
Usai rapat diskusi, Barra memanggil Hera ke ruangannya. Pria itu meninggalkan ruangan rapat setelah para kliennya pulang. Hera menyusulnya dari belakang dengan langkahnya yang kecil sehingga ada jarak antara langkah Barra dan Hera.
Barra membuka kancing jasnya saat duduk. Kemudian ia menyuruh Hera duduk setelah wanita itu memasuki ruangannya.
"Duduk lah," titah Barra
"Hemm ada apa ya?" tanya Hera sambil duduk
"Kamu saya pindahkan ke cabang aja ya, bagaimana kalau cabang yang ada di Bandung?" ucap Barra
"Loh kenapa? Apa kinerja aku buruk?" tanya Hera
"Enggak sih, menurut Meyi kamu ada peningkatan. Tapi di kantor ini sudah terisi posisi itu. Akan tidak maksimal jika menggunakan dua karyawan," alasan Barra yang sebenarnya tidak berpengaruh. Malah menurutnya lebih bagus tetapi seperti sebelumnya banyak yang menentang keberadaan Hera di kantor itu.
"Di cabang nanti kamu akan menggantikan posisi Novi yang sebentar lagi cuti melahirkan. Jadi sebelum dia cuti, kamu pelajari semuanya sampai kamu terbiasa," jelas Barra
"Baiklah, saya akan menyanggupinya. Tetapi soal tempat tinggal bagaimana ya?"
"Apa kamu benar-benar kehabisan uang? Sampai kamu rela naik bus, jalan kaki. Saya juga lihat kamu makan nasi bungkus warteg,"
"Rupanya kamu diam-diam perhatiin aku ya?" tanya Hera dengan tersipu malu
Barra terkekeh, "Jangan GeEr ya, Saya merhatiin semua karyawan Saya. Kan ada CCTV,"
"Iya, aku kehabisan uang. Sepulang dari London itu, keluarga mas Firman minta jatah warisan juga termasuk rumah yang aku tempati. Mereka minta dibagi rata padahal itu udah menjadi hak aku. Aku bisa apa, aku ga punya pengacara. Aku mengalah dan sekarang rumah itu dalam proses dijual. Mobilku juga diambil rentenir, aku pinjam uang sama teman aku yang ternyata seorang rentenir. Jadi aku bersyukur banget waktu kamu terima aku kerja," cerita Hera matanya mulai memerah tetapi tidak menangis. Ia menahannya.
"Kalau mau nangis, jangan di tahan," Barra mengambilkan kotak tisu dan menaruhnya didepan Hera
"Hiks....," Menangis lah si Hera dengan sesegukan.
Sroot
Hera membersihkan ingusnya dengan tisu hingga mengeluarkan bunyi, membuat Barra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena bingung harus ngapain
"Udah dong nangisnya, nanti didengar karyawan lain dikira saya ngapa-ngapain kamu,"
"Kenapa sih kamu itu yang paling pengertian, bikin aku susah move on,"
"Kan sekarang ada Andy, bukannya kamu itu calon istrinya?" tanya Barra
"Sebenarnya, Andy yang ngejar-ngejar aku dan ngaku-ngaku sama semua orang kalau aku itu calon istrinya," Hera membuka rahasia Andy.
Barra terlihat mulai kesal karena Andy membohongi dirinya. Hera bisa membaca raut wajahnya.
"Jangan marah sama dia, dia cuma mau bantu aku cari kerjaan," Bela Hera
"Tuh kurang apa lagi si Andy, kalau bukan karena dia, mungkin kamu masih panas-panasan cari kerja diluar,"
"Aku gak mau gagal lagi,"
__ADS_1
"Semua orang pasti begitu, tidak ada yang menginginkan kegagalan. Apa karena kamu belum mencintainya? Jatuh cinta itu mudah, yang susah itu memperjuangkannya untuk tetap saling mencintai," Barra terdiam mengambil napas
"Tetapi saling cinta saja bukan hal satu-satunya. Kamu dan dia juga harus memiliki visi, misi, impian yang selaras. Katakan itu sebelum kamu menjalin hubungan dengannya. Dan yang paling penting. Kebahagiaanmu tidak seharusnya bergantung pada org lain. Kamu akan sering kecewa, jika kamu berpikir bahwa suami lah yang harus membuatmu bahagia. Selama ini kamu mencari kebahagiaan kan? Jadi belajar dari kegagalan kita saat itu," ucap Barra yang menekankan kata 'KITA' langsung menusuk hatinya.
Kenapa kata-kata Barra benar? Kenapa Barra sangat bijak setelah perceraian batin Hera yang terdiam.
