Promiscuity After

Promiscuity After
Happy Ending


__ADS_3

Tiga Minggu kemudian.


Cassie sudah pulang ke Indonesia seminggu yang lalu, selama itu ia tinggal di rumah papanya. Karena semua persiapan pernikahan telah diurus oleh Kenza, Mama tirinya. Dina tidak bisa banyak bergerak karena lengan kirinya baru saja dioperasi.


Dan hari ini, hari yang di nantikan Cassie Lavesya untuk mengakhiri masa gadisnya. Menikah dengan seorang duda perjaka yang berhati mulia.


Cassie duduk di depan meja dengan kaca besar. Ia menatap dirinya lewat pantulan cermin itu.


Apakah aku benar-benar akan menikah?


Apakah ini serius?


Nyatakan ini?


Sebentar lagi aku menikah....


Kenapa ini rasanya seperti mimpi?


Berulang kali Cassie bertanya pada dirinya sendiri. Ini seperti mimpi. Tapi ini bukan mimpi. Ini nyata Cassie.


Akad nikah Cassie akan di selenggarakan di pelataran Masjid dekat gedung pernikahan. Dan kemudian di lanjut pesta pernikahannya di gedung serbaguna yang telah dihias cantik, mewah, elegan dan berkelas.


"Cantiknya anak papa ini?" Rio masuk ke dalam tempat rias.


"Pa..." Cassie tersenyum


"Yuk, kita ke masjid tempat Akadnya. Barra dan keluarganya sudah menunggu di sana," ajak Rio dan kemudian Kenza menyusulnya.


"Cassie, hemm kamu cantik banget. Yuk Mama tuntun kamu," Kenza mengulurkan tangannya mengajak Cassie untuk bangun.


Cassie meraih lengan Kenza untuk berjalan ke mobil pengantin yang sudah siap.


Andy Gibratal sudah siap mengantar Cassie. Pria itu telah menikah dengan Hera, seminggu setelah pernikahan Kenza. Namun ia tidak merayakannya dengan besar-besaran. Hanya keluar inti dan syukuran kecil di lingkungan Rumah. Namun semua berjalan dengan lancar dan semuanya bahagia.


"Bismillahirrahmanirrahim," gumam Cassie saat mobil itu hendak melaju menuju Masjid.


Sesampainya disana, Cassie langsung masuk ke pelataran. Barra sudah duduk di meja akad. Ia tidak di perkenankan menoleh atau melihat ke arah calon pengantin wanita.


Gadis itu memakai Kebaya putih dengan ukiran yang cantik seperti putri keraton. Keduanya saling berdebar ketika sang pemandu jalan acara, secara berbisik mengatakan Akad bisa dimulai.


Dihadapan Penghulu dan para saksi, Rio Ghani Prawirodirjo menikahkan Barra Ozayn dengan putrinya Cassie Lavesya. Acara berlangsung khidmat terlebih saat Barra mengucapkan janji pernikahan dengan lancar lalu di sertai dengan pernyataan dari saksi yang mengatakan Ijab Qobul telah Sah. Doa serta puji syukur dipanjatkan kemudian.


Barra dan Cassie bertukar cincin serta memberikan mahar pernikahannya berupa Al-Qur'an dan perlengkapan sholat, Emas senilai 150gram serta uang tunai senilai 150ribu. Semua itu Cassie yang meminta, Barra hanya menuruti keinginan Bocilnya itu.


Selesai Akad, beberapa rekan dan keluarga mengambil foto mereka. Kemudian Barra dan Cassie naik ke mobil pengantin menuju gedung pernikahan. Disana mereka harus berganti pakaian lagi untuk acara resepsi.


Di dalam mobil.


"Mas Barra, berarti kita udah halal kan yah?" bisik Cassie


"Ya udah dong sayang, kenapa?"


"Aku deg-degan sampe sekarang jadi disana tuh kayak masih gak percaya," ucap Cassie


"Sekarang udah percaya?" Barra mencubit hidung Cassie agar percaya jika pernikahan ini nyata.


"Belum, kecuali.....," Cassie mencium bibir Barra lebih lama tanpa perasaan takut.


"Ehemm hemmm," Andy berdehem, pengantin itu lupa kalau ada Andy didepan sedang menyetir


"Jangan lihat Ndy, awas kalau ngintip," ujar Barra saat melepaskan ciumannya.


Andy kemudian fokus menyetir sambil sesekali kepo dan melirik spion di tengah.


.


.

__ADS_1


Tamu undangan Barra tidak terlihat berdesakan karena ada jam kehadiran di setiap tamunya. Untuk tamu bisnis dan teman kerja di pagi hari pukul sepuluh hingga pukul dua belas. Untuk tetangga dan para teman, pukul dua belas hingga pukul dua siang.


Souveniernya bukan kaleng-kaleng, souvernir pernikahan Barra dan Cassie adalah logam mulia 1 Gram, setara dengan 1 juta rupiah



Oscar, Marilyn, Virus serta Moza datang ke pernikahan Barra dan Cassie. Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian karena tampangnya yang tampan dan cantik. Padahal ada juga pria bule lain yang datang ke undangan pernikahan tersebut tetapi tidak seheboh saat Virus dan keluarganya datang.


