Promiscuity After

Promiscuity After
Married


__ADS_3

Keesokan lusanya, hari yang dinanti oleh Cassie. Dia penasaran siapa wanita yang akan menikah dengan Papanya.


Sesungguhnya, ini amat berat bagi Cassie. Mana ada sih seorang anak yang rela melihat keluarganya berpisah. Tetapi menyatupun mereka sering bertengkar. Katanya cinta, namun saat bertemu selalu bertengkar.


Ada saja hal kecil menjadi masalah besar. Apakah karena sudah bosan? Jenuh sudah pasti. Tetapi tinggal bagaimana pasangan tersebut menghadapi perkara kecil.


Kenapa bisa jenuh? Faktor apa yang membuat kejenuhan itu? Apakah karena tidak adanya pengertian. Atau karena kesibukan semata? Jawabannya hanya satu perhatian. Bukan pengertian.


Ketika pasangan sedang stress, berikan perhatian misal dengan memijat dirinya, memberikannya minuman hangat. Menjadi teman bicaranya dan berikan dia dukungan atau mencari jalan keluar masalah penyebab stressnya itu. Jangan menambah omelan ketika baru sampai rumah. Otak njebul yang ada


Itulah yang terjadi pada Rio hingga akhirnya mencari pelampiasan.


Awalnya berat berada disebuah keluarga yang broken home, tetapi akhirnya Cassie bisa memahami kondisi keduanya. Asalkan mereka selalu ada disaat Cassie membutuhkan.


Siang itu, Rio menjemput Cassie dan Mbak Mar di bandara.


"Papa, aku kangen....," Cassie menghamburkan diri memeluk Papanya.


"Papa juga kangen.... kamu sama Mbak Mar udah makan?" jawab Rio yang diakhiri dengan sebuah pertanyaan


"Udah sih, cuma laper lagi hehe,"


"Yaudah kita makan bareng aja sama calon Mama tiri kamu ya," ucap Rio


"Cantik gak? Sama Mama cantikan siapa? Trus lebih bawel siapa?" Cassie melayangkan banyak pertanyaan


"Hemm belum kelihatan bawel atau gak, tapi yang pasti dia cantik, kan dia cewek," ucap Rio


"Semoga pernikahannya lancar ya Pak Rio," ucap Mbak Mar.


Pernikahan Rio tinggal dua hari lagi. Sangat singkat. Tetapi semua berjalan dengan cepat asal ada uang. Berkat Event Organizer yang sudah terpercaya sehingga sang empu pesta tidak usah pusing memikirkan apa yang kurang, apa yang perlu dipersiapkan? Mereka tinggal duduk manis.


Kenza sudah menunggu di restoran dekat kantornya. Dia memakai ruangan VIP agar enak berbicara. Meskipun Kenza dan Cassie saling mengenal tetapi tidak ada yang tahu pasti apakah Cassie menerima atau tidak.


"Ini ruangannya, kita masuk aja yuk. Dia udah nunggu," ucap Rio


Cassie masuk dan melihat ada seorang wanita sudah duduk di kursi. Belum jelas siapa, hanya terlihat punggung dan rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan.


Kenza menoleh saat tahu ada seseorang yang membuka pintu ruangan itu.


"Tante Kenza...?" ucap Cassie berdiam diri terpaku sebentar


"Iya, dia Kenza. Calon Mama tiri kamu," jawab Rio


"Astaga Pah! Ini yang bener?" Cassie memekik sambil membelalakkan mata


Dari reaksinya sepertinya Cassie tidak senang, batin Rio


Pria itu menipiskan bibirnya dan mengangguk


"Wah haha, Cassie seneng kalau Mamanya kayak Tante Kenza," gadis itu malah memeluk Kenza dengan erat


Tante sering ngerjain aku, saatnya pembalasan hehe batin Cassie dengan ide jahilnya


"Ya aku juga ga nyangka kalau anaknya itu kamu hehe," ujar Kenza membalas pelukan Cassie


Rio menyuruh mereka untuk duduk dan makan siang. Karena Kenza dan dirinya harus kerja lagi setelahnya. Mbak Mar menyalami Kenza, kemudian mereka duduk


"Jadi.... gimana Cassie, kamu tidak keberatan kan? Kenza bilang kamu dan dia saling kenal, makannya papa suruh ketemu langsung aja,"


"Cassie setuju kok, selama papa bahagia," ujar Cassie seraya tersenyum lebar


Astaga, rasanya kok gak enak ya. Cassie mengharapkan Papanya bahagia di pernikahan keduanya. Ini....Apa aku yakin sama pilihanku? batin Kenza


Selama makan siang dia terus memikirkan hal yang sama. Sampai siang berputar menjadi malam.


