
Cassie menatap dirinya lewat pantulan cermin. Wajahnya terpoles berbagai macam foundation, bedak, blush on, eyeliner, dan warna lipstik yang natural, semakin cantik karena riasan. Rambutnya sudah tertata rapi dan anggun. Ia terus merenungi tentang dirinya.
"Aku anak siapa sih? Apakah Mama Dina dan Papa Rio itu orang tua biologis ku?" gumamnya.
"Wajahku tidak mirip keduanya. Sifat ku juga tidak seperti mereka, atau karena ini berkat asuhan dari mbak Marko,"
"Apa jangan-jangan aku ini anaknya mbak Marko trus di beli sama Mama, ahh mikirin apa sih aku sampe segitunya. Habisnya Aku ngerasa dimanfaatin pake jodoh-jodohan segala," Cassie terus berbicara dengan dirinya sendiri sambil menatap dirinya di cermin.
"Ahh ku rusak aja dandanannya,"
Cassie dengan kejahilannya, mengusili dirinya sendiri. Dia mengambil sisir dan membuat rambut yang sudah rapi itu, ia Sasak.
"Nah begini....tapi kok malah makin cantik ya," gumam Cassie
"Harusnya bikin kayak badut nih, cuma aku kan ga punya lipstik warna merah,, hmmm...," Cassie memikirkan cara lain.
Disaat Cassie sedang memikirkan sesuatu, terdengar suara Adzan dari kejauhan sangat samar. Ia pun melihat jam di dinding kamar tersebut, memang sudah masuk waktunya ibadah Maghrib Jakarta dan sekitarnya.
"Sholat aja dulu lah, trus berdoa biar acara nya gatot," Cassie beranjak ke kamar mandi kecil yang ada di dalam kamar tersebut.
Untung saja dia selalu membawa perlengkapan ibadah dari tasnya. Ibadah pun ia lakukan dengan khusyuk. Setelah itu Cassie berdoa agar pertunangan itu benar-benar gagal. Karena Cassie berharap jodohnya adalah Barra. Seperti lagunya Anang dan Ashanty 'Jodoh Ku...uuu. maunya Ku...Diri Mu...'
Barra sudah terbebas dari panjangnya kemacetan di lampu lalu lintas, namun di Depannya kini ada kemacetan lagi. Ada pohon besar yang tumbang ke jalan raya.
"Astaga cobaan apalagi ini," gumamnya.
Lalu terdengar suara pengingat adzan dari ponselnya. Jika sudah masuk waktu adzan, aplikasi itu berbunyi. Barra pun beribadah di dalam mobil. Berjaga-jaga jika nanti kemacetan semakin lama. Dengan bertayamum pria itu melakukan ibadahnya.
Beberapa jam kemudian kendaraan sudah mulai berjalan. Jalanan itu sudah terbuka tetapi hanya separuh.
"Sabar Sabar....orang sabar di sayang Cassie," gumam Barra.
Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Setengah jam lagi acara ulang tahun sekaligus pertunangan itu di mulai. Para tamu yang kebanyakan bermobil juga sudah mulai berdatangan.
Barra yakin jika dirinya masuk tidak akan diperbolehkan, jadi dia memiliki cara lain untuk menyelinap ke dalam.
Dengan memakai kacamata hitam ia berlari kecil ke arah salah satu penjaga dan mengatakan jika ia adalah tamu undangan tetapi mobilnya mogok di jalan
"Mobil saya mogok di sana pak, tolong bantu masuk ke halaman parkir ya, saya takut jika parkir sembarangan nanti mobil saya lecet atau di congkel spionnya. Mahal soalnya," Barra berpura-pura.
__ADS_1
"Oh iya pak, mari saya bantu," ucap salah satu penjaga dengan pakaian jasnya dan label keamanan.
Ia berjalan mengikuti Barra
"Di mana mobilnya pak?" tanya penjaga tersebut
"Itu disana," Barra sambil menunjuk sembarang arah
"Mana ya pak?"
Kemudian Barra mendekati penjaga, itu sana itu.
Debuuug
Barra yang ahli bela diri, dengan mudah melumpuhkan saraf si penjaga tersebut dengan sekali pukulan di daerah lehernya. Si penjaga pingsan, tidak mati.
Kemudian Barra membawanya ke dalam mobil dan melucuti semua pakaiannya penjaga dengan cepat. Barra sudah siap masuk dengan memakai setelan penjaga.
Barra menundukkan kepala saat masuk, ia langsung mencari di lokasi Cassie lewat aplikasi GPS ponselnya.
"Cassie?" bisik Barra mendekati pintu seraya menggerakkan daun pintu yang terkunci.
