya yang sudah rapi tersisir.
"Udah tahu suami orang, masih aja Lo embat!" ujar Ibu A
Hera merintih kesakitan, lututnya terkena kerikil kecil.
"Apaan sih, saya gak merebut suami orang. Situ jangan nuduh ya!" Hera membela diri
"Masih gak mau ngaku lagi," si Ibu A bersiap memukulnya dengan centong sayur yang panjang dan tebal di tangan kanannya.
Hera yang masih berada di lantai paving, reflek mengangkat kedua tangannya untuk melindungi wajahnya agar tidak terkena pukulan sembari memejamkan mata.
Tidak ada pukulan apapun yang dirasakan Hera.
Saat ia membuka matanya, Andy sudah berada di depannya dengan gentel memegang tangan si Ibu A dengan tatapan marah.
"Lo apain Istri gue hah!" Hardik Andy kemudian melepaskan tangan Ibu A dengan kasar.
__ADS_1
"Istri sejak kapan kalian nikah!" tanya ibu B
"Sejak 1945," jawab Andy asal kemudian membantu Hera berdiri dengan merangkulnya.
"Pergi kalian semua, maaf bukan saya tidak menghormati. Tetapi anda, anda dan anda tidak menghormati istri saya duluan jadi untuk apa saya menghormati kalian. Pergi atau saya tuntut atas tindakan KDRW," Ancam Andy sambil menunjuk ketiga ibu itu.
"Apaan tuh KDRW," tanya Ibu C yang sedikit kebingungan
"Kekerasan dalam rukun warga, masa gak tahu sih! Makannya browsing dong," Sebenarnya Andy hanya mengarang, dia tidak tahu hukum itu memang ada atau tidak.
"Heh bilangin sama istri kamu ya! Jangan kegenitan pake deketin suami orang. Apaan tuh malam-malam jalan berduaan," tuduh Ibu A
"Astaga jadi itu, Saya gak ada ngerayu pak Anton ya Bu. Saya cuma jalan kaki dari Indoapril sampai ke rumah, trus pak Antonnya deketin saya ngajak ngobrol, masa iya saya cuekin nanti dikira sombong," jelas Hera
"Nah ibu sudah main hakim sendiri kan? Tanpa tahu kejelasannya. Hayo dapat gosip dari mana kalian seenaknya nuduh istriku selingkuh," sahut Andy dengan tegas
"Hmmm anu, kalo gitu kita pamit ya," si Ibu A ketakutan dan mengajak ibu-ibu lainnya untuk pergi.
Lagi-lagi Andy selalu datang bak pangeran berkudanya yang menyelamatkan kekasihnya. Tetapi Andy tidak memakai kuda. Kali ini dia datang dengan motor kesayangannya yang jarang dipakai.
"Makasih ya Ndy," ucap Hera
"Sama-sama sayang, ada yang sakit gak?" tanya Andy
"Ya perih dikit. Lo, kok bisa di sini? Tahu darimana Lo rumah gue?" tanya Hera
"Tau lah, Andy gitu loh,"
"Paling Lo ngikutin gue kan kemarin," terka Hera
"Dari CV Lo, kemarin gue ngintip waktu surat lamaran Lo di lempar pak Barra di meja. Pas yang kebuka bagian CV, gue catetlah hehe," jelas Andy, "Gue antar ya,"
Hera menjawabnya dengan anggukan, ia pun masuk kedalam untuk mengambil tasnya. Tetapi langkahnya terhenti kemudian berbalik menghadap Andy.
"Ndy..," panggil Hera
"Apa?"
"Jangan terlalu baik sama gue, nanti gue bisa jatuh cinta beneran sama Lo. Gue gak mau gagal untuk ketiga kalinya," jelas Hera dengan tegasnya.
__ADS_1
Andy terpaku dan sedikit kesal karena Hera menganggap sikap Andy hanya main-main. Hanya seorang brondong labil yang menganggap pernikahan itu seperti membalikkan telapak tangan. Tidak semudah itu apalagi untuk wanita seperti Hera.
"Sesulit itukah menaklukkan hati Lo, Tante....Gue gak main-main, gue bakal buktiin sama Lo," gumam Andy ketika Hera sudah masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil tas kerjanya.