Di tempat kerjaan juga tidak fokus, di rumah terus merenungi nasibnya.


Tok Tok Tok


Seseorang mengetuk pintu kamarnya, Kenza menjawab dengan nada malas, "Masuk aja gak dikunci,"


Kenzo membuka pintu lalu masuk dan duduk di tepi ranjang.


"Bisa-bisanya ya Lo ngaku sama nyokap kalau Lo pacaran ma dia dua tahun?" ujar Kenzo yang mencari tahu segala hal mengenal Rio dari komputernya


"Ah Lo tau apa sih,"


"Gue bisa ngecek riwayat calon suami Lo tu, dia aja baru cerai beberapa bulan ini dan ada video dia lagi mesum sama cewek di bar," sahut Kenzo


"Ya dia buaya," jawab Kenza pasrah.


Oh my God aku beneran menikahi buaya? batin Kenza padahal dia tahu Rio buaya tapi baru sadar kalau dia akan benar-benar menikahi buaya


"Udah tahu buaya, Kok Lo mau sih? Atau jangan-jangan Lo cuma nikah kontrak sama dia," terka Kenzo


Kenza langsung menoleh saat itu juga. Dugaannya sepenuhnya benar. Kenza lupa kalau saudara kembarnya itu seorang hacker yang bisa mencari tahu data seseorang dengan mudahnya.

__ADS_1


"Gue udah hapus riwayat busuknya, takutnya bokap ngeliat duluan," ujar Kenzo merebahkan tubuhnya di samping Kenza.


"Gue sekarang bingung, tadinya gue sama sekali gak mikirin. Tapi.... ternyata ini ngelibatin semua orang. Terutama perasaan orang-orang terdekatnya," Kenza mulai curhat


"Kemana aja Lo kemarin-kemarin,"


"Ya gue kira itu hal mudah, yang terpenting gue bisa aman dari desakan nyokap,"


"Nasi udah jadi kerak, kalau mau jadi bubur bakalan susah prosesnya. Ya jalanin aja dulu. Yaudah met berpusing ria ya, Gue mau tidur" ucap Kenzo


"Argghh nyebelin!"


.


.


.


Hari sakral yang dinantikan. Pernikahan Kenza dan Rio yang berlangsung di sebuah gedung yang telah di hias secantik mungkin.


Kenza memakai kebaya putih yang cantik untuk acara ijab qobul nanti. Dirias dengan makeup artist ternama. Wajah Kenza yang tidak pernah tampil make up, kini terlihat seperti princess.


"Cantik sekali kamu sayang...," puji sang Mama tersenyum bahagia.


"Papa udah datang Ma?" tanya Kenza yang sudah tampil cantik. Ia menunggu kedatangan sang Papa yang terbang dari Nevada.


"Iya sudah, dia didepan ngobrol sama Rio. Mama ke belakang dulu ya, tiba-tiba mules. Kamu tunggu disini ya, Petugas KUA nya belum datang," ujar Indi


"Ya,"


Indi pun melesat ke toilet, di gedung yang mewah itu.


Tak berapa lama Rio datang ke ruang pengantin wanita. Ia membuka pintu dan terkejut melihat Kenza yang sangat cantik, berbeda dari yang biasanya.


"Kamu ngapain kesini, pengantin cowok tuh gak boleh liat pengantin ceweknya sebelum ijab,"


"Cuma bentar doang, aku lupa tanya ukuran cincin kamu berapa? Atau nih pake mana yang pas," Rio menyerahkan kotak cincin yang besar dan isinya cincin wanita dengan ukuran berbeda


"Ih bukannya dari kemarin, Astaga ini kamu beli semua?" tanya Kenza mengambil kotak perhiasan itu


"Enggak, tuh temen aku yang penjual perhiasan yang bawain. Aku suruh bawa beberapa biar kamu coba. Hehe maaf ya maklum super sibuk jadi kelupaan,"


Kenza memilih model yang dia suka, ring yang kecil tanpa ukiran dengan satu cincin berlian ukuran sedang.


"Yang ini aja," ucap Kenza kemudian melepaskan cincinnya tetapi ia kesusahan melepaskan.


