
Sore itu sepulang kerja, Wibi bersandar di meja bacanya. Bukan untuk membaca melainkan untuk merenung dan minum kopi panasnya.
Wibi tidak membawa Bram ke tempat rehab, menurutnya percuma membawa anaknya ke tempat itu jika tidak ada kemauan untuk berhenti.
"Mau kemana kamu?" tanya sang Ayah saat melihat Bram membawa koper menuju pintu keluar.
"Bukan urusan Anda," ucap Bram menatap Ayahnya dengan sinis.
"Kurang ajar kamu!" Wibi berdiri dari duduknya tetapi gerakannya sangat lambat karena tubuhnya yang gemuk, hingga Bram sudah berlalu pergi.
"Biar saya yang cegah tuan," Bimo yang berdiri di ujung pintu menyusul keluar dan mencegah kepergian Bram.
Wibi melempar gelasnya hingga membentur ke dinding.
Praaang
Bunyinya yang nyaring tidak membuat Bram berbalik. Pecahan gelas kacanya berserakan di lantai. Wibi kesal harus bagaimana mengatur anaknya ini. Di keraskan tetapi sikapnya berontak, di sayang dan di manja kan tetapi sikapnya malah menjadi seenaknya.
"Arghhh" Wibi menyentuh dadanya.
Seketika jantungnya menyerang, menusuk-nusuk rasanya panas, engap dan tak bisa bernapas. Tubuhnya yang memiliki banyak kolestrol dan lemak berlapis-lapis akhirnya memilih untuk duduk, mengatur emosinya dengan membuang napas dan tarik napas seperti ibu-ibu jika ingin melahirkan.
Bimo sang asisten masuk ke dalam rumah, setelah gagal mencegah Bram. Untung saja ia menggunakan sepatu dengan hak tinggi dan tebal. Jika tidak, pecahan gelas kaca itu bisa terinjak. Bimo lantas memanggil Mala, untuk membersihkan pecahan kaca tersebut.
"Yang rajin ya mbak Mala biar dapat bonus mobil, tinggal pilih dan ambil di garasi pak Wibi," ujar Bimo malah asik bercanda dengan Mala. Ia belum tahu jika sang bos terserang jantung.
Setelah menatap body Mala yang sintal berisi dan pakaian art yang seksi, Bimo baru mendekati ke sang majikan.
Ia melihat Wibi yang bersandar di kursi bacanya sambil memegang dadanya yang terus menusuk.
"Astaga! Tuan Besar! Bos!! saya panggilkan ambulans," Bimo langsung merogoh saku celananya untuk mengeluarkan ponselnya.
Seketika ia lupa berapa nomer ambulans, Ia pun mencari nomer telepon rumah sakit dan dokter tetapi ia lupa, rupanya pria itu telah berganti ponsel dan belum memasukkan nama-nama.
Tips cepat memindahkan nomer telepon dari hape yang lama ke hape yang baru, sebaiknya saat akan menyimpan nomer lama, pilih penyimpanan tempat ke Email jangan ke telepon atau SIM card. Karena simcard lebih cepat penuh jika kalian memiliki banyak nomer yang di simpan. Sementara penyimpanan di telepon juga tidak terlalu aman karena jika ponsel sudah rusak, maka data itu akan hilang terkadang cenderung bisa rusak. Jadi alangkah lebih baiknya menyimpan nomer-nomer telepon kerabat, teman atau rekan kerja itu dengan email. Singkronkan dengan ponsel yang baru. Maka otomatis nomer yang tersimpan di email langsung masuk ke ponsel baru.
Wibi mengangkat tangannya kemudian mengayunkannya dengan lemah, ia menyuruh Bimo untuk mengambil obat jantung di lemari penyimpanan obatnya.
"Obat saya, Bim," sahut Wibi dengan lirih sambil mengontrol napasnya.
"Oh baik pak Wibi," segera pria itu secepat kilat berlari mengambil obatnya serta air putih hangat.
__ADS_1
Wibi menelan obatnya beberapa butir, beberapa menit kemudian ia sudah mulai bisa mengontrol tubuhnya.
"Kurangi makan yang berlemak dan kolestrol tuan, kalo perlu olahraga," nasihat Bimo kala itu terdengar tidak lancang bagi Wibi.
Ia senang ada karyawan yang memperhatikan dia.
"Enak soalnya Bim, saya kerja naik turun kantor itu kan juga olahraga," jawabnya santai.
