
"Ayo Cassie nanti kita terlambat!" teriak Dina yang sudah siap ke pesta ulang tahun Bram. Wanita itu sudah berada di dalam mobil.
"Mama tuh kecepetan, santai aja kenapa sih? Kan acaranya malem!" Cassie masih memakai sepatu high heelsnya di teras rumahnya.
"Pak Wibi tuh nyuruh kita datang sore. Takutnya nanti dia gak bisa nyapa kita karena banyak tamu," alasan Dina padahal disana Cassie akan dirias lagi.
Kebanyakan riasan ntar menor.
Halah bilang aja Mama mau cari muka, batin Cassie
Cassie pun naik ke dalam mobil, mengeluarkan ponsel barunya dan langsung mengirim pesan kepada yayang Bewoknya.
"Om Bewok cayank, aku ke rumah Bram dulu ya. Sama Mama dan Papa tiri ku. Bram ulang tahun, acaranya malam tapi Mama nyuruh datang sore ini," Begitulah isi pesan Cassie
"Jam berapa ulang tahunnya?" tanya Barra lewat ponselnya.
Pertanyaan yang singkat, karena Cassie memberitahunya dadakan jadinya kesel tuh om Bewok.
"Hmm jam 7 malam sih, Om Bewok kalau pulang hati-hati ya? Jangan ngebut," balas Cassie
Barra yang membaca pesan Cassie langsung beranjak mandi tanpa membalas pesannya terlebih dahulu. Dia sedari tadi di rumahnya sendiri, mempersiapkan bahan untuk presentasinya dihadapan papa camer.
Visual Rumah Barra
Barra terburu-buru berpakaian, ia bahkan mandi dengan ala kadarnya yang penting sabun berbusa tanpa menggosok nya berjam-jam. Saking takutnya, kalau Cassie akan di jodohkan dengan Bram. Hatinya mengatakan seperti itu
Barra memiliki rumah sendiri yang terpisah dari rumah orang tuanya. Pria itu sangat mapan sekarang. Akses masuk dari pintu gerbang ke rumahnya harus melewati halaman yang luas.
.
.
.
Sesampainya di kediaman Wibi Wicaksono, rumah masih terlihat sepi. Tentu saja karena acaranya malam, tetapi Dina sudah datang tepat pukul empat sore kala itu.
"Bu Dina, Pak Jovan, ayo masuk-masuk....," Wibi menyambut kedatangan Dina dan suami barunya.
Lalu matanya beralih ke seorang wanita muda yang sangat cantik.
"Wah wah...ini ya yang namanya Cassie...Hallo Cassie," sapa Wibi
__ADS_1
Sungguh cantik sekali, ini sih keturunan cantik dari ibunya. Cocok sekali dengan Bram, pantas saja anak itu mengejarnya sampai London batin Wibi.
"Ya Hallo juga Om," Cassie balas menyapa sembari menyalaminya. Hanya menyalami saja tidak sampai mencium punggung tangan. Karena dia tidak begitu dekat dan juga biasanya orang kaya macam pak Wibi gaya hidupnya kebarat-baratan.
Setelah basa-basi, Cassie dan Ibunya masuk ke sebuah ruangan. Cassie sampai bingung dibuatnya, untuk apa dan mau apa?
"Sini sayang duduk ya, trus ganti baju kamu sama ini," ucap Dina
"Untuk apa ganti, kan baju ini juga baru dibeli Mama,"
"Sayang, Mama tuh gak tahu kalau pak Wibi sudah menyiapkan kamu gaun. Udah pake aja, Mama gak enak nih kalau kamu gak pake gaun yang udah di sediain pak Wibi," jelas Mamanya.
"Ihh rempong amat sih," Tapi Cassie tetap nurut juga.
Ia langsung memakai gaun itu dibantu oleh sang Mama. Tak berapa lama ada yang mengetuk pintunya. Dina membukanya setelah Cassie berganti gaun.
"Oh masuk mbak, silahkan," Dina mempersilahkan dua perias yang baru saja datang untuk masuk.
"Cassie duduk disitu gih. Kamu mau dirias,"
Ini semakin aneh buat Cassie.