"Pake sabun,"


"Elah, jalanan sini ke toilet jaraknya jauh. Gimana nih?"


Rio meletakkan kotak cincin itu ke meja rias dan membantu Kenza melepaskan cincinnya.


"Pake sabun ni bisanya," ucapnya


Tak berapa lama ada suara orang yang memanggil nama Kenza untuk keluar.


"Duh buruan cabut," seru Kenza


Rio pun duduk berjongkok di hadapan Kenza yang sedang duduk di meja rias. Rio menarik cincin itu sementara Kenza menarik jemarinya. Tetapi karena terburu-buru Rio menariknya sangat keras hingga tubuh Kenza juga ikut tertarik dan jatuh ke pelukan Rio.


Rio yang berjongkok malah jadi terjatuh kebelakang.


Keduanya saling bertatapan sangat dekat. Rio yang mencukur kumis dan brewoknya terlihat lebih muda dan makin tampan. Keduanya terpesona dalam waktu tiga detik.


Kenzo yang berteriak memanggil Kenza langsung masuk ke ruang rias pengantin, karena Kenza tidak kunjung keluar, tetapi pria itu malah mendapati keduanya sedang berada dilantai dengan posisi Kenza di atas.


"Astaga kak, udah ngebet ya?" ujar Kenzo


"Ih ini gak seperti yang kamu pikirkan, ini loh aku mau ngelepasin cincin malah jadinya jatuh," Kenza mencoba beranjak berdiri, tetapi susah karena jariknya sangat ketat.


"Iya saya cuma bantu narik cincin, tadi lagi coba-coba cincin," sahut Rio membenarkan sambil menunjukkan cincin yang berhasil dia lepaskan.


"Tolongin dong, Gak bisa bangun nih," ucap Kenza


Kenzo pun membantu kembarannya itu untuk berdiri. Rio bangun dan segera ke depan.


Pernikahan sakral akan segera dimulai. Meski tidak ada cinta diantara keduanya. Tetap saja proses pernikahan ini harus dilakukan secara benar.


Mas kawin yang Rio berikan seperangkat alat sholat, perhiasan 25 gram dan apartemen yang sudah lunas dan kepemilikan atas nama Kenza senilai 1,2 Milliar.


Sebenarnya apartemen tersebut Rio beli untuk ulang tahun Dina, enam bulan lagi. Tetapi nasib berkata lain. Pernikahannya dengan Dina kandas ditengah jalan. Untuk apa dia memakai apartemen itu sendirian? Dan setiap melihat apartemen tersebut, dia teringat Dina. Jadi lebih baik ia berikan pada Kenza.


Andi Sudirman, Ayah Kenza memilih menikahkan anaknya sendiri dengan Rio. Ijab dan Qobul terucapkan. Setelah dinyatakan Sah, Doa pun dipanjatkan.


Semua keluarga dan tamu undangan datang. Hanya satu orang yang tidak hadir ke undangan pernikahannya yaitu Dina.


Jovan hadir mewakili Dina yang tidak datang karena alasan keluar kota. Alasan klise yang sebenarnya Dina tidak bisa melihat Rio bahagia dengan wanita lain. Perasaan yang ia sembunyikan dari semua orang bahwa Dina masih mencintai Rio.

__ADS_1


Ditempat kerjanya, Dina memandang fotonya pernikahannya dengan Rio yang masih ia simpan. Air mata terus mengalir.


"Kenapa aku masih saja cemburu kalau kamu dekat sama wanita lain, hiks.....hiks..,"


Benci tapi masih cinta. Ia pun menghapus air matanya dan melempar foto dalam pigura kecil tersebut ke dalam tong sampah. Menarik napas panjang melupakan masa lalunya dan merajut kebahagiaan bersama Jovan, suaminya yang sekarang.


Selesai pesta, Kenza pusing melayani para tamu yang super duper membludak. Untung saja para tamu undangan tidak sampai berdesak-desakan. Menu katering juga pas malah bersisa.


"Nih minum teh hangat dulu," Rio membawakan teh hangat dan memberinya pada Kenza.


"Makasih," ucap Kenza sembari menerima teh pemberian Rio, Kenza langsung minum hingga teh itu habis


"Kehausan ya langsung ludes," Ledek Kenzo yang juga ada di ruangan itu.


