Promiscuity After

Promiscuity After
Just a Dream


__ADS_3

Oscar menghubungi petugas kepolisian dan masalah itu akan segera mereka tangani. Karena kasus teror itu, Oscar menutup kantornya untuk sementara waktu.


Pria itu kembali pulang saat sore menjelang. Ia disapa oleh anjing kesayangan istrinya, Marilyn.


"Hai Bruto," Sapa Oscar


Ia berjongkok dan menggaruk-garukkan jemarinya di leher si anjing. Lalu Oscar pun berdiri dan masuk kedalam rumah di ikuti sang anjing.


"Lyn, sayang....Aku pulang," ucap Oscar sedikit berteriak


Rumah terlihat sepi, bukankan istrinya ada di dalam lalu kenapa tak ada suara sama sekali?


Oscar pun pergi ke kamarnya, sosok istrinya tak ada di sana. Ia beralih ke ketempat lain, di kamar mandi, dapur, ruang laundry, ruang olahraga, garasi mobil dan diatas atap.


"Kemana Marilyn?" gumam Oscar sambil menelepon istrinya.


Terdengar bunyi ponsel Marilyn di dalam kamarnya. Oscar segera membuka pintu kamar tapi suara deringan itu mati. Ketika ia mencoba menghubunginya kembali, sambungan telepon tidak aktif.


Ada dua bagian yang belum Oscar periksa, di bawah kolong ranjangnya yang tertutup seprei dan lemari. Oscar pun berjalan menuju tempat tidurnya, ia menarik selimut dan menunduk untuk melihat ke bawah kolong. Nihil.


Oscar lalu memeriksa lemari bajunya. Ia mendekat lalu mendorong pintu lemari pakaiannya.


Dan


"Surprise....," teriak Marilyn sedikit berkeringat di dalam lemari.


Wanita yang sedang hamil itu membawa kue tart berwarna putih dan coklat yang menghiasinya. Lalu ada beberapa lilin batang berukuran kecil-kecil di tengahnya.


"Oh My God," Oscar terkejut. Ia lupa akan hari ulang tahunnya.


"Happy birthday to My husband, happy birthday To You," Marilyn bernyanyi kecil sambil menyalakan lilin.


"Thanks honey," Oscar mengecup bibir istrinya.


"Tiup dan buat permohonan," titah Marilyn


Oscar meniup lilinnya lalu memejamkan matanya membuat make a wish. Ia berharap keluarganya akan bahagia, selalu rukun, harmonis, sehat dan Keduanya ibu dan bayinya sehat, juga semoga Marilyn melahirkan dengan lancar.


Itulah keinginan Oscar untuk keluarga kecilnya.


"Yeeeay... sekarang potong kuenya ya," Marilyn memberikan pisau dengan mata pisau mengarah kearah Oscar.


"Oh Sorry," Marilyn membalikkan namun ia tidak memberikan pisau biru melainkan menumpahkan kue ulang tahun itu ke wajah Oscar.


"Oh tidak, sayang kau mengerjai ku ya haha," Oscar mengelap wajahnya sambil tertawa.


Ia membersihkan bagian mata agar bisa melihat, tetapi ia tidak melihat senyum di mata Marilyn. Wanita itu memasang muka datar dan terlihat penuh dendam. Lalu ia mengangkat pisau setinggi kepalanya. Mata pisau mengarah ke arah Oscar.


"Kau kira mudah memaafkanmu hah!? Kau mengkhianati cintaku," Pekik Marilyn sembari membelalakkan mata penuh kemarahan.

__ADS_1


Oscar terkejut ia pun mengangkat kedua tangannya ke depan.


"Lyn, ka-kau mau apa? Kenapa arah mata pisau itu mengarah kepada ku?"


Marilyn diam, tetapi dia berjalan mendekati Oscar seperti ingin membunuh suaminya.


"Aku ingin kau mati! Hiiiiyaaa...." Marilyn mengayunkan pisau itu ke arah Oscar.


Oscar pun berlari ke arah tempat tidur dan mengambil bantal sebagai tameng.


Scraaatch


Pisau itu menembus bantal dan tepat berada di depan mata Oscar hingga pria itu membeku. Untung saja tidak mengenai dirinya.


Lalu Oscar berlari ke arah pintu kamar. Saat ia menggerakkan daun pintu, pintu itu tidak dapat terbuka.


"Aneh tadi aku tidak menguncinya, dan dimana kunci yang biasanya nempel di pintu itu," gumam Oscar.


"Kau mencari ini hahahah," tawa Marilyn


Oscar menoleh, melihat Marilyn memegang kunci itu dengan mengayunkan kunci di tangan kirinya, memperlihatkannya pada Oscar seraya tertawa.


"Kali ini kau tidak akan bisa lari, Aku ingin membunuhmu. Aku tidak menyukai pengkhianatan!" ucap Marilyn.