"Ma sebenarnya ada apa sih? Yanga ulang tahun itu Bram, bukan aku!"
"Jangan bilang ini acara perjodohan ya Ma?" ucap Cassie dengan sedikit menerka
"Mbak duduk dulu yuk, kita rias dulu ya...Ayok mbak," ucap salah mbak perias.
Lutut Cassie melemas, Mamanya tak kunjung jawab.
"Mama jahat!" pekiknya dengan mata memerah dan mulai menangis.
"Aduh mbak jangan nangis dong!" seru perias yang bertubuh tinggi
"Ini apaan sih kalian! Aku gak mau di make up!" teriak Cassie
Mama Dina langsung mendekati Cassie dan berbisik.
"Cassie jangan bikin Mama malu ya! Ini cuma acara pertunangan. Bukan pernikahan!" Dina melototkan mata dan berbicara dengan merapatkan giginya.
Cassie menatap Mamanya dengan sinis.
"Kalau aku gak dengerin nasihat Mas Barra, aku udah bikin malu Mama sekarang! Mama gak tahu apa? Bram itu jahat!"
__ADS_1
Cassie ingin sekali mengungkapkan kejahatan Bram tapi dia tidak membawa bukti saat Cassie dirawat. Juga Mbak Markonah saat ini tidak ikut bersamanya. Jika Cassie hanya bicara, Dina tidak akan percaya begitu saja
"Wajar anak seumuran kamu itu jahat dan masih labil, apalagi Bram itu laki-laki. Udah pokoknya Mama mau kamu nurutin apa kata Mama. Hanya pertunangan aja setelah itu kalian bisa saling mengenal satu sama lain sebelum ke jenjang pernikahan!"
Lalu Dina menyuruh kedua perias itu untuk merias Cassie.
Perias itu sampai kalang kabut, masalahnya Cassie terus meneteskan air mata. Untung saja bedaknya mahal. Anti air dan tidak langsung luntur. So gak ada tuh maskara yang luntur kayak Kunti.
.
.
.
Dina keluar dari ruangan itu, dia juga mengunci Cassie yang sedang di rias dari luar. Melihat sudah tak ada Mamanya, Cassie beranjak dari duduknya.
"Eh Mbak, tunggu dong kan belom selesai," ucap perias yang bertubuh pendek .
Cassie tak menghiraukan panggilan si perias itu, ia berlari menuju jendela, tetapi jendela itu berteralis. Lalu Cassie berlari kecil menuju pintu kamar. Terkunci.
Ia segera menghubungi Barra, panggilan pertama Barra tidak segera mengangkatnya karena saat itu lampu sudah hijau dan dia harus menyetir dahulu.
Lalu panggilan kedua saat Barra mengangkat ponselnya, Dina masuk ke kamar. Cassie terkejut hingga menjatuhkan ponselnya.
"Hallo, Cassie," ucap Barra dari sambungan telepon
"Telepon siapa kamu?" tanya Dina
Cassie tidak menjawab, Dia segera mengambil ponselnya yang terjatuh dan berkata, "Om cepet kesini om, Cassie mau di tunangin sama Bram. Om bilang sama Mama kalau Bram itu jahat! Aku gak mau di tunangin sama....,"
Tut Tut Tut Tut
Dina merampas ponsel Cassie
"Percuma kamu telepon Barra, pihak keamanan tidak akan membiarkan dia masuk karena Mama baru saja memberitahukan kepada penjaga keamanan untuk menghentikan pria brewokan itu," ucap Dina
"Papa dan Om Jo juga brewokan, kenapa seolah-olah mama benci sama cowok brewokan sih," tanya Cassie sambil sesegukan
Sementara kedua perias itu menahan tawa
"Kenapa kalian? Mau ketawa? Ayo rias lagi," perintah Dina
Cassie hanya bisa menunggu, jika pun lari dari tempat itu sudah pasti dia akan cepat tertangkap karena banyak penjaga di luar rumah yang berdiri di setiap sisi bagian.
__ADS_1
"Gak bisa di biarin ini, Bu Dina harus tahu, orang macam apa Bram? Untung saja surat lab Cassie, ada di koper belakang dan belum diturunkan dari mobil," gumam Barra