
Sayang?...Astaga beneran dapet brondong dia batin Barra yang terkekeh dalam hatinya seperti dirinya mendapatkan Cassie yang jauh lebih muda darinya.
Hera masuk kemudian duduk sambil sedikit membungkukkan badan seraya berkata, "Pagi, Pak...,"
Seakan-akan Hera belum pernah bertemu dengan Barra, lalu kenapa mesti harus bersikap formal? Apa karena ada Andy?
"Pak Barra, maaf ya menunggu lama. Ini Hera yang saya ceritakan kemarin," ujar Andy memperkenalkan
"Hmm," jawabnya seraya menganggukkan kepala
Sementara Hera tersenyum dan bingung harus bersikap saling kenal atau pura-pura tidak kenal.
"Mana surat lamarannya?" tanya Barra
Hera menyerahkan sedikit gugup, terlihat tangannya sedikit gemetar.
Barra mengambil kertas lamaran itu, membuka kemudian membacanya.
"Nama perusahaan ini tidak tertulis, surat lamaran ini ditujukan kepada siapa? Dan melamar sebagai apa? Kalau gak di isi berarti harus terima konsekuensinya dong kalau di tempatkan di posisi yang benar-benar kosong. Bersihin kaca gedung tuh mau gak, jadi tittle sarjana kamu akan sia-sia," ujar Barra melempar surat lamaran Hera di meja makan.
"Maaf pak, sebenarnya saya memberitahukannya barusan, jadi dia tidak ada persiapan membuat surat lamaran yang baru," ujar Andy membela
"Saya gak tanya sama kamu, yang mau kerja itu dia atau kamu? Kalau dia niat mau bekerja seharusnya dia sudah mempersiapkan dengan segera dan bertanya pada kamu dimana perusahaan tersebut," Barra sengaja sedikit ketus, dia mau lihat reaksi Hera ataupun Andy
"Mana lagi posisi yang mau dilamar ga dicantumkan! Beda kalau kamu cantumkan sebagai manager misalnya. Padahal posisi manager sudah ada. Tetapi kamu yakin bisa memegang posisi tersebut dengan alasan kamu memiliki bakat a bakat b dan kamu siap diuji,"
"Iya pak, nanti saya perbaiki," ucap Hera sedikit menunduk
"Lalu kamu mau melamar pekerjaan di bagian apa? Dan apa kelebihan kamu," tanya Barra
"Saya ingin melamar untuk posisi manajer bisnis. Saya memang sudah lama tidak bekerja tetapi saya yakin terhadap potensi saya,"
"Memangnya apa potensi kamu? Kamu tahu ga apa tugas manajer bisnis itu?"
"Saya bisa memimpin sebuah tim untuk mengawasi produktivitas karyawan. Tahu pak Barra, tugas manager bisnis itu sendiri beberapanya membantu perusahaan mencapai gol dan tujuan yang berhubungan dengan penjualan, produktivitas, keuntungan, dan perluasan perusahaan, serta masih banyak lagi. Selain itu Seorang Manager juga bertugas mengawasi/membawahi sebuah departemen atau divisi, menganalisa data, mengambil keputusan penting dalam bisnis, mengembangkan dan mengimplementasikan anggaran, mempersiapkan laporan untuk manajemen tingkat senior. Terkadang seorang manager bisnis juga menjalankan tugas staff hr (human resources) seperti misalnya mengevaluasi performa kerja, mempekerjakan dan mendisiplinkan karyawan. Kurang lebihnya seperti itu pak,"
Barra mendengar dengan seksama apa yang Hera jabarkan. Dia pun diam untuk berpikir.
__ADS_1
"Baiklah, kamu saya terima. Karena kesuksesan saya juga terjadi karena termotivasi oleh ucapan terakhir kamu," ucap Barra
Hah termotivasi karena aku? batin Hera
Seketika potongan masa lalunya, kembali. Kata-kata menyakitkan dari bibirnya yang menghujam di ulu hati paling dalam. Membangkitkan api semangat seorang Barra. Api itu membara membawa bongkahan kesedihan dengan menguburnya, melupakannya dengan terus bekerja hingga mencapai kesuksesan.
"Besok pagi datanglah ke kantor, dan temui Olive sekretaris Saya. Kamu akan Saya tempatkan di posisi manager junior. Dan pekerjaan kamu di bawah Manager senior. Karena jam istirahat saya mau habis. Jadi kita akhiri sampai disini. Selamat ya Hera mulai besok kamu resmi bergabung dengan PT Wasabi," ucap Barra seraya mengulurkan tangannya menjabat tangan sebagai diterimanya di perusahaannya. Hera membalas uluran tangan itu.