Marcell juga hadir ke pernikahan Barra, pria itu semakin lengket dengan Markonah. Dia sudah bisa menguasai beberapa bahasa Indonesia dan Jawa berkat kursus pribadi.


Tidak peduli Markonah berstatus janda beranak satu, pria itu tetap mencintai Markonah yang lucu dan hitam manis.


Oscar dan Kenza bertemu lagi saat Oscar naik ke pelaminan menyalami sang pengantin. Kenza yang duduk sebagai wali orang tua di samping panggung pengantin, mau tidak mau harus menyalami si Bule itu.


"Hai Kenza, Maaf aku tidak datang di pernikahan mu saat itu. Haha sekarang statusmu Ibu Mertuanya Barra, selamat juga ya," ucap Oscar


""Ya gak masalah. Makasih ya udah datang. Ini suamiku sekarang, Mas Rio," Kenza berbicara bahasa Indonesia karena Oscar tadi juga berbahasa Indonesia.


Kenza memperkenalkan Suaminya, aneh bin ajaib Kenza sama sekali tidak berdebar saat bertemu Oscar. Para tamu undangan yang ingin memberi selamat saat itu tidak sepadat tadi, sehingga Oscar juga ada waktu memperkenalkan Marilyn pada Kenza.


"Rio,"


"Oscar,"


Rio berjabatan tangan dengan Oscar, dalam hatinya dia takut jika Kenza kembali ke perasaanya yang dahulu dan berpaling padanya.


Pantas saja Kenza susah melupakannya, dia lebih tinggi dari aku. Dan lebih tampan, hemm kenapa jadi gak pede gini sih, batin Rio


"Hallo Kenza, I'm Marilyn nice to meet you," sapa Marilyn yang dibalas senyuman serta sapaan balik. Kemudian Mereka beralih ke sang pengantin.


Oscar dan Barra saling berpelukan. Bagaikan saudara jauh yang lama tidak bertemu. Sedekat itulah persahabatan mereka.


"Mas kamu kenapa kok mukanya jutek gitu, hemm jangan cemburu ya," bisik Kenza yang tahu dengan perubahan wajah Rio yang sedari tadi tersenyum tetapi tiba-tiba menjadi kecut


"Enggak kok biasa aja,"


Kenza langsung mengecup pipi Rio, tidak peduli dengan tamu undangan, asalkan suaminya itu kembali tersenyum.


"I love you, too," balas Rio dan senyumnya kembali di dapatkan Kenza.


Virus bertemu dengan Wasabi, keduanya berpelukan sama halnya seperti Barra dan Oscar. Mereka juga bersahabat.


"Bagaimana apa pelaku teror itu sudah ketemu?" tanya Wasabi


"Ya sudah, rupanya pelaku teror itu ada hubungannya dengan diriku. Dia menargetkan Oscar karena aku pernah mencelakai anaknya,"


"Kalau begitu kau juga dalam masalah, polisi pasti akan menyelidiki mu,"


"Itu tidak akan terjadi, polisi dan pelaku teror itu mengira Virus telah tiada," ujar Virus


"Oh ya aku lupa kalau kau menghilangkan jejak dengan memalsukan kematian mu,"


"Haha, Ya karena itulah kasus lama tidak dibuka lagi. Hey sudah lama kita tidak berfoto," Virus mengambil kamera ponselnya dan mereka berfoto bersama.


.


.


.


Usai pesta, Barra langsung membawa Cassie ke rumahnya. Rio tidak menyediakan kamar pengantin di rumahnya, karena memang dia berniat agar Cassie langsung dibawa oleh suaminya.


"Rumah kamu besar banget Mas, tapi yang nempatin cuma kamu doang? Apa gak kebesaran?" tanya Cassie begitu sampai di rumah Barra.


Gadis itu menyapu segala ruangan dengan dekorasi rumah yang serba klasik.


"Sekarang kan ada kamu sayang. Ngomong-ngomong aku kangen kamu panggil aku dengan sebutan Om Bewok," Barra memeluk Cassie dari belakang dan berbicara dekat dengan telinga wanita itu. Cara bicara Barra juga sudah menyesuaikan cara bicara Cassie 'Aku-kamu'.

__ADS_1


Cassie berbalik menyentuh tengkuk Barra dan berucap, "Sekarang kan aku istri kamu, masak dipanggil om sih. Mas Bewok ehhee,"


Keduanya terkekeh lalu saling memandang satu sama lain menyadari jika di rumah itu hanya ada mereka berdua.


Barra mengecup Cassie dengan lembut. Wanita itu memejamkan matanya merasakan sesuatu menempel di kedua belah bibirnya.


Barra lalu mencoba menggerakkan bibirnya, sejak di mobil tadi merasai bibir Cassie entah mengapa ia jadi ingin terus mencoba nya seakan bibir itu mengandung nikotin yang membuatnya kecanduan.