"Yaiyalah haus, tamunya kebanyakan," jawab Kenza


"Kamu udah makan belum sih? Kok bisa pusing?" tanya Rio kemudian duduk disebelah Kenza di ruang istirahat untuk keluarga


"Udah kok udah makan,"


"Yaudah mending kamu antar Kenza pulang duluan ya, Mama khawatir malah nanti dia pingsan lagi. Lagian pestanya udah selesai kok," ucap Indi pada Rio


Rio menurutinya dan langsung membawa Kenza pulang


"Eh ini kerumah kamu atau kerumah aku?" tanya Rio


"Kerumah aku dulu lah, aku kan gak bawa baju,"


"Oke,"


Di rumah Kenza wanita itu langsung mengganti pakaian pernikahannya dengan kaos oblong dan celana santai tiga perempat. Dan menghapus make upnya.


Kenza keluar kamar membawa kapas serta cairan pembersih makeup.


"Gila susah banget bersihinnya," protes Kenza


Pada dasarnya memang cantik apalagi tanpa make up, batin Rio


"Beuh langsung ganti enak banget kamu. Trus baju ganti aku gimana?" tanya Rio


"Haha tenang nanti aku pinjamin punya Papa,"


"Langsung ke rumah aku ajalah, Aku sungkan tinggal dirumah kamu. Nanti sandiwara kita ketahuan loh," ujar Rio


"Oh iya, ya oke deh abis ni aku kemas baju ma barang aku," Kenza langsung beranjak dengan tangan yang masih terus mengusap wajahnya membersihkan sisa-sisa make up


Singkat cerita mereka sudah sampai di rumah Rio. Padahal kamar pengantin yang telah di dekor cantik, ada di rumah Kenza lebih tepatnya di kamar Kenza. Tetapi niat mereka kan melarikan diri, jadi tanpa memberitahu keluarganya Kenza langsung ke rumah Rio.


Rumah Rio rupanya tidak terlalu besar, yah cukup untuk satu keluarga kecil. Kamar tidurnya ada tiga, dua dibawah dan satu diatas. Tetapi area belakang rumah sangat luas. Rio sering menggunakannya untuk bertukang. Hobinya pertukangan, membuat sesuatu dari kayu atau triplek.


"Itu kamar utama, jangan dipake. Kamu mau pake yang itu atau atas," tanya Rio.


"Kamar kamu sebelumnya yang mana Mas?" tanya Kenza


"Bawah, aku capek naik turun,"


"Ya berarti aku yang atas,"


"Ok, terserah kamu. Bisa bawa kopernya kan? Aku gerah ini, capek juga mau langsung istirahat,"


"Bisa dong, kecil mah ini," Kenza langsung naik ke atas dan mengangkat koper besarnya menaiki anak tangga satu persatu.


Rio membuka jas pernikahannya, dia memakai kaos slimfit tipis berlengan pendek. Lalu menaruhnya di lengan sofa dengan cara melemparkannya. Ia masih berada di bawah sambil menatap Kenza yang mulai menaiki anak tangga, menunggunya hingga sampai ke atas. Karena tubuh Kenza yang kurus sedangkan kopernya super big, jadi pria itu sedikit khawatir kalau-kalau wanita itu terjatuh


Tak berapa lama Kenza mulai oleng. Baru naik lima anak tangga, tubuhnya terasa berat kebelakang dan dalam hitungan detik Kenza jatuh ke bawah. Untung saja Rio segera naik dan menangkap tubuh Kenza.


Lagi dan lagi mereka saling bertatapan.


"Katanya bisa, yaudah aku bantu bawa," ujar Rio. Kenza mengangkat dirinya dan menyeimbangkan tubuhnya.


"Haha ternyata tidak sesuai ekspektasi hehe,"


"Liat kamu naik aja aku udah feeling pasti jatuh, nah kan jatuh beneran,"


"Udah tau gitu, kenapa kamu gak langsung angkatin Mas, gak peka banget sih,"


"Haha abis beneran capek, huh.. ni aja udah ngos-ngosan,"


Mereka pun tiba di lantai atas, Rio mengatur napasnya yang mulai kelelahan.


Kalau angkat berat-berat, otot tangannya jadi kelihatan. Kekar banget, batin Kenza


"Makasih ya," ucap Kenza tersenyum


"Ya," Rio balas senyum


Pernikahan yang tidak di landasi rasa cinta perlahan muncul dari saling mengagumi.

__ADS_1


__ADS_2