Hangat
Dengan cepat Barra melepaskan tangannya.
"Hera, Andy saya pamit dulu ya," ucap Barra lalu beranjak berdiri berniat meninggalkan ruangan.
"Besok saya akan datang. Terimakasih pak Barra," jawab Hera
"Terimakasih Pak," sahut Andy
Barra mengenyampingkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Karena niatnya hanya membantu Hera untuk mendapatkan pekerjaan berdasarkan potensi yang dia lihat. Untuk hasilnya seperti apa, Dia akan melihatnya setelah Hera berkerja
"Hemm kamu makan saja yang dimeja makan. Kalau mau tambah lagi silahkan, nanti akan dimasukkan ke tagihan saya,"
"Eh makan yank, enak nih," seru Andy
"Yank yank pala Lu peyang. Sejak kapan kita jadian? Pake ngaku calon istri lagi," gerutu Hera
"Kan jodoh gak ada yang tahu, nyatanya tuh diterima kerja juga kan?" sahut Andy yang langsung mengambil makanan di depannya lalu melahapnya dengan suapan besar.
"Tapi gue bingung...Tadi dia bilang kalau kesuksesannya termotivasi karena Lo yank? Maksudnya gimana tuh?" Andy bertanya dengan mulut yang penuh makanan.
"Dia... Dia mantan suami gue yang pertama," aku Hera
"Uhuk-uhuk-uhuk," Andy terbatuk-batuk tersedak makanan.
Hera langsung membantu menepuk punggungnya dengan pelan
"Lagian makannya buru-buru jadi kesedak kan?"
__ADS_1
Andy segera mengambil minum setelah batuk mereda.
"Serius! Pak Barra itu mantan suami Lo? Buset saingan gue dong,"
"Saingan apaan, dia udah punya calon bini,"
"Yaudah kalo gitu Lo sama gue aja,"
"Ogah gue ma brondong, No No No! Gue nyari bukan buat pacaran, bukan buat mainan. Tapi buat nikah,"
Andy meraih tangan Hera dan menggenggamnya, "Lo bakal awet muda kalo sama gue, karena gue imut, ganteng...,"
"Narsis amat sih," potong Hera
"Dengerin dulu Tante sayang," Kedua tangan Andy, menangkup wajah Hera agar wanita itu menatap dirinya.
"Gue mau nikahin Lo, ga peduli Lo mau janda berapa kali, usia Lo berapa.... karena cinta itu gak mandang umur. Emang si gue belum kerja. Tapi tabungan gue udah banyak. Di rekening gue, udah ada 1 milyar lebih. Itu hasil kerja part time gue. Karena beberapa kali gue bantuin orang jualin rumahnya. Dikit demi dikit gue nabung. Dan kalau gue nikah sama Lo, gue bakal kerja lebih giat. Jangan pernah ragu sama gue,"
"Andy, ini bukan hanya soal cinta...ada banyak hal lagi dan lagi. Lagian gue ga ada perasaan sama Lo,"
"Hufff, susah ya ngeyakinin Lo," Andy lanjut makan beberapa makanan lalu menghabiskan minumannya.
"Dah lah terserah Lo, kalo gue gak ada artinya buat Lo, kita end," Pria itu kesal lalu pergi meninggalkan Hera.
"Cih dasar brondong labil," gumam Hera sebelum Andy keluar dari ruangan,
Andy berhenti karena mendengar gumaman kecil Hera, "Dia ngatain gue labil," ucapnya tidak terima
Hera juga beranjak dari duduknya dan ingin pergi meninggalkan ruangan itu tetapi berhenti karena Andy menghalangi jalannya.
"Kenapa Lo berhenti depan pintu, awas gue mau lewat," usir Hera
Andy berbalik dan mendekati Hera, dengan kasar dia meraih tengkuk wanita itu dan mencium bibirnya. Mellumatnya tanpa jeda. Sementara Hera yang tadinya menolak ciuman itu, malah ikut membalasnya. Wanita itu seakan haus akan belaian kasih sayang.
Andy berjalan ke depan membuat Hera melangkahkan kaki ke belakang. Hingga punggung wanita itu tersudut ke dinding. Ciumannya semakin bergairah ketika ciuman itu menjalar ke bagian leher. Andy mengecup bibirnya lagi dan lagi hingga Hera menggelayutkan tangannya di atas bahu Andy. Kedua napas mereka menderu, saling bergairah menahan hasrat.
Perasaan apa ini, kenapa tubuhku menerima reaksi yang dia berikan? Apa aku benar-benar haus, haus akan cinta dan kasih sayang batin Hera
__ADS_1
"Tante...Gue cinta sama Lo," ucap Andy setelah menyosor dengan ganasnya.