Cassie membuka matanya saat Barra melepaskan kecupannya. Ia pun langsung menyembunyikan wajahnya di dada Barra, sedikit gugup dan malu. Mulai sekarang ia harus terbiasa dengan perlakuan lembut yang mana berhasil membuat hati nya menghangat.


Barra menggendong Cassie menuju kamar pengantin yang telah ia siapkan. Cassie dan Barra saling memandang padahal dihari masing-masing jantung keduanya berdebar.


Pria itu mendudukkan Cassie di ranjangnya yang berukuran king size.


"Sayang, kamu pasti capek. Sekarang mandi, ganti baju terus istirahat ya,"


"Gituannya kapan?" tanya Cassie polos membuat Barra terkekeh geli


"Emangnya kamu gak capek? Mau langsung? Hemm?" tanya Barra memastikan membuat wajah Cassie merona merah.


"Hehe ya capek sih. Yaudah Cassie hapus make up dulu ya. Berat nih," Cassie merasa sedikit berat konde yang ia kenakan. Padahal Kenza memilihkan gaya modern yang tidak terlalu banyak aksesoris riasan.


Sementara Cassie melepaskan aksesoris dan menghapus riasan, Barra mandi karena merasa gerah. Butuh waktu berjam-jam menghapus riasan yang super tebal dan anti air.


"Susah ya hapusnya?" tanya Barra yang melihat Cassie masih menghapus riasan diwajahnya. Sementara aksesoris di rambutnya sudah terlepas.


"Iya nih, susah,"


"Mandi aja sana, nanti pasti hilang. Apa mau di mandiin?" ucap Barra mendekat seraya membungkukkan badan.


Pria itu menurunkan resleting belakang gaun Cassie. Barra tampak gugup ketika melihat punggung bagian atas , pelan pelan ia beranikan diri untuk membuka resleting Cassie memperlihatkan punggung yang mulus yang begitu menggoda iman. Cassie sendiri tampak gugup ketika merasakan hawa dingin menerpa punggungnya.


"Yaudah aku mandi dulu," pamit Cassie yang beranjak berdiri lalu ingin berjalan menuju kamar mandi.


Tetapi Barra malah memeluknya dari belakang. Seakan pria itu sudah tidak kuat menantikannya.


Bibir Barra memberikan kecupan kecupan kecil di punggung dan leher belakang Cassie membuat Cassie mengeluarkan lenguhan kecil dari bibir manis nya.


"Mas... Barrahh....." panggil Cassie menggeliatkan tubuhnya yang terasa terkena sengatan listrik.


"Kamu menggoda iman ku Cass, gak usah mandi ya? masih wangi kok," pinta Barra


Cassie membalikkan badan, tangannya terulur untuk menyentuh tengkuk suaminya, ia dengan berani mencium bibir Barra duluan. Membuat Barra akhirnya terbuai dan membalas ciuman istrinya tak kalah menggebu.


Cassie melepaskan cumbuannya, Ia menyentuh otot perut Barra yang terlihat. Pria itu hanya mengenakan handuk di bagian bawah. Sentuhan Cassie membuat Barra tak kuasa menahan hasratnya.


Dengan nakal Cassie memajukan langkahnya mendorong Barra hingga tepi ranjang dengan tatapan menggoda sambil menggigit bibirnya. Barra meraih pinggang Cassie dan menjatuhkan wanita itu duduk ke atas ranjang dengan pelan.


Cassie merebahkan dirinya, Barra membelai rambut istrinya seraya mengecup kening, hidungnya, pipinya, lalu bibirnya dan leher jenjangnya. Sepanjang kecupan-kecupan kecil itu Cassie memejamkan matanya menikmati rincian sentuhan yang menggelora jiwanya.


Cassie membuka matanya pelan, bisa ia lihat wajah Barra yang dipenuhi kabut gairah.


"Aku mulai ya sayang," tanya Barra meminta ijin. Cassie menganggukkan kepala memberikan ijin sepenuhnya.


Barra memulai aksinya perlahan dengan sentuhan, kecupan dan belaian lembut sembari menurunkan gaun indah itu dari tubuhnya.


"Maaf Cassie, ini sedikit sakit. Tahan ya..." bisik Barra saat ingin memasukkan miliknya


Cassie mengigit bibirnya ketika merasakan sesuatu dipaksa masuk dibawah sana, rasanya benar-benar sakit. Tetapi Cassie menahannya demi menuntaskan hasrat keduanya dan akhirnya sore ini ia berhasil memberikan sesuatu yang ia jaga selama bertahun-tahun lamanya, Cassie senang karena Barra yang pertama baginya. Dan Cassie yang pertama untuk Barra.


"Terimakasih," bisik Barra ditelinga Cassie dengan mesra.


TAMAT


.


.

__ADS_1


TERIMAKASIH ATAS DUKUNGANNYA 🙏


NANTIKAN KARYA BARU VIRUS💋


__ADS_2