"Aku tidak mengkhianati mu, itu hanya sekedar ciuman dan aku tidak melanjutkan hubunganku dengan Kenza. Aku sudah mengakhirinya. Karena pernikahan kita sudah di berkati. Tolong Marilyn kau jangan seperti ini," Ucap Oscar ketakutan


Jendela kamarnya terbuka lebar, Marilyn mendekat dan mau menusuknya lagi. Tetapi Oscar berlari dan memanjat jendela. Lalu pria itu keluar melewati jendela, namun sesuatu menariknya. Marilyn memegang celananya dari belakang menariknya hingga pria itu terjatuh ke lantai.


Marilyn duduk diatasnya lalu menusuk nya. Pisau itu menancap di dadanya menembus jantung, ulu hati dan segalanya dan terakhir Marilyn menggorok leher Oscar.


Oscar tercekat, kehabisan napas.


Ia pun terbangun.


Oscar melihat seluruh tubuhnya yang tadi bergelimang darah. Kini bersih dengan pakaian yang sama. Lalu ia menatap ke sekeliling. Bukan rumah, melainkan kantornya.


Ia juga masih melihat bekal makanan yang dibawa istrinya masih tertutup rapat dan belum tersentuh.


"Rupanya hanya mimpi,"


Oscar mengambil tisu di depannya, di atas meja. Kemudian mengusap wajahnya yang bermandikan keringat. Setelah itu ia beranjak dari sofa dan mengambil air minum dari galon yang berada di sudut ruangannya. Lalu meneguknya sampai habis.


"Mimpi yang buruk," ucapnya sambil menatap jendela yang terbuka karena bola.


"Kaca ini tebal, tetapi kenapa hanya di lempar bola saja dia bisa pecah?" pikir Oscar sambil memicingkan mata melihat lubang kaca.


Hari sudah sore, Oscar bergegas pulang tetapi ia melihat kotak makan masih utuh. Akhirnya ia pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang. Biasanya pria itu pulang hingga malam hari. Tetapi karena ada insiden yang berbau ancaman karyawan kantor pun di pulangkan lebih awal.


.

__ADS_1


.


.


Oscar sudah berada di depan rumahnya lalu anjingnya menyapanya, meminta untuk di garukkan pada bagian leher. Dan setelah ke dalam, keadaan rumah itu sangat sepi.


"Kenapa pemandangan sangat mirip seperti apa yang ada di mimpi ku tadi, semoga saja tidak terjadi," ucap Oscar.


Ia langsung menelpon nomer ponsel istrinya, tanpa mencarinya ke sana- kemari. Dan ponsel itu berdering di dalam kamar.


Oscar masuk kedalam kamar untuk memeriksa, rupanya ponsel istrinya terus berdering dan terletak di meja nakas samping tempat tidur.


Oscar melihat lemari pakaiannya, ia harus membuktikan apakah mimpinya itu benar atau tidak.


Dengan perasaan was-was, Oscar langsung tertuju pada lemari pakaian. Sebelum membukanya, ia mengambil kunci pintu kamar terlebih dahulu. Sebagai jaga-jaga jika saja mimpinya itu adalah nyata.


Oscar mulai menggeser pintu lemari pakaiannya.


Dan.....


Tidak ada siapa-siapa.


Ceklek


Terdengar suara pintu ruang tamu di buka, lalu di susul suara gonggongan anjing.


Oscar keluar dari kamar, Marilyn baru pulang dengan membawa kotak dari bungkusan paper bag. Anjingnya terus mengikuti Marilyn, mengendus bungkusan yang dibawanya.


"Cepat sekali pulangnya?" Sapa Marilyn sambil menutup pintu ruang tamu.


"Ya, kantor tutup sementara karena teror tadi siang. Dari mana hemm?" Oscar memeluk Marilyn dan mencium bibirnya


"Makanan Bruto habis jadi aku membelinya di toko depan,"


"Oh," ucap Oscar lemah


"Kenapa? Apa yang terjadi? Kamu pucat, Ayo katakan padaku," Marilyn memegang wajah Oscar dengan kedua tangannya agar pria itu menatap matanya.


"Aku mimpi buruk,"


Setelah Oscar menceritakan mimpinya, Marilyn terkekeh.


"Haha hari ulang tahunmu masih beberapa hari lagi sayang. Dan aku tidak sejahat itu, Oscar... aku menyayangimu mana mungkin aku melakukan hal itu. Dan lagi aku tidak ingin anak dalam kandunganku ini tidak memiliki ayah,"


"Ya aku takut, jujur...Lyn, kau memaafkan aku kan?"


"Dengar sayang, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Apapun kekuranganmu, aku mencintaimu. Soal perasaanmu pada Kenza, itu hanya soal waktu. Wajar kau sulit melupakannya karena dia teman sedari kecil. Aku memahaminya, yang terpenting Oscar ku ini telah berani mengungkapkan kejujuran dan aku menghargai itu. Dan Yang lebih penting lagi, terimakasih sudah memperjuangkan pernikahan ini,"


Kata-kata Marilyn selalu menjadi penyemangat Oscar.

__ADS_1


__ADS_2