"Pintunya terkunci, bentar Saya cari kawat dulu," ujar Barra
"Cassie ada nih om, jepit rambut. Bisa gak?" Cassie lalu melemparkannya lewat celah bawah pintu.
"Sip bagus,"
Barra memasukkan jepit rambut itu seraya memutar-mutarkannya. Pintu belum juga terbuka. Namun suara high heels terdengar semakin besar. Barra pun berhenti dan mencari tempat persembunyian
Ia menoleh kiri dan kanan mencari jalan keluar. Barra masuk dari pintu lain rupanya itu jalan ke halaman belakang.
Ceklek.
Pintu terbuka, dan Cassie mengira jika yang membukanya adalah Om Barra.
"Om Barra," ucapnya
"Barra? Ngimpi kamu. Kamu apain rambut kamu Cassie?" pekik Mamanya sedikit marah
"Ini gaya rambut baru Mah," ucapnya asal
__ADS_1
Ih kok bukan om barra sih... ahh geregetan, batin Cassie
"Betul juga ya, malah lebih seksi. Soalnya kamu cantik sih.. Anak siapa dulu dong, Mamanya aja cantik," ucap Dina malah setuju dengan dandanan Cassie
"Yakin? Aku beneran anak Mama?
"Yaiyalah yakin, kan Mama yang mengandung dan melahirkan kamu," seru Mamanya
"Aku gak yakin tuh,"
"Heii jangan jadi anak durhaka kamu ya," Dina melototkan matanya lalu berjalan ke toilet. Tak lupa sebelum itu Dina menutup pintu kamar dan menguncinya
"Ssttt Cassie," panggil Barra dengan nada berbisik dari jendela luar
"Om,' Cassie mendekat ke jendela.
"Saya punya rencana, di saat Bram ada di depan dan menjadi pusat perhatian. Lalu disaat mereka ingin memulai pertunangan itu, saya akan maju dan mengatakan kalau Bram pernah menyakiti kamu dan membuatmu menjadi pencandu," Barra memasukkan tangannya lewat teralis besi dan mengelus pipi Cassie, mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.
"Semoga rencana Om berjalan dengan lancar. Aku beneran gak mau di tunangin sama Bram, Aku gak cinta sama Bram. Aku cintanya sama Om Barra," ujar Cassie dengan polosnya.
Disaat itu Bram datang, ia ingin mengintip Cassie lagi namun Bram melihat Cassie dengan Barra saling menatap dengan penuh kasih. Terlebih saat Cassie mengatakan Barra lah yang ia cintai, seketika hatinya hancur berkeping-keping.
"Kenapa sih Lo gak bisa ngelihat gue seperti Lo natap Barra. Kenapa hati Lo ga bisa buat Gue. Padahal gue mau berubah," gumam Bram dari kejauhan.
Kurang lima belas menit lagi, tetapi Bram mempercepat semuanya. Ia juga menyuruh bodyguardnya untuk menangkap Barra yang sedang menyamar.
Wibi menyambut para tamunya, kemudian memulai acaranya ulang tahunnya. Tetapi Bram ngotot untuk langsung ke inti acara tersebut yaitu bertunangan.
Dina membawa Cassie ke panggung, terlihat sangat dipaksakan dan tidak ada senyum di gadis itu. Sementara Barra tidak bisa menyelinap lagi. Ia menjadi kejar-kejaran bodyguard lain.
Setelah sedikit berbicara tentang pertunangan, sekarang waktunya pemakaian cincin.
"Para hadirin sekalian, saya ingin mengajak anda semua untuk menjadi saksi pertunangan anak Saya Bramantyo dengan kekasihnya Cassie, silahkan Bu Dina," Wibi mempersilahkan Bu Dina untuk acara pemakaian cincin.
"Maaf semuanya, saya menyela. Pria dihadapan kalian semua ini bukanlah pria baik. Dan gadis didepannya itu bukanlah kekasihnya. Mereka dijodohkan atas dasar keterpaksaan," Barra dengan wajah penuh babak belur dan sedikit berkeringat datang diwaktu yang tepat.
Seketika kericuhan terjadi antara tamu yang satu dengan yang lainnya terutama Wibi dan orang tua Cassie
"Apa maksud kamu! Jangan merusak acara saya ya!" Wibi marah dan menyuruh penjaga untuk menangkapnya. Tetapi tak ada satupun penjaga yang ia lihat. Semua jatuh pingsan dan terluka ditangan Barra.
"Ini bukti, jika Bramantyo pernah menyakiti Cassie dengan cara mencambuknya, dan menyuntikkan narkotika kedalam tubuh Cassie saat gadis itu tak sadarkan diri," Barra menunjukkan hasil laboratorium saat pemeriksaan di London dengan mengangkat setinggi-tingginya agar para tamu melihatnya.
__ADS_1