"Ya tapi gak seratus persen bakar lemak pak,"
"Kalau saya turunin lemak saya, apakah langsung ada bidadari yang mau sama saya?" tanya Wibi.
"Yang mau pasti banyak pak, kan pak Wibi ganteng banget dulu,"
"Dulu ya, sekarang enggak berarti. Ahh saya malas cari istri lagi. Paling ngincar uang saya. Kalo saya mati nanti kamu saya akan saya kasih beberapa persen harta saya. Jadi berlakulah yang baik," ucap Wibi
Asik dapat harta , saya tunggu ya pak Wibi, eh kan jadinya ngarepin dia mati, astaghfirullah maaf pak, batin Bimo
"Mau kemana anak itu?"
"Katanya mau ke London pak, nyusul pacarnya,"
"Pacar? Hemm cari tahu siapa pacarnya dan laporkan pada Saya. Besok saya gak kerja dulu ya, kamu yang uruslah," titah Wibi
Bram kini sudah berada di pesawat, padahal jalannya masih terpincang karena luka tembak pada pahanya sedikit infeksi.
"Cassie, kali ini gue gak akan ngejar Lo. Asal Lo masih mau berteman sama gue, deket sama gue. Gue gak bisa jauh dari Lo," ucap Bram sambil memandangi foto Cassie di ponselnya.
Tak berapa lama seorang wanita terlihat kesusahan memasukkan tas di atas bagasi kecil yang ada di atas kursi. Bukannya masuk, tas itu malah terjatuh mengenai kepala dan bahu Bram.
"Duh maaf ya," ucap wanita itu.
Bram hanya tersenyum tipis sambil sesekali mencuri pandang wanita itu.
Tubuhnya langsing namun belahan dadanya menonjol keluar. Bram juga disuguhkan dengan pemandangan perut yang memperlihatkan pusarnya. Hingga pria itu sedikit menelan salivanya.
Ia pun berdiri membantu sang wanita untuk memasukkan tasnya ke dalam bagasi. Tas berukuran sedang tetapi sangat berat.
"Permisi, mau bantu?" tanya Bram
"Terimakasih," ucapnya.
__ADS_1
Setelah itu ia duduk di samping kursi Bram.
"Kamu ke London mau jalan-jalan?" tanya wanita itu
"Kuliah," jawab pria itu singkat
Wanita dikursinya itu juga tidak bertanya lagi, ia membuka jaketnya dan memperlihatkan tubuh seksinya. Wajahnya tidak terlalu cantik menurut Bram biasa saja, namun entah mengapa pria itu sedikit tergoda dengan aura bodynya
"Ehmm nama Lo siapa?" Tanya Bram basa-basi.
Sudah lama ia tidak bermain dengan wanita lain setelah mengenal Cassie.
"Hera, kalau kamu," mereka berkenalan tanpa mengulurkan tangan.
Hemm masih bocah, males ah batin Hera
"Bramantyo, Lo ke London mau jalan-jalan?"
Hera menggelengkan kepalanya.
"Mau mengejar mantan suami yang lepas dari kandang," jawab Hera tanpa melihat Bram
"Haha emangnya hewan apa?" Bram terkekeh hingga membuat Hera menoleh.
"Apa yang lucu?" tanya Hera merasa kesal. Dia sama sekali tidak tertarik dengan bocah ingusan.
Kalau saja Hera tahu, jika Bram adalah anak konglomerat. Mungkin dia langsung nemplok kayak cicak.
Jutek abis ni, gue suka. Rupanya dia udah tante-tante tapi bodynya masih singset. Ah tapi kalah jauh sama Cassie yang cantiknya luar dalam. Batin Bram
Lama perjalanan di dalam pesawat membuat Hera kelelahan, terkadang ia menarik urat-urat nya karena pegal duduk berjam-jam. Ia pun mengantuk dan tanpa sadar kepalanya terjatuh di bahu Bram.
Dia kira bahu gue bantal apa? batin Bram.
Ia dengan kasar mengangkat kepala Hera dan mendorongnya. Wanita itu terbangun dan sedikit kesakitan.
"Aduh,"
"Enak aja tidur di bahu gue, Lo kira bantal apa?" ucap Bram dengan suara pelan.
"Kasar amat sih, untung gue gak kejedot kaca,"
__ADS_1
"Kalo Lo udah pake pengaman ya ga bakal kejedot, begok," Bram menempelkan telunjuknya di dahi Hera dan mendorongnya pelan.
Pertemuan Bram dengan Hera di mulai dengan pertengkaran.