"Saya kenal Andy sangat lama, Saya tahu karakternya. Dia belum pernah berpacaran. Mungkin kamu adalah cinta pertamanya. Meski usianya muda, tetapi dia bisa diandalkan dan sangat berambisi. Dan orang yang berambisi akan mempertahankan rumah tangganya sebaik mungkin,"
"Terimakasih atas nasihat nya, Iya... Kamu benar, dia sangat berambisi, tapi mudah marah masih labil," Hera tersenyum
"Saya akan meminjam uang dari kantor, untuk sewa rumah di Bandung. Dan ada tambahan sedikit kebutuhan pergunakan yang baik ya,"
Barra memberikan kwitansi peminjaman disertai tanda tangannya dan Hera bisa mengambil uang itu di bagian keuangan.
"Sekali lagi, terimakasih," Hera menangis lagi karena terharu.
Kesalahan fatalnya adalah menyia-nyiakan orang yang pengertian, dan yang baik seperti Barra.
Olive dan Kenza menguping dari balik pintu ruangan Barra. Mereka bingung kenapa ada suara tangisan dan kenapa mereka berdua didalam sangat lama. Tetapi begitu Hera keluar dari ruangan dan mengagetkan mereka berdua. Kenza pura-pura membetulkan pot tanaman yang terletak di sudut ruangan lalu memindahkannya.
"Haduh tanamannya banyak ulatnya nih, harus diganti," ujar Kenza
Sementara Olive pura-pura membersihkan kaca jendela dengan lengan Blazernya.
"OB nya gak bersih ni, masih kotor kacanya,"
Hera melihat tingkah aneh kedua orang itu lalu menggelengkan kepala tanda tidak percaya, dia tahu pasti Kenza dan Olive sedang menguping pembicaraan.
"Yes akhirnya kalagondang pergi juga," Kenza kesenangan sambil berjoget-joger sendirian lalu pergi keruangannya
"Hey, Mbak Kenza....tanamannya balikin ke tempatnya dong," panggil Olive
"Itukan kerjaan kamu, kamu aja ya. Saya capek hehe," Kenza tertawa bahagia
.
.
.
Pukul dua siang, Barra mengambil ponsel lalu menghidupkannya.
Dan banyak notifikasi pesan dari ponselnya yang mengatakan
"Om Bewok Jahat!!!"
"Katanya setia, mana buktinya,"
"Katanya kangen tapi dari kemarin gak ada tuh pesan dari Om,"
__ADS_1
"Ok Fix, Aku marah!!"
"Om!!!"
"Kalau ga ada pesan juga aku beneran marah!"
"Ihh nyebelin, pokoknya aku mau Om Barra ke London secepatnya. Titik! gak pake koma!"
Barra mengacak-acak rambutnya sendiri ketika membaca pesan bejibun dari Cassie
"Sabar Barra, hadapi bocilmu dengan tenang," gumam Barra
Barra menelepon, di London pukul tujuh sekarang. Sambungan telepon terdengar. Tetapi Cassie tidak juga mengangkatnya.
Sementara di London
"Emang enak dicuekin. Terus aja telepon. Cassie mau lihat seberapa jauh om ngejar aku. Sebel!!" gumam Cassie yang baru saja mandi dan hanya mengenakan handuk.
"Tapi kangen juga kalau ga diangkat. Kalau om Barra beneran ninggalin aku gimana. Angkat ajalah,"
Dasar Bocil marahnya cuma bentar.
Klik
Cassie mengangkatnya kemudian mengalihkan panggilan telepon menjadi Video Call.
"Hallo sayangku," ucap Cassie menggoda kekasihnya itu dan menurunkan sedikit handuk yang berbentuk piyamanya
"Astaga, Cassie...tutup yang benar," ucap Barra
"Kenapa sayang, kurang lebar ga?"
"Cassie saya ga mau lihat,"
"Hilih sok alim, iya-iya aku benerin nih handuknya.. udah," ucap Cassie
"Seksi gak?" tanya gadis itu lagi
"Iya seksi. Tapi jangan share foto kamu yang kebuka di medsos. Mengundang tau gak,"
"Mengundang iman ya hehe..Abisnya om sih ketemuan sama Hera, aku di anggurin,"
"Saya gak ketemu sama dia, sekarang Hera kerja di perusahaan ini. Tapi nanti ditempatkan di Bandung," jelas Barra
"Maaf ya sayang, kemarin itu lagi tangani beberapa masalah kantor. Trus waktu hubungin kamu balik, hape kamu yang gak aktif. Abis itu ketiduran dikantor sampe bangun kesiangan. Ponsel saya juga lowbat, jangan marah ya sayang," jelas Barra
"Ya gak marah tapi kesel, pokoknya aku mau Om Bewok ke sini secepatnya, kalau gak aku gak mau angkat telepon lagi, udah dulu ya sayang bye....," Cassie mematikan ponselnya sengaja biar Barra langsung menuju ke London.
__ADS_1
Dia pikir Jakarta London itu cuma lima langkah? Astaga Barra pun kapok karena sudah bikin bocilnya ngambek.